Nasib Buruh di Tengah Pandemi Covid-19: Dari PHK hingga Kartu Prakerja

Kompas.com - 01/05/2020, 13:00 WIB
Bendera Marsinah dikibarkan oleh puluhan buruh perempuan yang tergabung dalam Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) saat berunjuk rasa di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu (9/3). Aksi memperingati hari perempuan sedunia itu menyuarakan sosok Marsinah sebagai pejuang dan pahlawan bagi rakyat. 

Kompas/Priyombodo (PRI)
09-03-2014 PRIYOMBODOBendera Marsinah dikibarkan oleh puluhan buruh perempuan yang tergabung dalam Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) saat berunjuk rasa di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu (9/3). Aksi memperingati hari perempuan sedunia itu menyuarakan sosok Marsinah sebagai pejuang dan pahlawan bagi rakyat. Kompas/Priyombodo (PRI) 09-03-2014

KOMPAS.com - Setiap tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, peringatan hari buruh tahun ini tak dibarengi aksi turun ke jalan menyuarakan tuntutan para buruh.

Tak dipungkiri, pandemi global virus corona telah memukul berat banyak sektor, termasuk roda perekonomian dunia.

Pandemi yang terjadi di Tanah Air juga telah mengakibatkan banyak dari para pekerja yang terpaksa dirumahkan karena pemutusan hubungan kerja atau PHK.

Aktivis hak asasi manusia yang juga salah satu pendiri Migrant Care, Anis Hidayah menilai bahwa banyak hal yang harus diperhatikan di tengah kondisi saat ini.

Antara lain seperti buruh yang kehilangan pekerjaan, pekerja yang masih bekerja dengan gaji separuh, pekerja yang terpapar Covid-19, hingga para pekerja migran.

"Mereka yang kehilangan pekerjaan tentu harus dapat pekerjaan baru. Mereka yang tetap bekerja tapi terinfeksi Covid-19 itu akses layanan kesehatannya seperti apa. Lalu pekerja migran juga banyak sekali problem-nya," kata Anis saat dihubungi Kompas.com, Jumat (1/5/2020).

Baca juga: Sejarah Hari Buruh di Indonesia, Dulunya Dilarang Kini Jadi Hari Libur Nasional

Anis menambahkan, pekerja migran di luar negeri pun seharusnya tak luput dari perhatian pemerintah, seperti nasib para pekerja migran yang harus kembali ke Indonesia karena habis masa kontrak.

Selain itu, kelanjutan para pekerja migran yang tetap bertahan di negara lain dengan sistem kerja harian juga menjadi hal yang harus diperhatikan.

Anis menyampaikan, protokol bagi para pekerja migran yang terpaksa pulang ke Indonesia di tengah wabah Covid-19 juga tidak ada kejelasan.

"Selain kelanjutan pekerjaannya (bagi para buruh), bagaimana ketika sudah sampai ke Indonesia. Dari sini ke daerah asal itu protokolnya juga belum jelas," ujar dia.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X