Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Orang China Suka Minum Air Panas? Ini Penjelasannya...

Kompas.com - 23/05/2020, 14:00 WIB
Mela Arnani,
Rizal Setyo Nugroho

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bagi banyak orang luar, mencari hubungan antara orang China dengan air panas memang membingungkan. Hal ini juga menjadi salah satu pertanyaan yang paling banyak dicari tentang orang China di Google.

Kebiasaan tersebut ternyata dapat ditelusuri kembali ke kampanye kesehatan masyarakat yang mendorong mengonsumsi air panas karena alasan kesehatan dan kebersihan.

Melansir SCMP, hampir semua orang, baik muda, tua, pria dan wanita di China, banyak yang membawa bekal berupa botol air panas.

"Di Vancouver, tempat saya berasal, setiap kali ibu dan teman-temannya makan di restoran Barat, mereka suka memesan air panas dengan lemon," kata penulis senior SCMP di Hongkong, Bernice Chan.

Baca juga: Studi: Rutin Mandi Air Hangat, Turunkan Risiko Penyakit Kardiovaskular

Kampanye hidup sehat

Terdapat preferensi umum air panas di China. Sejak awal abad ke-20, telah ada kampanye kesehatan masyarakat yang mendorong konsumsi air hangat.

Pada tahun 1930-an, saat pemerintah nasionalis sedang mengkonsolidasikan kekuatannya di China, mereka meluncurkan gerakan sipil yang disebut Gerakan Kehidupan Baru.

Di antaranya penerapan gerakan tersebut yaitu mendorong orang untuk minum air hangat karena dianggap lebih bersih.

Bahkan, setelah kaum nasionalis kehilangan kekuasaan ke komunis, dukungan pemerintah terhadap kebiasaan minum air panas tetap ada.

Dari tahun 1952, pemerintah Komunis meluncurkan beberapa kampanye kesehatan masyarakat yang mendorong orang untuk minum air hangat, membentuk kebiasaan generasi.

"Di China, tidak setiap perusahaan memiliki ruang santai atau istirahat, tapi mereka akan memiliki ruang untuk dispenser air. Dan itu pasti akan memiliki air panas," kata Zhang Guowei, seorang profesor di Universitas Henan.

Menjaga badan hangat

Salah satu alasan mengapa orang China lebih suka minum air panas karena cara tersebut efektif untuk menjaga badan tetap hangat.

Baca juga: Berendam Air Panas Bisa Menurunkan Risiko Penyakit Jantung dan Stroke

Sebelum munculnya pemanas, sulit untuk menjaga diri dari cuaca dingin selama musim dingin di China kuno.

Meskipun ada catatan produksi kapas di China sejak lebih dari 2.000 tahun yang lalu, bahan ini hanya digunakan secara luas untuk memberi kehangatan selama dinasti Ming (1368-1644).

Praktik ini juga dipercaya dapat membantu membunuh bakteri.

Seperti banyak pemukiman manusia purba di seluruh dunia, desa-desa di China kuno dibangun dekat dengan sungai-sungai besar untuk memudahkan akses air.

Halaman Berikutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Harta Prajogo Pangestu Tembus Rp 1.000 Triliun, Jadi Orang Terkaya Ke-25 di Dunia

Harta Prajogo Pangestu Tembus Rp 1.000 Triliun, Jadi Orang Terkaya Ke-25 di Dunia

Tren
Media Asing Soroti Banjir Bandang Sumbar, Jumlah Korban dan Pemicunya

Media Asing Soroti Banjir Bandang Sumbar, Jumlah Korban dan Pemicunya

Tren
Sejarah Lari Maraton, Jarak Awalnya Bukan 42 Kilometer

Sejarah Lari Maraton, Jarak Awalnya Bukan 42 Kilometer

Tren
Rekonfigurasi Hukum Kekayaan Intelektual terhadap Karya Kecerdasan Buatan

Rekonfigurasi Hukum Kekayaan Intelektual terhadap Karya Kecerdasan Buatan

Tren
Basuh Ketiak Tanpa Sabun Diklaim Efektif Cegah Bau Badan, Benarkah?

Basuh Ketiak Tanpa Sabun Diklaim Efektif Cegah Bau Badan, Benarkah?

Tren
BPJS Kesehatan Tegaskan Kelas Pelayanan Rawat Inap Tidak Dihapus

BPJS Kesehatan Tegaskan Kelas Pelayanan Rawat Inap Tidak Dihapus

Tren
Cara Memindahkan Foto dan Video dari iPhone ke MacBook atau Laptop Windows

Cara Memindahkan Foto dan Video dari iPhone ke MacBook atau Laptop Windows

Tren
Video Viral Pusaran Arus Laut di Perairan Alor NTT, Apakah Berbahaya?

Video Viral Pusaran Arus Laut di Perairan Alor NTT, Apakah Berbahaya?

Tren
Sosok Rahmady Effendi Hutahaean, Eks Kepala Kantor Bea Cukai Purwakarta yang Dilaporkan ke KPK

Sosok Rahmady Effendi Hutahaean, Eks Kepala Kantor Bea Cukai Purwakarta yang Dilaporkan ke KPK

Tren
Harta Eks Kepala Bea Cukai Purwakarta Disebut Janggal, Benarkah Hanya Rp 6,3 Miliar?

Harta Eks Kepala Bea Cukai Purwakarta Disebut Janggal, Benarkah Hanya Rp 6,3 Miliar?

Tren
5 Potensi Efek Samping Minum Susu Campur Madu yang Jarang Diketahui

5 Potensi Efek Samping Minum Susu Campur Madu yang Jarang Diketahui

Tren
5 Penyebab Anjing Peliharaan Mengabaikan Panggilan Pemiliknya

5 Penyebab Anjing Peliharaan Mengabaikan Panggilan Pemiliknya

Tren
8 Fakta Penggerebekan Laboratorium Narkoba di Bali, Kantongi Rp 4 Miliar

8 Fakta Penggerebekan Laboratorium Narkoba di Bali, Kantongi Rp 4 Miliar

Tren
UPDATE Banjir Sumbar: 50 Orang Meninggal, 27 Warga Dilaporkan Hilang

UPDATE Banjir Sumbar: 50 Orang Meninggal, 27 Warga Dilaporkan Hilang

Tren
Rusia Temukan Cadangan Minyak 511 Miliar Barel di Antarktika, Ancam Masa Depan Benua Beku?

Rusia Temukan Cadangan Minyak 511 Miliar Barel di Antarktika, Ancam Masa Depan Benua Beku?

Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com