Mengapa Masih Ada yang Percaya Penipuan Bermodus Penggandaan Uang?

Kompas.com - 31/03/2021, 19:04 WIB
Kapolres Lamongan AKBP Miko Indrayana bersama Kasatreskrim Polres Lamongan AKP Yoan Septi Hendri saat menunjukkan barang bukti uang palsu atau uang mainan milik pelaku (kanan bawah), dalam rilis pengungkapan kasus di Mapolres Lamongan, Selasa (30/3/2021). KOMPAS.COM/HAMZAH ARFAHKapolres Lamongan AKBP Miko Indrayana bersama Kasatreskrim Polres Lamongan AKP Yoan Septi Hendri saat menunjukkan barang bukti uang palsu atau uang mainan milik pelaku (kanan bawah), dalam rilis pengungkapan kasus di Mapolres Lamongan, Selasa (30/3/2021).

KOMPAS.com - Kasus penipuan berkedok penggandaan uang kembali terjadi.

Aksi tersebut dilakukan oleh MA (55) warga Desa Girik, Kecamatan Ngimbang, Lamongan, Jawa Timur.

Diberitakan Kompas.com, Selasa (30/3/2021) sebanyak tiga orang menjadi korban penipuan MA. Mereka adalah warga Mojokerto berinisial DS (46), DWN (44), dan S (46).

Baca juga: Hati-hati Penipuan, Jangan Berikan Kode OTP kepada Siapa Pun!

Dari keterangan Kapolres Lamongan AKBP Miko Indrayana, pelaku mengiming-imingi korban dengan pring petuk (bambu kembar), yang dipercaya dapat memberikan rezeki serta melipatgandakan uang.

Untuk mendapatkan pring petuk itu, masing-masing korban diminta menyetorkan sejumlah uang. DS menyetorkan uang tunai senilai Rp 65 juta, sedangkan DWN memberikan Rp 35 juta.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara korban berinisial S, menyetorkan uang sebanyak Rp 107 juta kepada MA.

Pelaku berjanji akan melipatgandakan uang ketiga korban dan memberikan pring petuk. Namun hingga tenggat waktu yang dijanjikan, MA tak kunjung membuktikan janjinya.

"Hingga saat ini, tersangka tidak menyerahkan pring petuk seperti yang diceritakan. Mereka (korban) hanya diberikan bambu semacam ini (bambu biasa yang lazim dijumpai), merasa tertipu mereka kemudian lapor ke polisi," kata Miko.

Baca juga: Ramai soal Penipuan COD di Medsos, Bagaimana Mengantisipasinya?

Perdaya korban dengan uang mainan

Diketahui, pelaku sudah ditangkap oleh jajaran kepolisian Lamongan.

MA dijerat dengan pasal 372 KUHP tentang penggelapan, serta pasal 378 KUHP tentang penipuan, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

Dari penyelidikan serta penggeledahan yang dilakukan di rumah tersangka, ditemukan uang mainan pecahan 100.000 sebanyak Rp 3,3 miliar.

Uang inilah yang digunakan pelaku dalam memperdaya para korban.

"Kami juga mengamankan kain khusus, yang biasa digunakan oleh tersangka pada saat melakukan ritual. Kami sita sebagai barang bukti," kata Miko.

Baca juga: Viral Unggahan Modus Penipuan Nomor Telepon +1500888 Atas Nama BCA

Modus serupa sudah sering terjadi

Kasus penipuan dengan modus penggandaan uang sudah beberapa kali terungkap.

Salah satu yang paling terkenal adalah kasus pendiri Padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo, Jawa Timur, yakni Taat Pribadi.

Diberitakan Kompas.com, 30 September 2016, sejak 2015-2016, setidaknya ada tiga laporan terkait Taat Pribadi ke Polda Jawa Timur atas dugaan penipuan.

Pertama, dengan kerugian Rp 800 juta, kemudian Rp 900 juta, dan terakhir Rp 1,5 miliar.

Ada pula laporan yang masuk ke Bareskrim Polri. Korban mengaku tertipu hingga Rp 25 miliar.

Baca juga: Tips untuk Cegah Rekening Dibobol melalui Modus Penipuan Online

Setelah adanya laporan itu, Bareskrim Polri melakukan penyelidikan dan penyidikan dengan memanggil sejumlah saksi, yakni pihak pelapor dan beberapa warga Probolinggo.

Ternyata, modus operasinya seperti jaringan Multi Level Marketing (MLM). Korban yang direkrut, menyetorkan uang kepada Taat Pribadi.

Jika ingin uangnya berlipat ganda, korban tersebut harus mengajak beberapa orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Agar korbannya percaya, setelah uang disetor, Taat Pribadi memberikan satu kotak berisi baju, dan cincin yang disebut bisa berubah menjadi emas.

Selanjutnya, akan muncul uang jika korban ikhlas dan meyakini bahwa uang itu bisa berlipat ganda.

Baca juga: Sering Terima SMS Penawaran atau Penipuan? Ini Cara Melaporkannya...

Mengapa sebagian masyarakat masih percaya penggandaan uang?

Dosen Pendidikan Sosiologi Antropologi Universitas Sebelas Maret Nurhadi mengatakan, ada beberapa faktor yang membuat sebagian masyarakat Indonesia bisa terjebak penipuan bermodus penggandaan uang.

