Kompas.com - 16/09/2020, 16:38 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini


SAYA bersyukur dianugrahi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk berkenalan dengan tokoh gastronomi Indonesia, Indra Ketaren yang kemudian saya paksa untuk mau-tidak-mau menjadi mahaguru filsafat kuliner Nusantara saya.

Dari beliau saya memperoleh banyak pembelajaran warisan peradaban kuliner Nusantara antara lain nasi goreng, soto dan sate.

Termutakhir dari Indra Ketaren, saya memperoleh informasi berharga tentang rendangomologi yang kini saya share dengan para penggemar rendang sebagai berikut:

Minangkabau

Rendang merupakan menu utama bagi masyarakat Minang yang dipengaruhi cita rasa masakan India. Dahulu kala rendang disajikan sebagai menu utama bagi para bangsawan. Kini rendang sangat digemari masyarakat minang bahkan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia sampai mancanegara.

Saya pernah makan rendang yang menurut saya terlezat di dunia bukan di Padang namun di Bath, Inggris pada sebuah rumah makan Thai yang bertetangga dengan museum Jane Austen.

Menurut Indra Ketaren, rendang memiliki posisi terhormat dalam budaya masyarakat Minangkabau karena memiliki nilai filosofi tersendiri bagi masyarakat Sumatera Barat, yakni melambangkan keutuhan masyarakat dalam musyawarah dan mufakat dengan merujuk kepada 4 (empat) bahan pokok yang digunakan dalam membuatnya, yakni:

1. Dagiang (daging); sebagai bahan baku utama dalam membuat rendang yang merupakan lambang dari ninik mamak (para pemimpin suku adat) yang ada di Minangkabau.

2. Karambia (kelapa); sebagai bahan pendukung yang merupakan lambang cadiak pandai (kaum intelektual).

3. Lado (cabe); sebagai lambang alim ulama yang pedas yaitu tegas untuk mengajarkan syariat agama.

4. Pemasak (bumbu); sebagai pelengkap yang merupakan lambang dari keseluruhan masyarakat Minang.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.