Terancam Tutup, Berikut Kilas Sejarah Saung Angklung Udjo

Kompas.com - 23/01/2021, 16:05 WIB
Pertunjukan permainan angklung oleh para murid di Saung Angklung Udjo, Bandung, Kamis (16/1/2020). kompas.com / Nabilla RamadhianPertunjukan permainan angklung oleh para murid di Saung Angklung Udjo, Bandung, Kamis (16/1/2020).

KOMPAS.com - Pandemi virus corona yang melanda Indonesia sejak tahun lalu memberi dampak besar bagi perekonomian masyarakat.

Pembatasan yang memaksa semua orang harus tinggal di rumah membuat sejumlah tempat usaha dan wisata sepi dari pengunjung.

Salah satunya adalah Saung Angklung Udjo, tempat wisata di Kota Bandung, Jawa Barat yang kerap dikunjungi wisatawan mancanegara.

Baca juga: PPKM Jawa-Bali Diperpanjang, Berikut 46 Stasiun dan 13 Bandara Penyedia Rapid Test Antigen Beserta Harganya...

Karena sepinya pengunjung, Saung Angklung Udjo telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 90 persen karyawannya.

"Pengurangan pegawai bukan akan, tapi sudah sebagian bulan-bulan kemarin. Dari 600, sekarang cuma 40," kata Direktur Utama Saung Angklung Udjo Taufik Hidayat, Jumat (22/1/2021).

Baca juga: Mengenang Kurt Cobain, Ikon Musik Rock Modern

Berikut sejarah Saung Angklung Udjo...

Membicarakan saung tersebut, tak bisa dipisahkan dari sosok Udjo Ngalagena atau akrab disapa Mang Udjo.

Sejak usia enam tahun, Mang Udjo sudah memainkan angklung bersama teman-teman sebaya di bawah pimpinan Abah Almawi, dikutip dari Harian Kompas, 4 Mei 2001.

Kecintaannya kepada angklung semakin meluap setelah berkenalan dengan Daeng Sutigna pada 1955. Daeng Sutigna merupakan tokoh angklung legendaris yang menciptakan angklung diatonis.

Baca juga: Mengapa Orang Tua Tidak Menyukai Musik Modern?

Proses pendirian

Saung Angklung UdjoDOK INDONESIA.TRAVEL Saung Angklung Udjo

Pada 1958, Udjo sudah memainkan angklung secara berkeliling dan mengenalkan alat musik bambu yang namanya diambil dari suaranya itu kepada masyarakat.

Tak lama kemudian, Mang Udjo bersama istrinya Ny Uum Sumiati mendirikan Saung Angklung Udjo ( SAU) pada 1966.

Di masa-masa awal berdirinya SAU, bentuk kemasan pertunjukkan benar-benar membebaskan anak-anak untuk bermain-main.

Baca juga: Mengenang Habibie, dari Dunia Dirgantara hingga Kecamannya terhadap Musik Rap

Mereka bersembunyi di balik rumpun padi, karena saat itu di sekitar lokasi saung masih banyak sawah.

Begitu Mang Udjo memberi tanda, sontak puluhan anak keluar dari gerombolan padi.

Para penonton tentu saja kaget, tidak mengira kalau angklung akan disuguhkan oleh anak-anak usia balita sampai remaja.

Baca juga: Mengenang Seniman Musik Djaduk Ferianto...

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X