Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Situs Arkeologi Afghanistan dari Tahun 1000 SM Dijarah di Bawah Pemerintahan Taliban

KABUL, KOMPAS.com - Peneliti dari Universitas Chicago menyatakan bahwa ada lebih dari 37 situs arkeologi di Afghanistan telah dihancurkan dan menjadi sasaran penjarahan di bawah pemerintahan Taliban.

Para peneliti di Pusat Pelestarian Warisan Budaya universitas tersebut mengidentifikasi sebanyak 162 pemukiman kuno yang menghadapi kehancuran.

Yakni pada tingkat yang mengkhawatirkan antara tahun 2018 dan 2021, berlanjut di 37 situs sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021.

Analisis citra satelit terhadap lokasi-lokasi yang diidentifikasi di sekitar wilayah Balkh di Afghanistan utara telah memberikan bukti pertama mengenai pola penjarahan yang awalnya diidentifikasi pada masa pertama Taliban berkuasa dan terus berlanjut sejak saat itu.

"Situs-situs yang telah dijarah berasal dari Zaman Perunggu Akhir dan Zaman Besi, bahkan ada yang sudah ada sebelum tahun 1000 SM," kata para peneliti dikutip dari The Independent pada Kamis (22/2/2024).

Sebagian besar situs ini terletak di wilayah Balkh yang dulunya merupakan wilayah tengah Baktria, yang memiliki kisah masa lalu yang berasal dari abad ke-6 SM pada era Kekaisaran Achaemenid.

Selanjutnya, wilayah ini direbut oleh Alexander Agung, dan berkembang menjadi pusat Zoroastrianisme dan kepercayaan Buddha. Ini kemudian menjadi pusat kebudayaan Islam.

Para peneliti telah mengidentifikasi 29.000 situs arkeologi di seluruh Afghanistan.

Taliban kembali berkuasa setelah menggulingkan pemerintahan Ashraf Ghani dan berjanji untuk menghormati warisan kuno negara tersebut di antara jaminan lainnya untuk mempertahankan pemerintahan yang lebih moderat.

Selama masa kekuasaan pertama mereka pada 2001, Taliban mengejutkan para sejarawan setelah menghancurkan patung Buddha Bamiyan, yang telah berdiri sebagai patung Buddha terbesar di dunia selama lebih dari 1.500 tahun.

Situs Warisan Dunia Buddha Afganistan Unesco merupakan situs suci umat Buddha di Jalur Sutra.

Profesor Gil Stein, direktur Pusat Pelestarian Warisan Budaya di Universitas Chicago, mengatakan kepada media Inggris bahwa mereka telah mengidentifikasi pola baru penghancuran di wilayah tersebut sejak 2018.

Citra satelit menunjukkan tanda-tanda pada gambar yang menurut timnya mungkin ditinggalkan oleh buldoser yang meninggalkan bekas jejak yang hilang seiring berjalannya waktu.

"Lebih banyak gambar menunjukkan situs-situs yang baru dihancurkan dan meninggalkan lubang-lubang yang digali oleh para penjarah," kata Stein, seraya menambahkan bahwa mereka membersihkan wilayah yang luas untuk mempermudah penjarahan situs tersebut secara sistematis.

"Artefak yang dijarah ini bisa saja diselundupkan keluar Afghanistan melalui Iran, Pakistan, dan negara-negara lain," tutur dia.

Ia juga mengatakan bahwa artefak tersebut bisa dipajang di museum atau rumah lelang di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur.

Menurutnya, ada sekitar 162 situs hancur dengan tingkat yang luar biasa dalam satu minggu di rentang waktu empat tahun dari 2018-2021 dan berlanjut setelah Taliban menggulingkan pemerintahannya pada 2021.

Tetapi, pejabat pemerintah Taliban telah menolak klaim penghancuran dan penjarahan situs bersejarah di negara tersebut.

Atiqullah Azizi, penjabat wakil menteri informasi dan kebudayaan Taliban, mengatakan kepada BBC bahwa 800 unit telah ditugaskan untuk menjaga situs-situs bersejarah yang penting.

"Kami mengirimkan berbagai tim untuk memeriksa lokasi tersebut dan saya dapat meyakinkan Anda bahwa tidak ada satu pun insiden di situs tersebut," katanya.

Namun, Profesor Stein berkata bahwa pihaknya dapat menunjukkan adanya upaya kesinambungan di antara dua rezim politik yang sangat berbeda.

https://www.kompas.com/global/read/2024/02/25/153121870/situs-arkeologi-afghanistan-dari-tahun-1000-sm-dijarah-di-bawah

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke