Kompas.com - 02/07/2021, 08:02 WIB
Ilustrasi iron lungs, ventilator pertama yang digunakan pada anak-anak yang terkena polio. Ilustrasi iron lungs, ventilator pertama yang digunakan pada anak-anak yang terkena polio.


KOMPAS.com - Ventilator adalah penemuan besar bagi peradaban manusia. Perjalanan sejarah ventilator berawal dari wabah polio, dan kini perannya sebagai penyelamat pasien di tengah pandemi Covid-19.

Kasus Covid-19 terus meningkat dan menyebabkan rumah sakit kewalahan, hingga kekurangan ventilator.

Penemuan ventilator telah memberikan harapan besar bagi kehidupan pasien yang mengalami gagal napas karena suatu penyakit. Demikian pula di masa pandemi virus corona yang tengah dihadapi masyarakat dunia saat ini.

Ventilator memiliki perjalanan panjang yang luar biasa sejak ditemukan sebelum wabah polio tahun 1931.

Melansir Futurity, Kamis (1/7/2021), pada tahun 1931, wabah polio menyerang anak-anak kecil, banyak dari mereka mengalami kelumpuhan paru-paru akibat penyakit ini.

Tiga tahun sebelum wabah polio menyebar, para ilmuwan di Harvard Medical School, menemukan alat ini. Paru-paru besi yang awalnya hanya sebuah logam kotak berbentuk persegi panjang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Ventilator Buatan UI Lulus Uji Klinis Manusia, Siap Bantu Pasien Covid-19

 

Perjalanan ventilator hingga di masa kini, telah menunjukkan berbagai perubahan bentuk dan desain. Tak seperti penampakan ventilator masa kini, yang dikendalikan dengan komputer, dan pasien hanya perlu berbaring di tempat tidurnya, dengan alat bantu pernapasan yang terpasang di mulut pasien.

Ventilator pertama yang ditemukan saat itu, berukuran besar dan mengharuskan pasien berada di dalamnya, dengan hanya kepala mereka yang menonjol keluar.

Pompa udara dari dua penyedot debu mengubah tekanan di dalam kotak, menarik udara masuk dan keluar dari paru-paru.

Selama tiga dekade berikutnya, paru-paru besi dengan desain yang lebih halus menjadi andalan dalam merawat pasien polio.

Pada tahun 1939, National Foundation for Infantile Paralysis memulai distribusi massal paru-paru besi, yang saat itu, harganya setiap unitnya sekitar 1.500 dollar Amerika, atau seharga rata-rata sebuah rumah.

Kekurangan ventilator juga pernah dialami Amerika pada tahun 1950-an, dalam perjalanan melawan wabah polio, kondisi ini memaksa dokter memasukkan tabung melalui mulut pasien dengan trakeotomi untuk memaksa udara masuk ke paru-paru mereka.

Baca juga: NASA Rancang Ventilator untuk Hadapi Gelombang Kedua Pandemi Corona

Halaman:


Sumber Futurity
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.