Berkata Rasial Saat Jumpa Pers Virus Corona, Trump Didebat Wartawan

Kompas.com - 20/03/2020, 15:13 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump didampingi Wakil Presiden Mike Pence ketika memberikan keterangan pers mengenai virus corona di Gedung Putih, Washington, pada 17 Maret 2020. AFP/GETTY IMAGES NORTH AMERICA/Drew AngererPresiden Amerika Serikat Donald Trump didampingi Wakil Presiden Mike Pence ketika memberikan keterangan pers mengenai virus corona di Gedung Putih, Washington, pada 17 Maret 2020.

WASHINGTON, D.C, KOMPAS.com - Pada konferensi pers tentang virus corona di Gedung Putih, Presiden Donald Trump berulang kali mengatakan, Covid-19 alias virus corona dengan istilah "Chinese virus" atau virus China

Wartawan yang hadir kerap mempertanyakan terminologi tersebut karena dianggap memicu ketegangan rasial di AS.

Dilansir dari video yang diunggah Reuters, CNA, dan CGTN America, Presiden Trump kerap menampik bahwa istilah virus China sama sekali tidak menyentuh wilayah rasial.

Keterangan pers yang dilakukan Presiden Trump di Gedung Putih pada Kamis (19/3/2020) berulang kali mendapat interupsi pertanyaan dari wartawan.

Baca juga: Hotel Bintang Empat di Madrid Disulap Jadi Fasilitas Medis untuk Tangani Virus Corona

Trump dipertanyakan tentang penggunaan terminologi virus China dan bukan menggunakan Covid-19 seperti yang dianjurkan WHO. 

Seorang wartawan mengatakan bahwa ada puluhan laporan terkait insiden bias terhadap orang Amerika keturunan China di AS.

Wartawan itu juga memaparkan bahwa mantan asisten Trump, Sekretaris Azar, mengatakan untuk tidak menggunakan istilah virus China. Menurut Azar, etnisitas tidak menyebabkan virus.

Trump kemudian menjawab dengan yakin bahwa istilah virus China yang berulang kali dia lontarkan tidak rasial sama sekali.

Baca juga: Trump: Dunia Menderita karena China Lamban Informasikan Virus Corona

 "Virusnya berasal dari China. Tidak, tidak rasial sama sekali. Sama sekali," ungkap Trump. Dia mengatakan istilah virus China karena dia ingin akurat.

Sementara itu, wartawan lain juga mempertanyakan perihal "apa yang mungkin dirasakan" oleh orang Amerika keturunan China di AS.

Wartawan itu menanyakan juga apakah Trump sendiri nyaman dengan istilah atau terminologi virus China.

Trump merasa dirinya memiliki rasa cinta kepada warganya di AS. Dia bahkan mengatakan, "Seperti yang Anda tahu, China mencoba mengatakan pada suatu kesempatan, mungkin sekarang mereka telah menghentikannya bahwa virus itu disebabkan oleh tentara AS. Itu tidak mungkin terjadi. Itu tidak akan terjadi selama saya yang jadi presidennya. Virus itu berasal dari China."

Baca juga: Pertama di Yunani, Ibu Positif Virus Corona Lahirkan Bayi Sehat

Selain itu, Trump juga mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang salah atas wabah ini. Dia juga melanjutkan dengan, "Mungkin beberapa orang akan berkata ini salahnya seseorang, tapi tidak ada yang salah sebenarnya."

Ucapan ini dianggap CGTN America sebagai pernyataan yang memuat tuduhan untuk China.

Sejauh ini, pemerintahan Trump merasa bahwa kinerja mereka sudah sangat baik. AS telah menutup perbatasan, "Orang-orang dari China banyak memasuki AS dari sana, saya menganggapnya serius," jelas Trump yang lagi-lagi tampak menyalahkan China.

Sementara itu, Trump juga mengatakan, seandainya China memberikan informasi terkait Covid-19 ini lebih dulu, tentu akan sangat menolong AS.

Ketika ditanya apakah Trump merasa China yang mengakibatkan wabah ini ke AS, dia menjawab tidak.

Baca juga: Kementerian Afghanistan: Taliban Harus Patuhi Gencatan Senjata untuk Hentikan Penularan Virus Corona

Trump hanya berharap Pemerintah China seharusnya memberikan "kabar lebih dulu" (tidak menutup-nutupi pemberitaan).

Dia juga baru mendengar adanya laporan bahwa salah satu pejabat Gedung Putih mengatakan virus corona dengan sebutan "Kung Flu".

