Cerita Masa Lalu Laga Persija Vs Persebaya di GBK Justru Didominasi Bonek

Kompas.com - 20/02/2020, 11:20 WIB
Gelandang Persija Jakarta, Sandi Sute, berusaha menguasai bola dalam pertandingan Liga 1 antara Persebaya Surabaya vs Persija di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Sabtu (24/8/2019). Media PersijaGelandang Persija Jakarta, Sandi Sute, berusaha menguasai bola dalam pertandingan Liga 1 antara Persebaya Surabaya vs Persija di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Sabtu (24/8/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Duel Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta akan tersaji pada laga final Piala Gubernur Jawa Timur 2020, Kamis (20/2/2020) malam.

Laga Persebaya vs Persija akan berlangsung di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Jawa Timur.

Demi masalah keamanan, pendukung Persija, The Jakmania, diimbau untuk tidak datang ke stadion.

Bukan rahasia kalau The Jakmania memang tak punya hubungan yang baik dengan pendukung Persebaya, Bonek.

Dalam beberapa tahun terakhir, The Jakmania memang selalu diminta untuk tidak datang ke Surabaya saat Persija bertandang ke kandang Persebaya. Demikian juga sebaliknya.

Mulai dilarangnya Bonek datang ke Jakarta bisa dibilang sejalan dengan mulai berkembangnya The Jakmania, yang kini dikenal sebagai salah satu kelompok suporter dengan basis massa terbesar di Indonesia.

Pada masa lalu, Bonek masih leluasa datang ke Jakarta, tepatnya saat pecinta sepak bola di Jakarta belum memiliki kecintaan yang besar terhadap Persija.

Dikutip dari BolaSport.com, The Jakmania berdiri pada tahun 1997.

Baca juga: Final Piala Gubernur Jatim 2020, Nasir Siap Berjuang Saat Laga Persebaya Vs Persija

Berdirinya Persija diawali rasa keprihatinan terhadap minimnya dukungan masyarakat Jakarta terhadap tim Macan Kemayoran, bahkan saat bertanding di kotanya sendiri.

Salah satunya saat final kompetisi Perserikatan yang mempertemukan Persija vs Persebaya pada tahun 1973.

Pada laga yang berakhir dengan skor 1-0 untuk Persija itu, suporter yang datang justru didominasi pendukung Persebaya.

Kondisi serupa kembali terjadi saat final Perserikatan pada tahun 1979 antara Persija vs PSMS Medan.

Firman Lubis dalam bukunya, Jakarta 1960-an, bercerita bahwa fenomena seperti itu terjadi lantaran Jakarta dipenuhi oleh pendatang yang enggan memberikan dukungannya kepada Persija.

Sebaliknya, mereka akan antusias mendukung klub asal daerahnya kala bertanding di Jakarta.

Di satu sisi, orang-orang asli Jakarta terpinggirkan.

Salah satu pendiri The Jakmania, Tauhid Indrasjaried dalam video dokumenter berjudul 'Jakarta Is Mine' pada 2005, menyebut orang-orang Jakarta yang terpinggirkan sebagai 'orang-orang kalah'.

Baca juga: Final Piala Gubernur Jatim 2020, Persebaya Diminta Tidak Terlena

"Kondisi seperti itu membuat orang-orang kalah ini ketinggalan zaman. The Jak Mania berusaha mewadahi orang-orang kalah ini untuk belajar mencintai Jakarta," tutur pria yang akrab disapa Bung Ferry itu.

Tak diketahu pasti sejak kapan Bonek sudah tidak bisa datang ke Jakarta, maupun The Jak yang selalu diimbau tidak ke Surabaya.

Bonek masih sempat datang ke GBK saat final Liga Indonesia III tahun 1997.

Demikian juga saat mereka datang memberikan dukungan untuk Persebaya pada 8 Besar Liga Indonesia tahun 1999 dan 2005.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X