Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Histeria Wanita, Penyakit Kaum Hawa Zaman Kuno dan Kelahiran Vibrator

Kompas.com - 31/10/2022, 06:05 WIB
Diva Lufiana Putri,
Inten Esti Pratiwi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Histeria adalah gangguan mental pertama yang dikaitkan dengan wanita, dan yang dikatakan hanya menyerang kaum hawa.

Kurang lebih dua abad, gejala gangguan stres atau depresi serta ketidaksuburan, dengan mudah didiagnosis sebagai histeria wanita atau female hysteria.

Dilansir dari Medical News Today, masa itu, gejala umum dari kondisi ini termasuk kegugupan, halusinasi, ledakan emosi, dan berbagai dorongan seksual.

Bahkan, para pakar saat itu mempercayai bahwa histeria merupakan jawaban dari segala tingkah "aneh" wanita yang membuat para pria tidak nyaman.

Istilah histeria sendiri berasal dari Yunani Kuno. Menurut Hippocrates dan Plato, rahim yang berkeliaran di sekitar wanita adalah penyebab berbagai gangguan fisik dan mental, histeria.

Berikut fakta aneh dari histeria wanita yang dipercaya selama berabad-abad:

Baca juga: Melubangi Tengkorak hingga Praktik Kanibal, Ini 6 Pengobatan Ekstrem Zaman Dulu

Disebabkan oleh rahim yang berkeliaran

Dilansir dari laman HuffPost, histeria wanita dipercaya disebabkan oleh rahim yang mengembara.

Hal ini tertuang dalam teks-teks Mesir yang berasal dari tahun 1900 SM, bahwa gangguan histeria disebabkan rahim wanita yang mengembara atau bergerak di seluruh tubuh.

Bukan hanya Mesir, orang Yunani Kuno juga mempercayainya. Mereka percaya bahwa rahim merupakan makhluk hidup yang mendiami tubuh wanita.

Bahkan menurut Hippocrates dan Plato, wanita yang terlalu lama sendiri akan membuat rahim lepas dari tubuh. Hal tersebut, salah satunya bisa menyebabkan histeria wanita.

Baca juga: Mengintip Proses Operasi Zaman Kuno Sebelum Adanya Obat Bius

Disebut penyakit umum

Dikutip dari Mother Jones, seorang dokter Inggris berpengaruh yang hidup hingga akhir tahun 1600-an, Thomas Sydenham mengatakan, penderita histeria wanita berkeliaran di mana-mana.

Sydenham bahkan pernah mengatakan bahwa gangguan yang juga dikaitkan dengan kerasukan roh ini sebagai penyakit paling umum kedua setelah demam.

Sementara itu, pada 1748, dokter Perancis bernama Joseph Raulin menggambarkan histeria sebagai penyakit yang menyebar melalui polusi udara di kota-kota besar.

Menurut Raulin, baik pria maupun wanita dapat terkena histeria. Namun, wanita lebih rentan karena sifatnya yang malas dan mudah tersinggung.

Dalam risalah lain yang terbit pada 1770-1773, François Boissier de Sauvages de Lacroix, seorang dokter asal Perancis, menggambarkan histeria sebagai sesuatu yang mirip ketidakstabilan emosional.

Halaman Berikutnya
Halaman:

Terkini Lainnya

Kuning Telur Direbus hingga Keabuan Disebut Tidak Sehat, Benarkah?

Kuning Telur Direbus hingga Keabuan Disebut Tidak Sehat, Benarkah?

Tren
Presiden Iran Meninggal, Apa Pengaruhnya bagi Geopolitik Dunia?

Presiden Iran Meninggal, Apa Pengaruhnya bagi Geopolitik Dunia?

Tren
Tanda Seseorang Kemungkinan Psikopat, Salah Satunya dari Gerakan Kepala

Tanda Seseorang Kemungkinan Psikopat, Salah Satunya dari Gerakan Kepala

Tren
5 Pillihan Ikan untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Bantu Tubuh Lebih Sehat

5 Pillihan Ikan untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Bantu Tubuh Lebih Sehat

Tren
Apakah Masyarakat yang Tidak Memiliki NPWP Tak Perlu Membayar Pajak?

Apakah Masyarakat yang Tidak Memiliki NPWP Tak Perlu Membayar Pajak?

Tren
BMKG: Inilah Wilayah yang Berpotensi Hujan Lebat, Petir, dan Angin Kencang pada 21-22 Mei 2024

BMKG: Inilah Wilayah yang Berpotensi Hujan Lebat, Petir, dan Angin Kencang pada 21-22 Mei 2024

Tren
[POPULER TREN] Kasus Covid-19 di Singapura Naik Hampir Dua Kali Lipat | Ayah dan Anak Berlayar Menuju Tempat Terpencil di Dunia

[POPULER TREN] Kasus Covid-19 di Singapura Naik Hampir Dua Kali Lipat | Ayah dan Anak Berlayar Menuju Tempat Terpencil di Dunia

Tren
Apa Perbedaan Presiden dan Pemimpin Tertinggi di Iran?

Apa Perbedaan Presiden dan Pemimpin Tertinggi di Iran?

Tren
Jadwal dan Susunan Peringatan Waisak 2024 di Borobudur, Ada Festival Lampion

Jadwal dan Susunan Peringatan Waisak 2024 di Borobudur, Ada Festival Lampion

Tren
Berkaca dari Kasus Wanita Diteror Teman Sekolah di Surabaya, Apakah Stalker atau Penguntit Bisa Dipidana?

Berkaca dari Kasus Wanita Diteror Teman Sekolah di Surabaya, Apakah Stalker atau Penguntit Bisa Dipidana?

Tren
Studi Ungkap Obesitas pada Anak Bisa Kurangi Setengah Harapan Hidupnya

Studi Ungkap Obesitas pada Anak Bisa Kurangi Setengah Harapan Hidupnya

Tren
Presiden Iran Ebrahim Raisi Meninggal karena Kecelakaan Helikopter, Siapa Penggantinya?

Presiden Iran Ebrahim Raisi Meninggal karena Kecelakaan Helikopter, Siapa Penggantinya?

Tren
Cara Menambahkan Alamat Rumah di Google Maps, Bisa lewat HP

Cara Menambahkan Alamat Rumah di Google Maps, Bisa lewat HP

Tren
3 Idol Kpop yang Tersandung Skandal Burning Sun

3 Idol Kpop yang Tersandung Skandal Burning Sun

Tren
Spesifikasi Helikopter Bell 212 yang Jatuh Saat Membawa Presiden Iran

Spesifikasi Helikopter Bell 212 yang Jatuh Saat Membawa Presiden Iran

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com