Retno Lestari

Penulis buku "Rahasia Pemburu Beasiswa" dan pendiri TransforMe. Penulis merupakan mantan jurnalis TV yang kini mendedikasikan dirinya di dunia edukasi teknologi untuk membantu individu dan organisasi mengembangkan dirinya secara global.

Lakukan ini, Agar Tidak Salah Pilih Jurusan Sekolah di Luar Negeri

Kompas.com - 08/05/2021, 19:06 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KOMPAS.com - Banyak tantangan yang harus dihadapi oleh mahasiswa yang kuliah di luar negeri, bukan saja kendala budaya dan bahasa, tetapi juga sistem pembelajaran yang sangat berbeda dengan di tanah air.

Terlebih lagi, mahasiswa tinggal jauh dari keluarga dan teman-teman yang dikenalnya sehingga bisa jadi mahasiswa menjadi sangat kesepian.

Oleh karena itu melakukan pemetaan terhadap diri sendiri menjadi sangat penting dilakukan sejak punya niat untuk sekolah di negeri orang, agar bisa mengukur kemampuan dengan target yang dicanangkan.

Salah satu faktor yang seringkali tidak terlalu diperhatikan dan menjadi kendala belajar di luar negeri adalah pemilihan jurusan.

Banyak mahasiswa dari Indonesia yang salah jurusan karena kurang detil memperhitungkan betapa jurusan menjadi salah satu kunci kesuksesan kuliah dan kehidupannya di luar negeri.

Baca juga: 6 Alasan Wujudkan Mimpi Kuliah di New Zealand, Ada Beasiswa hingga Rp 2,9 Miliar

Salah jurusan, rawan depresi

Saya sendiri adalah salah satu orang yang punya pengalaman salah jurusan. Saya berpikir jurusan Internet Technology & Business Management yang saya ambil akan mempelajari bisnis internet yang sedang booming.

Ternyata saya harus belajar dua bidang yaitu engineering dan bisnis, dua hal yang belum pernah saya pelajari sebelumnya.

Dalam perjalanan kuliah saya, saya bekerja ekstra keras agar tidak gagal dan saya selalu berguru pada teman saya di kampus atau kepada sesama penerima beasiswa Chevening.

Kurang mempertimbangkan jurusan juga dialami oleh satu teman saya yang mengambil jurusan teknis, sementara pekerjaannya tidak berhubungan dengan jurusan tersebut. Akhirnya dia tertatih dan depresi ketika harus membuat disertasi. Terancam gagal, dia pun meminta pertolongan kepada teman-teman lainnya dan waktu tambahan kepada kampus, hingga akhirnya bisa menyelesaikan disertasinya.

Salah jurusan juga dialami oleh teman saya satu kampus, yang membuatnya gagal menyelesaikan disertasinya dan harus menerima gelar Postgraduate Diploma.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.