The Conversation
Wartawan dan akademisi

Platform kolaborasi antara wartawan dan akademisi dalam menyebarluaskan analisis dan riset kepada khalayak luas.

Mengenal Cochrane, Sumber Rujukan Informasi Medis Kepercayaan WHO

Kompas.com - 18/08/2021, 11:05 WIB
Ilustrasi penelitian. ShutterstockIlustrasi penelitian.

Oleh: Teguh Haryo Sasongko

Sulit untuk menentukan validitas dari banyaknya informasi yang tersebar pada masa pandemi. Namun ada sebuah organisasi global nirlaba yang berisi para saintis, praktisi kesehatan, kelompok masyarakat konsumen kesehatan dan para pembuat kebijakan yang menjawab masalah itu.

The Cochrane Collaboration (Cochrane) secara aktif menghasilkan bukti-bukti ilmiah kesehatan dengan metode yang secara internasional diakui validitasnya.

Cochrane menjadi sumber rujukan tepercaya untuk berbagai pertanyaan. Misalnya, obat apa yang efektif dan aman untuk pasien COVID-19? Apa intervensi kesehatan masyarakat yang efektif?

Baca juga: Penularan Sangat Tinggi, WHO Desak Indonesia Perketat dan Perluas PPKM

Sekitar 90% petunjuk resmi yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merujuk kepada bukti bukti ilmiah yang dihasilkan oleh Cochrane.

Rujukan WHO

WHO dan Cochrane telah menjalin kemitraan resmi sejak 2011 dalam upaya menyajikan petunjuk-petunjuk medis, informasi kesehatan masyarakat dan rekomendasi kebijakan kesehatan yang berbasis bukti.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bukti-bukti medis dan kesehatan yang dihasilkan Cochrane ini dipublikasikan sebagai artikel ilmiah dalam Perpustakaan Cochrane melalui jurnal medis Cochrane Database of Systematic Reviews yang merupakan salah satu jurnal ilmiah kesehatan yang paling berpengaruh di dunia.

Yang unik dari Cochrane adalah setiap bukti ilmiah yang diterbitkannya selalu menyertakan ringkasan dalam bahasa sederhana yang relatif mudah dipahami orang awam tanpa latar belakang medis.

Ringkasan ini dapat diakses secara gratis oleh publik dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, di antaranya Melayu.

Cochrane dan COVID-19

Dalam situasi pandemi COVID-19, Cochrane secara khusus menumpukan perhatian pada upaya untuk secepat mungkin menyajikan bukti ilmiah yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, khususnya untuk hal-hal yang diperdebatkan publik.

Beberapa contoh di antaranya melibatkan isu-isu seperti penggunaan Ivermectin, plasma konvalesen, serta suplemen vitamin D.

Pada 28 Juli 2021 Cochrane menerbitkan studinya mengenai ada atau tidaknya manfaat penggunaan Ivermectin untuk COVID-19. Studi ini menganalisis 14 laporan uji klinis yang melibatkan 1.678 pasien.

Berdasarkan studi ini, tidak ditemukan bukti atas adanya kemungkinan manfaat penggunaan Ivermectin, baik dalam hal mencegah infeksi, mencegah perburukan gejala, maupun kematian. Namun demikian, masih ada 31 uji klinis yang sedang berjalan atau belum dilaporkan, yang akan terus dianalisis pada versi studi Cochrane berikutnya.

Baca juga: Sertifikat Vaksin Covid-19 Jadi Syarat Beraktivitas, Ini Kata WHO dan Epidemiolog

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ada Varian Baru Omricon, Akankah Gelombang 3 Pandemi Terjadi Akhir Tahun Ini?

Ada Varian Baru Omricon, Akankah Gelombang 3 Pandemi Terjadi Akhir Tahun Ini?

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Apa Itu Pneumonia yang Dialami Ameer Azzikra | Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

[POPULER SAINS] Apa Itu Pneumonia yang Dialami Ameer Azzikra | Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Oh Begitu
Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Oh Begitu
Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Fenomena
Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Oh Begitu
Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Fenomena
5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

Kita
Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Fenomena
5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

Kita
Ikan di 3 Sungai Besar di Pulau Jawa Terkontaminasi Mikroplastik, Studi Jelaskan

Ikan di 3 Sungai Besar di Pulau Jawa Terkontaminasi Mikroplastik, Studi Jelaskan

Fenomena
Fakta-fakta Tikus Mondok Hidung Bintang, Pemangsa Tercepat di Dunia

Fakta-fakta Tikus Mondok Hidung Bintang, Pemangsa Tercepat di Dunia

Oh Begitu
12 Negara Laporkan Kasus Varian Omicron, dari Italia hingga Australia

12 Negara Laporkan Kasus Varian Omicron, dari Italia hingga Australia

Oh Begitu
Gunung Kilauea, Gunung Berapi Paling Aktif yang Meletus Setiap Tahun

Gunung Kilauea, Gunung Berapi Paling Aktif yang Meletus Setiap Tahun

Oh Begitu
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.