Bagaimana Wabah Virus Corona Berubah Jadi Politis di Brasil

Kompas.com - 13/06/2020, 23:33 WIB
Seorang pasien yang terinfeksi virus corona berbicara dengan keluarganya melalui panggilan video di rumah sakit lapangan yang didirikan di gim Santo Andre, Sao Paulo, Brasil, pada 11 Mei 2020. AFP PHOTO/MIGUEL SCHINCARIOLSeorang pasien yang terinfeksi virus corona berbicara dengan keluarganya melalui panggilan video di rumah sakit lapangan yang didirikan di gim Santo Andre, Sao Paulo, Brasil, pada 11 Mei 2020.

BRASILIA, KOMPAS.com - Penanganan pandemi Covid-19 di Brasil telah berubah menjadi sangat politis.

Negara ini dengan cepat naik di daftar negara-negara dengan jumlah kasus tertinggi dan jumlah kematiannya, sebanyak 41.828, kini menjadi tertinggi kedua di dunia.

Amerika mengambil porsi sekitar setengah dari jumlah kasus secara global. Brasil, negara terbesar di Amerika Latin, sekarang menjadi pusat penyebaran wabah.

Baca juga: Kini, Brasil Hanya Akan Laporkan Kasus Virus Corona Selama 24 Jam Terakhir

Namun pemimpinnya tampaknya masih sangat sedikit peduli - atau setidaknya itu kesan yang dengan senang hati ia gambarkan.

Sejak awal, Presiden Jair Bolsonaro meremehkan virus ini. Di awal krisis, dia tampil di TV beberapa kali, menyebutnya sebagai flu kecil dan menuduh media histeria akan wabah yang terjadi.

Dia belum menjadwalkan pidato televisi untuk sementara waktu, mungkin tidak ingin ditenggelamkan oleh hiruk-pikuk pengunjuk rasa di balkon mereka yang berniat membuat kemarahan mereka atas kepemimpinannya terdengar.

Tetapi dengan tidak adanya siaran publik, tampilan ketidaksopanan publik yang dia tunjukkan terus berlanjut, bahkan ketika rakyatnya menguburkan mayat mereka di kuburan massal di Amazon dan rumah sakit di beberapa wilayah hampir kolaps.

Ketika ditanya tentang angka kematian akibat virus corona pada April silam, Bolsonaro menepisnya dengan mengatakan "Saya bukan penggali kubur".

Sekitar seminggu kemudian, dia ditanyai komentar ketika Brasil melampaui jumlah kematian China, dan dia menjawab, "Terus kenapa?".

Baca juga: Setelah Trump, Presiden Brasil Ancam Keluar dari WHO

Ekonomi lebih penting ketimbang kesehatan

Pesannya tetap sama selama ini - bahwa gubernur negara bagian telah gegabah dalam memperkenalkan langkah-langkah karantina dan efek dominonya terhadap ekonomi akan lebih buruk daripada efek dari virus itu sendiri.

Halaman:
Baca tentang

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X