Kompas.com - 07/12/2021, 20:24 WIB
Ilustrasi puncak hujan meteor Puppid-Velid. Fenomena hujan meteor yang akan hiasi langit Indonesia, Selasa (7/12/2021) malam. SHUTTERSTOCK/Makarov KonstantinIlustrasi puncak hujan meteor Puppid-Velid. Fenomena hujan meteor yang akan hiasi langit Indonesia, Selasa (7/12/2021) malam.

KOMPAS.com - Fenomena puncak hujan meteor akan kembali terjadi malam hari ini, Selasa (7/12/2021). Hujan meteor Puppid-Velid yang akan menghiasi langit Indonesia.

Puppid-Velid adalah hujan meteor minor yang titik radian atau titik asal kemunculan meteornya berada di dekat bintang Gamma Velorum (Regor).

Bintang gamma Velorum (Regor) ini terletak di konstelasi Vela yang berbatasan juga dengan konstelasi Puppis. 

Peneliti di Pusat Sains dan Antariksan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Andi Pangerang menjelaskan, hujan meteor ini bersumber dari sisa debu Komet 96P/Machholz yang mengorbit Matahari selama 1,93 tahun. 

Baca juga: Fenomena Langit Desember 2021: Super New Moon dan 7 Puncak Hujan Meteor

Andi mengatakan, untuk dapat mengamatai hujan meteor Puppid-Velid ini, Anda bisa menyaksikannya sejak pukul 21.00 waktu setempat hingga keesokan harinya saat akhir fajar bahari atau 25 menit sebelum terbenam Matahari dari arah Tenggara hingga Barat Daya.

Namun, intensitas hujan meteor Puppid-Velid ini tidak sebanyak hujan meteor Phoenicid yang terjadi kemarin malam.

Ketika mencapai puncaknya atau titik zenitnya, intensitas hujan meteor Phoenicid bisa mencapai sekitar 51-100 meteor per jam.

Sementara untuk hujan meteor Puppid-Velid, kata Andi, intensitas di Indonesia berkisar 6 meteor/jam saja di Sabang, hingga 8 meteor/jam di Pulau Rote. 

"Hal ini dikarenakan titik radian berkulminasi pada ketinggian 39-56 derajat arah selatan, sedangkan intensitas hujan meteor saat di zenit sebesar 10 meteor/jam," kata Andi kepada Kompas.com, Selasa (30/11/2021). 

Baca juga: Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Phoenicid Malam Ini, Capai 74 Meteor per Jam

Untuk dapat menyaksikannya, pastikan cuaca cerah dan bebas dari penghalang maupun polusi cahaya di sekitar medan pandang. 

Hal ini dikarenakan intensitas hujan meteor ini berbanding lurus dengan 100 persen minus persentase tutupan awan dan berbanding terbalik dengan skala Bortle.

Untuk diketahui, skala Bortle adalah skala yang menunjukkan tingkat polusi cahaya, semakin besar skalanya maka semakin besar polusi cahaya yang timbul.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.