"Saya rasa yang paling dominan adalah persoalan dengan lemahnya literasi pada masyarakat kita. Jadi ada kecenderungan memang, masyarakat kita ini kurang suka membaca informasi atau pesan, itu secara utuh," kata Nurhadi saat dihubungi Kompas.com, Rabu (31/3/2021).

Nurhadi mengatakan, masyarakat masih lebih mengandalkan pesan-pesan yang bersifat lisan, terutama yang dalam penyampaiannya menarik minat, seperti penawaran hadiah besar.

"Dan literasi yang lemah itu tidak melulu menjadi monopoli masyarakat kelas bawah. Bahkan sebagian dari masyarakat yang tergolong kalangan atas pun juga ikut tertipu atau berada di dalam pusaran itu," kata dia.

Baca juga: Viral Unggahan soal Modus Penipuan dengan Pemberian Nomor ATM, Ini Penjelasannya...

Kondisi psikologis

Faktor kedua, menurut Nurhadi, adalah kondisi psikologis masyarakat yang terus dihadapkan dengan ketidakpastian.

Kondisi tersebut, ditambah dengan kemampuan mencerna informasi yang kurang baik, akhirnya membuat sebagian orang menyandarkan kepercayaan pada harapan yang tidak masuk akal.

"Barangkali sebagian orang berpersepsi ekonomi sekarang tidak menentu, masa depan juga masih di dalam bayang-bayang atau tidak ada kepastian," kata Nurhadi.

"Sehingga di tengah-tengah ketidakpastian itu ada semacam harapan yang dapat mereka peroleh, dan sayangnya, seringkali harapan yang mereka ingingkan itu tidak dibarengi dengan kemampuan untuk mencerna informasi," katanya lagi.

Menurut Nurhadi, jika orang tersebut (korban penipuan) mampu mencerna informasi dengan baik, serta berpikir secara logis, maka kasus penipuan bisa tercegah.

Baca juga: Catat, Ini yang Harus Dilakukan jika Alami Penipuan Ojek Online


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Layanan Telemedicine Diperluas di 8 Kota, Ini Alur, Cara hingga Jenis Obatnya

Layanan Telemedicine Diperluas di 8 Kota, Ini Alur, Cara hingga Jenis Obatnya

Tren
Mengenal Jamur Hitam yang Melanda India, Gejala, Cara Mencegah dan Obatnya

Mengenal Jamur Hitam yang Melanda India, Gejala, Cara Mencegah dan Obatnya

Tren
Kisah Sedih Pasien Covid-19 yang Terpapar Setelah Menolak Vaksin

Kisah Sedih Pasien Covid-19 yang Terpapar Setelah Menolak Vaksin

Tren
Ramai soal Pengambilan Bansos Tunai di Kantor Pos Harus Bawa Bukti Vaksin, Benarkah?

Ramai soal Pengambilan Bansos Tunai di Kantor Pos Harus Bawa Bukti Vaksin, Benarkah?

Tren
Pertamina Foundation Buka Lowongan Kerja Untuk Lulusan S1, Ditutup Akhir Juli 2021

Pertamina Foundation Buka Lowongan Kerja Untuk Lulusan S1, Ditutup Akhir Juli 2021

Tren
PPKM Diperpanjang atau Dilonggarkan? Ini Tren Kasus Corona dalam Sepekan

PPKM Diperpanjang atau Dilonggarkan? Ini Tren Kasus Corona dalam Sepekan

Tren
Bank Indonesia Buka Lowongan Calon Pegawai Muda, Ini Syarat dan Cara Daftarnya!

Bank Indonesia Buka Lowongan Calon Pegawai Muda, Ini Syarat dan Cara Daftarnya!

Tren
Cara Cek Lokasi Faskes Terdekat untuk Vaksinasi Covid-19, Ini Link-nya!

Cara Cek Lokasi Faskes Terdekat untuk Vaksinasi Covid-19, Ini Link-nya!

Tren
Banyak yang Cari Donor ASI di Masa Pandemi, Ini Pesan AIMI

Banyak yang Cari Donor ASI di Masa Pandemi, Ini Pesan AIMI

Tren
Kasus Covid-19 Menurun karena Testing Berkurang, Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Kasus Covid-19 Menurun karena Testing Berkurang, Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Tren
[HOAKS] Warga Bekasi Ditangkap dan Diborgol karena Mau Shalat Idul Adha

[HOAKS] Warga Bekasi Ditangkap dan Diborgol karena Mau Shalat Idul Adha

Tren
Viral, Video Bendera Putih Dipasang di Ampel, Warga Disebut Menyerah pada PPKM, Ini Penjelasannya

Viral, Video Bendera Putih Dipasang di Ampel, Warga Disebut Menyerah pada PPKM, Ini Penjelasannya

Tren
Evaluasi Penyebab Kasus Harian Covid-19 Menurun Selama PPKM Darurat

Evaluasi Penyebab Kasus Harian Covid-19 Menurun Selama PPKM Darurat

Tren
Jangan Dipotong, Ini Fungsi Penting Kumis pada Kucing

Jangan Dipotong, Ini Fungsi Penting Kumis pada Kucing

Tren
Ketika Said Aqil Heran Banyak Kiai NU Tak Percaya Corona

Ketika Said Aqil Heran Banyak Kiai NU Tak Percaya Corona

Tren
komentar
Close Ads X