Seorang wartawan melaporkan bahwa terminologi Kung Flu sama dengan virus China yang akan membuat warga Amerika keturunan China berisiko mendapatkan stigmatisasi dan penargetan rasial.

Baca juga: Eropa Kerahkan Jurus Tangkal Virus Corona: Tutup Perbatasan dan Larang Pertemuan

Namun, Trump menampik bahwa itu tidak akan terjadi, "Tidak, tidak sama sekali. Saya yakin mereka (warga AS) akan setuju 100 persen dengan istilah itu. Virusnya memang datang dari China. Tidak bisa dimungkiri lagi."

Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada beberapa waktu lalu telah memilih nama resmi Covid-19 untuk menghindari penamaan spesifik terhadap lokasi geografi, jenis hewan, atau kelompok orang tertentu.

Sebab, rekomendasi internasional mengatakan, penamaan seperti itu merupakan bentuk stigmatisasi.

Baca juga: Kewalahan Hadapi Corona, Menkes Belanda Sempat Kolaps Lalu Mengundurkan Diri

Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sopir Balap Liar Tewas Tabrak Pohon, Ini Video Detik-detik Sebelum Kecelakaan

Sopir Balap Liar Tewas Tabrak Pohon, Ini Video Detik-detik Sebelum Kecelakaan

Global
Trump Mengonfirmasi AS Luncurkan Serangan Siber terhadap Rusia

Trump Mengonfirmasi AS Luncurkan Serangan Siber terhadap Rusia

Global
Dikunjungi Influencer, Wanita Paling Kesepian di Dunia Berisiko Tertular Covid-19

Dikunjungi Influencer, Wanita Paling Kesepian di Dunia Berisiko Tertular Covid-19

Global
Ingin Kurangi Tingkat Obesitas, PM Inggris Larang Promosi 'Buy 1 Get 1' untuk Produk Junk Food

Ingin Kurangi Tingkat Obesitas, PM Inggris Larang Promosi "Buy 1 Get 1" untuk Produk Junk Food

Global
Rusia Khawatir atas Sejumlah Tuduhan yang Dialamatkan AS kepada China

Rusia Khawatir atas Sejumlah Tuduhan yang Dialamatkan AS kepada China

Global
Hagia Sophia Resmi Jadi Masjid, Umat Islam Dipersilakan Beribadah

Hagia Sophia Resmi Jadi Masjid, Umat Islam Dipersilakan Beribadah

Global
Pengantin Wanita, Ibunya dan 22 Tamu Undangan Positif Covid-19, Kawasan Wisata Spanyol Banyak Ditutup

Pengantin Wanita, Ibunya dan 22 Tamu Undangan Positif Covid-19, Kawasan Wisata Spanyol Banyak Ditutup

Global
Adik Kim Jong Un: Korea Utara Belum akan Berhenti Bikin Senjata Nuklir

Adik Kim Jong Un: Korea Utara Belum akan Berhenti Bikin Senjata Nuklir

Global
Hagia Sophia Jadi Masjid Lagi, AS Kecewa Minta Tetap Jadi Museum

Hagia Sophia Jadi Masjid Lagi, AS Kecewa Minta Tetap Jadi Museum

Global
Karyawannya Diminta Hapus TikTok, Amazon Klarifikasi itu Kesalahan

Karyawannya Diminta Hapus TikTok, Amazon Klarifikasi itu Kesalahan

Global
Dibuka Kembali, Ibu Kota Brasil Langsung Alami Lonjakan Covid-19

Dibuka Kembali, Ibu Kota Brasil Langsung Alami Lonjakan Covid-19

Global
Kazakhstan Bantah Adanya Wabah 'Pneumonia Tak Dikenal'

Kazakhstan Bantah Adanya Wabah 'Pneumonia Tak Dikenal'

Global
30 Tahun Olah Raga Seperti Monyet, Pria Ini Klaim Kesehatannya Terjaga

30 Tahun Olah Raga Seperti Monyet, Pria Ini Klaim Kesehatannya Terjaga

Global
Dirawat Intensif, Sopir Bus yang Diserang Penumpang ini Akhirnya Tewas

Dirawat Intensif, Sopir Bus yang Diserang Penumpang ini Akhirnya Tewas

Global
Kasus Perkosaan Disebut Seks Kasar, Ini Kisah 2 Korban Serangan Seksual di Inggris

Kasus Perkosaan Disebut Seks Kasar, Ini Kisah 2 Korban Serangan Seksual di Inggris

Global
komentar
Close Ads X