Kompas.com - 13/03/2021, 13:00 WIB
Penderita Kuru di Suku Fore D. Carleton Gajdusek.Penderita Kuru di Suku Fore

KOMPAS.com - Siapa yang suka makan gulai otak sapi, otak kambing, atau otak ayam? Makanan dengan otak hewan sebagai bahan baku banyak disenangi karena rasa dan teksturnya yang unik.

Namun tahukah kamu ada satu suku di Papua Niugini yang gemar menyantap otak manusia yang telah meninggal?

Suku Fore adalah suatu suku di Papua Niugini yang mempraktikan kanibalisme sebagai ritual adatnya. Dilansir dari National Center for Biotechnology Information, ketika ada yang meninggal, tubuh manusia tersebut akan dikonsumsi oleh kerabatnya kecuali kantung empedunya yang pahit.

Otak mayat hanya dikonsumsi oleh wanita dan anak-anak, sedangkan dagingnya kebanyakan dimakan oleh pria dewasa. Bahkan tulang-belulangnya pun ditumbuk untuk kemudian dimasak dan dimakan.

Di sisi lain, orang-orang di Suku Fore banyak mengalami kematian akibat suatu penyakit yang tidak diketahui asalnya, yang ternyata panyakit kuru.

Baca juga: Apa Fungsi Kumis pada Kucing?

Kuru diambil dari bahasa Fore yang berarti menggigil atau gemetar. Awalnya Suku Fore mengira penyakit kuru adalah sihir jahat.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kemudian Dr. D Carleton Gajdusek dan Vincent Zigas meneliti dan menemukan ini sebagai penyakit menular. Dilansir dari National Center for Biotechnology Information, penyakit kuru adalah penyakit neurodegeneratif menular karena infeksi prion (protein penyebab penyakit) dalam jaringan otak manusia.

Seorang anak yang terinfeksi penyakit kuru digendong oleh ayahnyancbi.nlm.nih.gov Seorang anak yang terinfeksi penyakit kuru digendong oleh ayahnya
Prion dalam otak jasad yang dimakan oleh wanita dan anak-anak akan menjadi agen infeksi. Menyebabkan kebanyakan anak-anak dan wanita di Fore menderita penyakit kuru dibanding pria dewasa yang kebanyakan memakan daging dari jasad.

Gejala Penyakit Kuru

Penyakit kuru adalah penyakit yang menyerang otak kecil yang bertanggung jawab atas koordinasi dan keseimbangan. Infeksi prion menghambat kerja otak dan menurunkan fungsinya secara keseluruhan.

Dilansir dari Healthline, gejala awal penyakit kuru adalah sakit kepala, nyeri sendi, tidak stabil saat berjalan, dan koordinasi gerakan tubuh yang buruk.

Pada tahap selanjutnya penderita akan mengalami ketidakmampuan berjalan, cadel, tremor, otot berkedut atau kejang, tertawa dan menangis secara acak dan kompulsif.

Pada tahap akhir penderita akan tetap mengalami gejala sebelumnya namun ditambah dengan kehilangan kemampuan untuk bicara, kesulitan menelan, dan dimensia.

Baca juga: Penyakit Minamata, Ketika Pencemaran Lumpuhkan Rakyat Jepang

Sayangnya tidak ada obat untuk penyakit kuru. Kehilangan koordinasi fungsi tubuh akibat prion tidak dapat disembuhkan, karena prion juga sulit untuk dihilangkan dari otak.

Satu-satunya cara pencegahan penyakit kuru adalah mengahpuskan praktik kanibalisme. Namun tenang saja, Suku Fore telah menghentikan praktik kanibalismenya sekitar 50 tahun yang lalu.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X