Kompas.com - 18/07/2022, 17:23 WIB

KOMPAS.com - Ketika mendengar nada tinggi, teriakan atau bentakan yang dilontarkan orangtua, pengasuh atau orang dewasa di sekitarnya, maka anak dapat merekam teriakan, emosi, dan amarah yang diterimanya.

Mengajari anak dengan cara berteriak atau emosi, disebut tidak terbukti menyelesaikan masalah atau membuat anak menurut kepada orangtua.

Sebaliknya, cara mendidik dengan nada tinggi, teriakan atau bentakan justru dapat menimbulkan masalah lain, seperti mempengaruhi kesehatan mental anak maupun orang dewasa yang mendidiknya.

Itulah mengapa, di tengah semakin banyaknya orang yang peduli akan kesehatan mental, pola asuh tanpa teriakan atau bentakan kerap diupayakan.

Baca juga: Terkenal Disiplin, Begini Cara Orangtua Jepang Mendidik Anak

Wakil Kepala Rumah Main Cikal, Ainul Yaqin menuturkan bahwa pola asuh tanpa teriakan atau bentakan dalam proses pendampingan tumbuh kembang anak ini dikenal baik dengan istilah Screamfree Parenting. Menjadi pola asuh yang ingin diterapkan oleh banyak orang tua muda masa kini.

Pause more and react less

Pendidik yang akrab disapa Iqin itu juga menjelaskan bahwa dalam penerapannya Screamfree Parenting akan lebih mengedepankan ketenangan dan fokus pada reaksi emosi orang tua yang ditunjukkan kepada anak.

"Screamfree Parenting adalah pengasuhan anak tanpa marah dengan intonasi yang tinggi atau pun teriakan. Pola pengasuhan ini tentu mengedepankan ketenangan dan berfokus pada reaksi emosi yang kita tunjukkan pada anak, bukan menitik beratkan fokus kita kepada perilaku anak,” jelas Iqin dalam keterangan tertulis.

Dalam mengupayakan pengelolaan emosi diri dan fokus pada reaksi yang ditampilkan ke anak, orangtua dapat belajar untuk memahami diri sendiri sebagai orangtua yang masih belajar dan senantiasa mengasah diri untuk memberikan pendampingan dan pengasuhan terbaik bagi anak.

Baca juga: Tanpa Hukuman, Ini Cara Sukses BPK Penabur Latih Kedisiplinan Siswa

“Dengan berfokus kepada bagaimana cara kita bereaksi terhadap perilaku anak akan memberikan kita waktu untuk memilah reaksi apa yang bisa kita pilih tanpa menyakiti anak-anak baik secara fisik maupun psikis," ujarnya.

"Ingat, kuncinya adalah “pause more and react less”. Selain itu, dalam hal ini, kita sebagai orang tua akan sadar bahwa tidak ada orang tua yang sempurna dan akan terus belajar dan memperbaiki diri, termasuk di antaranya belajar cara yang baik untuk berkomunikasi dengan anak," jelas Iqin.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.