Kompas.com - 22/05/2022, 16:05 WIB

KOMPAS.com - Kayu merupakan material yang sangat berguna, mulai untuk bahan bangunan hingga pembuatan furniture.

Sayangnya, limbah yang dihasilkan juga terbilang banyak, misalnya dari potongan, serutan atau serbuk gergaji. Hal itu tentu tentunya menjadi permasalahan tersendiri.

Berbagai solusi dicari untuk mengurai problem tersebut, salah satunya inovasi yang dilakukan oleh Orlando Rojas bersama rekan-rekannya dari University of British Colombia, Kanada.

Baca juga: Studi Terbaru Ungkap Asap Pembakaran Kayu Berisiko Memicu Kanker

Dikutip dari New Scientist, Sabtu (21/5/2022) ia berhasil mendaur ulang limbah kayu menjadi bahan baru yang bahkan lima kali lebih kuat dari kayu alami. Hasil kayu daur ulang itu kemudian disebut 'healed wood'.

Dalam studinya ini, peneliti telah menemukan proses yang melarutkan lignin atau komponen seperti lem di dalam dinding sel tumbuhan.

Peneliti juga mengekspos nanofibril selulosa yang merupakan serat kecil yang juga ditemukan di dinding sel tumbuhan. Metode ini melibatkan pelarut yang disebut dimethylacetamide.

Saat dua potong kayu disatukan dengan menggunakan metode tersebut, nanofibril mengikat dan menciptakan apa yang disebut peneliti sebagai healed wood atau kayu yang sembuh.

Meski tak terlihat seperti kayu alami lagi, potongan yang sudah disatukan itu memiliki sifat mekanik yang lebih baik. Pengujian menunjukkan, bahwa itu lebih tahan terhadap kerusakan daripada baja tahan karat atau paduan titanium.

"Kami mendapatkan kekuatan mekanik yang menggantikan kekuatan material aslinya. Ini bekerja karena kami menggunakan sifat yang melekat pada selulosa, yang merupakan bahan yang mengikat sangat kuat oleh sesuatu yang disebut ikatan hidrogen," kata Rojas.

Baca juga: Pertama di Dunia, Satelit Kayu Bakal Diluncurkan ke Luar Angkasa Tahun Ini

Kayu daur ulang ini tak hanya dapat digunakan kembali untuk membuat sesuatu yang baru, tetapi proses perawatan dapat dilakukan berulang kali pada potongan kayu yang sama untuk memperpanjang masa pakainya.

“Ini adalah cara yang sangat elegan untuk menyembuhkan kayu, menggunakan pelarut selulosa umum, memulihkan dan meningkatkan sifat mekanik bahan ajaib alam,” kata Steve Eichhorn di University of Bristol, Inggris.

Meski begitu, peneliti belum memeriksa berapa biaya yang dibutuhkan bila metode tersebut diaplikasikan ke tingkat industri.

Studi dipublikasikan di Nature Sustainability.

Baca juga: Berumur Lebih dari 12.000 Tahun, Patung Kayu Ini Jadi yang Tertua di Dunia

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Fenomena
Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Oh Begitu
Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Oh Begitu
Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Fenomena
Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Oh Begitu
Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Oh Begitu
Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Fenomena
2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

Oh Begitu
Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena
Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Oh Begitu
Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Oh Begitu
Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Oh Begitu
Kapan Orangtua Perlu Waspada terhadap Cerebral Palsy?

Kapan Orangtua Perlu Waspada terhadap Cerebral Palsy?

Kita
Studi Sebut Manusia Tanam Pohon Zaitun Pertama Kali 7.000 Tahun Lalu

Studi Sebut Manusia Tanam Pohon Zaitun Pertama Kali 7.000 Tahun Lalu

Oh Begitu
Contoh Sendi Pelana dan Cara Kerjanya

Contoh Sendi Pelana dan Cara Kerjanya

Kita
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.