Kompas.com - 14/06/2021, 21:58 WIB
Muhammad Nur Rizal, pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan dihadapan 80 guru SMK seni budaya dalam Diklat Peningkatan Kompetensi Guru Vokasi Penggerak yang digelar Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya.
DOK. GSMMuhammad Nur Rizal, pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan dihadapan 80 guru SMK seni budaya dalam Diklat Peningkatan Kompetensi Guru Vokasi Penggerak yang digelar Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya.

KOMPAS.com - Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) mengajak guru seni dan budaya melakukan perubahan paradigma pendidikan sehingga sekolah dapat menjadi tempat belajar menyenangkan bagi siswa.

Ajakan ini disampaikan Muhammad Nur Rizal, pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan dihadapan 80 guru SMK seni budaya dalam Diklat Peningkatan Kompetensi Guru Vokasi Penggerak yang digelar Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya.

“Prodi seni dan budaya punya ruang yang lebih besar dibanding bidang sains, matematika dan bahasa dalam menerjemahkan Merdeka Belajar di kelas-kelas,” tegas pendiri GSM ini.

Rizal menilai, corak ilmu seni dan budaya yang secara fitrah membutuhkan kreativitas dan kebebasan berekspresi menjadi alasan utama sekolah SMK di bidang seni budaya ini menjadi pelopor bagaimana budaya feodalistik dihentikan pada sistem pendidikan, khususnya lingkungan SMK.

"Jangan sampai justru atmosfer memerdekakan diri sebagai fitrah pendidikan terbelenggu oleh tuntutan budaya administrasi pendidikan," ujarnya lagi.

Rizal menyampaikan, pihaknya hadir untuk mengingatkan dan mengembalikan fitrah akan karakteristik kemerdekaan dan kebebasan berekspresi dari bidang seni budaya agar mendominasi kultur pendidikan saat ini.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hanya saja, meskipun ancaman output pendidikan yang stagnan sudah diketahui sejak lama, para peserta mengaku bahwa perubahan sulit dilakukan karena merasa terkekang kurikulum pendidikan dan beban administrasi.

Salah seorang guru SMK kriya kulit dari Surabaya sempat menyatakan dirinya skeptis mengejar ketertinggalan kurikulum siswa.

Sehingga, hal yang dapat ia lakukan hanyalah memberikan ruang kebebasan bagi siswa untuk menggunakan fasilitas-fasilitas sekolah mendukung keterampilan kewirausahaan di luar pemenuhan kurikulum.

Hasilnya, justru 3 orang muridnya dapat bergabung di industri kerajinan kulit Revolt.

Baca juga: Merdeka Belajar: Strategi Dunia Pendidikan Indonesia Merespons Perubahan

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X