Kompas.com - 21/05/2022, 17:30 WIB

KOMPAS.com - Sebanyak 60 persen kasus osteosarkoma adalah anak-anak dan dewasa muda yang kurang dari 25 tahun. Munculnya osteosarkoma sering kali tidak disadari dan hanya dikira cedera akibat olahraga biasa saja. Bagaimana cara mendeteksinya sejak dini?

Apa itu osteosarkoma?

Dilansir dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, osteosarkoma adalah tumor ganas tulang primer non hemopoetik yang paling sering ditemukan. Insidensi osteosarkoma adalah 9 sampai 11 kasus per 1 juta penduduk per tahun pada usia 15 sampai 19 tahun.

Osteosarkoma paling banyak menyerang lutut dan ujung tulang-tulang panjang. Namun, karena penyebaran kanker ini sangat cepat, tidak menutup kemungkinan kanker akan menyerang semua tulang.

Kanker ini menyerang tulang dan menyebabkan tulang menjadi rapuh. Kanker ini lebih banyak menyerang laki-laki daripada perempuan dengan perbandingan 3 banding 2. Selain itu, penderitanya kebanyakan anak-anak dan remaja.

Gejala

Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, terdapat tiga gejala utama osteosarkoma atau kanker tulang. Gejala osteosarkoma adalah:

  • Nyeri: nyeri yang dialami akan terlokalisasi pada area yang terserang. Karena area paling sering terkena adalah lutut, nyeri ini sering dikira hanya cedera akibat olahraga biasa, seperti terkilir. Nyerinya tidak kunjung reda dan bertambah parah ketika digerakkan.
  • Bengkak: bengkak akan terlihat di sekitar tulang yang terpengaruh dan tampak kemerahan.
  • Tulang rapuh: hal ini membuatkan seseorang menjadi mudah cedera jika terjatuh atau terbentur.
  • Kebas atau mati rasa pada tungkai yang terkena.
  • Terasa benjolan pada tulang.
  • Tubuh terasa lelah.

Baca juga: Benarkah Diurut Setelah Jatuh dari Motor Berisiko Kanker Tulang?

Penyebab

Terdapat beberapa hal yang bisa memicu osteosarkoma, antara lain:

  • Senyawa kimia yang menyebabkan perubahan genetik, contohnya senyawa antrasiklin dan senyawa pengalkil.
  • Virus rous sarkoma yang bisa menyebabkan kanker kurang responsif terhadap kemoterapi.
  • Radiasi. Orang yang memiliki riwayat terapi radiasi sebelumnya lebih rentan terkena osteosarkoma.
  • Penyakit tulang lainnya, seperti penyakit Paget, osteomyelitis kronis, dan osteokondroma.
  • Kelainan genetik, seperti retinoblastoma dan sindrom Li-Fraumeni.

Penting untuk mendeteksi penyakit ini sedini mungkin agar pengobatan bisa menghasilkan tingkat kesembuhan yang lebih baik.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.