Apa Itu Pelajar Pancasila, Tujuan Sekolah Penggerak dari Nadiem Makarim

Kompas.com - 12/03/2020, 09:30 WIB
Ratusan siswa-siswi SDN Tirtasari IV, Desa Tirtasari, Kecamatan Tirtamulya, Kabupaten Karawang memegang buku yang didonasikan Gramedia World Karawang, Kamis (5/3/2020). Dok Gramedia World KarawangRatusan siswa-siswi SDN Tirtasari IV, Desa Tirtasari, Kecamatan Tirtamulya, Kabupaten Karawang memegang buku yang didonasikan Gramedia World Karawang, Kamis (5/3/2020).

KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim mengatakan Sekolah Penggerak nantinya akan bertujuan untuk menghasilkan profil Pelajar Pancasila. Menurutnya, profil Pelajar Pancasila adalah salah satu ciri keberhasilan Sekolah Penggerak.

"Kalau tujuan daripada sekolah penggerak tidak terlihat hasilnya di dalam profil siswa dan siswinya. berarti itu tidak berguna. Sebenarnya kita ingin menciptakan manusia seperti apa. Sekolah Penggerak ini harus menciptakan manusia seperti apa. ada enam Pelajar Pancasila," kata Nadiem dalam akun Youtube Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud).

Berikut profil Pelajar Pancasila menurut Nadiem.

1. Berakhlak Mulia

Pelajar Pancasila mengerti apa itu moralitas. Menurut Nadiem, Pelajar Pancasila mengerti apa itu keadilan sosial, spiritualitas, punya rasa cinta kepada agama, manusia, dan cinta kepada alam.

"Itu adalah hal yang sangat penting. Berakhlak mulia," kata Nadiem.

Baca juga: Organisasi Penggerak, Kemendikbud Siapkan Dukungan Biaya Lebih Dari Rp 25 Miliar untuk Ormas Terpilih

2. Kreativitas

Menurut Nadiem, Pelajar Pancasila punya kemampuan untuk bukan hanya memecahkan masalah, tetapi untuk menciptakan hal-hal secara pro aktif dan independen untuk menemukan cara-cara lain dan berbeda untuk bisa berinovasi dalam sehari-harinya.

3. Gotong royong

Pelajar Pancasila mengetahui cara gotong royong. Menurut Nadiem, Pelajar Pancasila harus tahu cara berkolaborasi dan bekerjasama sesama muridnya.

"Dan pada saat di laut terbuka dengan sesama manusia. Karena tidak akan ada pekerjaan, dan aktivitas yang tidak membutuhkan gotong royong, tak membutuhkan kolaborasi apalagi di era industri 4.0," tambah Nadiem.

Kolaborasi, lanjutnya, jauh menjadi lebih penting. Saat ini, kolaborasi sudah menjadi hal yang penting di era Industri 4.0.

"Bayangkan (pentingnya kolaborasi) di masa teknologi yang semakin cepat berubah," katanya.

Halaman:

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X