Kompas.com - 23/02/2021, 20:14 WIB
Foto seorang anak yang terkena penyakit minamata W. Eugene SmithFoto seorang anak yang terkena penyakit minamata

KOMPAS.com - Pernahkah kamu mendengar tentang penyakit minamata? Penyakit minamata adalah penyakit kelainan pada sistem saraf pusat yang muncul pada akhir tahun 1950-an di Teluk Minamata pesisir Laut Shiranui, Jepang.

Dilansir dari Verywell Health, pandemik minamata diawali oleh perubahan perilaku kucing di Minamata yang kejang-kejang dan terjun ke laut seperti bunuh diri. Penduduk setempat dikejutkan dengan perilaku “gila” kucing-kucing tersebut.

Namun tidak lama disusul dengan gejala aneh pada penduduk setempat yang mengalami gemetar, kejang, kesulitan berjalan, berkurangnya pendengaran, kelumpuhan, hingga kematian.

Dampak yang sangat besar tersebut kemudian mengundang pemerintah jepang untuk meneliti penyebab pandemi di Minamata. Diketahui bahwa penyakit tersebut dikarenakan mengonsumsi ikan dan udang yang terkontaminasi merkuri.

Dilansir dari Boston University, hal tersebut disebabkan oleh pelepasan limbah methyl merkuri dalam jumlah besar oleh pabrik kimia Chisso Coorporation ke teluk Minamata. Hal ini berlangsung selama 36 tahun dan mengakumulasikan limbah merkuri seberat 27 ton.

Meracuni air, ikan, udang, kerang, tumbuhan, dan semua disekitar Teluk Minamata.
Penyakit tersebut kemudian dinamai sesuai asalnya yaitu penyakit minamata.

Menurut Pemerintah Jepang, 1.784 orang mati karena penyakit minamata dan puluhan ribu lainnya menderita gejala berat hingga sekedar gangguan sensori pada sistem sarafnya.

Baca juga: Pengertian Pencemaran Lingkungan dan Jenis-jenisnya

Gejala Penyakit Minamata

Penyakit minamata adalah penyakit gangguan sistem saraf pusat yang ditandai dengan memudarnya indra sensorik (perasa, peraba, penciuman, dan pendengaran), gemetar (tremor), gangguan ingatan, ataksia (terganggunya koordinasi gerakan otot), dan disatria (hilangnya kendali atas otot).

Penyakit minamata dapat berakibat buruk seperti hilangnya seluruh kontrol terhadap otot membuat penderitanya bergerak dan berbicara tanpa terkendali seperti orang gila. Ataksia dari minamata juga dapat menyebabkan kelumpuhan total, koma, dan berujung pada kematian.

Penyakit minamata yang diderita oleh seorang ibu hamil, sangat membahayakan anak dalam kandungannya.

Dilansir dari Medicine, merkuri merusak otak janin yang sedang berkembang, menyebabkan mikrosefalus (kepala yang sangat kecil), keterbelakangan mental, buta, dan juga tuli.

Walaupun gejalanya dapat dikurangi dengan obat-obatan neorologis. Namun hingga saat ini tidak ada obat pasti untuk mengobati penyakit minamata akibat keracunan merkuri.

Oleh karena itu kita harus menghindari penggunaan merkuri dengan memperhatikan apa yang kita makan dan darimana sumber makanan tersebut.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X