Menghayati Peribahasa Indonesia yang Kenyataannya Tak Lagi Sama

Kompas.com - 03/11/2020, 09:24 WIB
Ilustrasi ide PixabayIlustrasi ide

TUJUAN apa yang disebut sebagai peribahasa jelas baik yaitu menyadarkan manusia untuk bersikap dan berperilaku lebih baik. Mengubah das sein menjadi das sollen.

Sayang di masa kini, peribahasa tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Misalnya becik ketitik, olo ketoro menjamin semua kebusukan pasti akan ketoro (kelihatan) sementara masih begitu banyak koruptor bebas merajalela sebab tidak ketoro korupsinya.

Sementara peribahasa habis manis, sepah dibuang malah kerap diwujudkan akibat dianggap wajar apabila rasa manis sudah terasa habis maka sepah niscaya dibuang. Mosok sepah ditelan!

Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian memotivasi manusia agar bersedia bersusah-payah untuk bekerja keras agar kemudian bisa menikmati hasil kerasnya juga tidak sesuai kenyataan bagi mereka yang ingin bersenang-senang dahulu bersenang-senang kemudian seperti menang lotere atau terima warisan properti bernilai triliunan rupiah atau korupsi tidak terbongkar.

Pepatah tidak ada rotan, lidi pun jadi gugur akibat rotan sudah diganti perannya oleh plastik yang dianggap lebih modern maka lebih keren ketimbang lidi.

Pameo ayam mati di lumbung padi malah diwujudkan dengan mengutamakan tenaga kerja asing ketimbang tenaga kerja bangsa sendiri.

Menurut Gus Dur teks lagu Maju Tak Gentar Membela Yang Benar terlalu muluk-muluk bagi industri hukum yang lebih menyukai teks lagu Maju Tak Gentar Membela Yang Bayar.

Sementara slogan Bangsa yang Besar Adalah Bangsa yang Belajar dari Sejarah tidak dihiraukan mereka yang bersemangat menghapus mata pelajaran sejarah dari kurikulum pendidikan nasional.

Sebagai peyakin Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang Menghargai Para Pahlawannya saya bingung ketika di Belanda ternyata Westerling yang sangat saya benci sebagai pembantai rakyat Indonesia malah dipuja-puja sebagai pahlawan pembela kepentingan Kerajaan Belanda untuk bisa tetap lestari menjajah Indonesia.

Saya tidak berani sembarangan menggunakan istilah radikal sebab ternyata Bung Karno, Bung Hatta, Pak Dirman, Bung Syahrir dan para pejuang kemerdekaan Indonesia dijebloskan ke penjara atas tuduhan bahwa para beliau kaum radikal yang harus dipenjarakan agar kapok merongrong kaum penjajah.

Jangan percaya peribahasa yang benar pasti menang, yang salah pasti kalah sebab pada kenyataan yang menang pasti benar, yang kalah pasti salah!

Dampak inflasi diperparah fakta begitu banyak nasabah kehilangan seluruh dana yang mereka susah-payah himpun kemudian tabung semuanya di lembaga keuangan memporak-porandakan makna peribahasa hemat pangkal kaya.

Sementara sampai masa kini saya tidak pernah mampu mengerti makna peribahasa murid kencing belari, guru kencing berdiri sebab tidak jelas apa relevansi antara murid kencing sambil berlari dengan guru kencing sambil berdiri.

Namun saya mampu mengerti meski prihatin bahwa akibat manusia gagal mengejawantahkan ojo dumeh dan jihad al nafs maka pagebluk virus angkara murka kekerasan sesama manusia terhadap sesama manusia lestari ganas merajalela di marcapada ini.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X