Kompas.com - 11/05/2021, 14:16 WIB
Pemudik menggunakan sepeda motor terjebak kemacetan saat melintasi posko penyekatan mudik di Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (10/5/2021). Petugas gabungan memutar balikan ribuan pemudik yang melintasi pos penyekatan perbatasan Bekasi -Karawang, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/pras. WAHYU PUTRO APemudik menggunakan sepeda motor terjebak kemacetan saat melintasi posko penyekatan mudik di Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (10/5/2021). Petugas gabungan memutar balikan ribuan pemudik yang melintasi pos penyekatan perbatasan Bekasi -Karawang, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/pras.
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Jauh-jauh hari sebelum perayaan Idul Fitri, pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan agar masyarakat tidak berbondong-bondong pulang ke daerah asal atau mudik.

Namun demikian, mendekati Idul Fitri, masih banyak masyarakat yang kedapatan pulang ke daerah asalnya.

Terkait hal ini, Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Airlangga Hartarto menyampaikan, pemerintah melakukan tes acak terhadap 6.742 pemudik yang melalui pos penyekatan.

Dari tes acak tersebut, didapatkan sekitar 4.123 pemudik yang terkonfirmasi positif Covid-19. Melalui data itu, diketahui bahwa lebih dari 60 persen pemudik terkonfirmasi positif.

Baca juga: Epidemiolog UGM: Jangan Abai Prokes meski Sudah Divaksin

Tes acak Covid-19 belum gambarkan angka sebenarnya

Menurut Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Bayu Satria Wiratama, data tersebut belum bisa menunjukkan gambaran angka sebenarnya karena tes dilakukan secara acak dan tidak disebutkan alat tes deteksi Covid-19 yang digunakan.

"Belum tentu itu angka sebenarnya. Karena untuk menggambarkan kondisi sebenarnya kita perlu kaidah yang benar dalam mengambil sampel secara acak," kata Bayu Satria, seperti dikutip laman UGM, Selasa (11/5/2021).

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bayu menerangkan, jika tes secara acak menggunakan tes rapid antigen, swab PCR, atau Genose C-19 maka angka terkonfirmasi positif sebesar itu menunjukkan hal yang cukup mengkhawatirkan.

Baca juga: Larangan Mudik Lebaran 2021, Epidemiolog UGM Sarankan Hal Ini

Bayu menekankan, angka tersebut tidak bisa menjadi dasar untuk mengatakan secara keseluruhan kondisi gambaran pemudik yang terpapar Covid-19.

"Untuk mencapai gambaran sebenarnya, perlu sistematika pengambilan sampel acak yang sesuai kaidah," ucap Bayu.

Larangan mudik susah dilakukan

Meski demikian, Bayu sepakat bahwa kebijakan pelarangan mudik yang dilakukan oleh pemerintah mengantisipasi adanya gelombang kedua pandemi dan kekhawatiran naiknya kasus Covid-19 seperti yang terjadi di India.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X