Kompas.com - 17/05/2021, 17:02 WIB
Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, Kamis (9/9/2020). Petugas administrasi TPU Pondok Ranggon mengatakan saat ini jumlah makam yang tersedia untuk jenazah dengan protokol COVID-19 tersisa 1.069 lubang makam, dan diperkirakan akan habis pada bulan Oktober apabila kasus kematian akibat COVID-19 terus meningkat. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, Kamis (9/9/2020). Petugas administrasi TPU Pondok Ranggon mengatakan saat ini jumlah makam yang tersedia untuk jenazah dengan protokol COVID-19 tersisa 1.069 lubang makam, dan diperkirakan akan habis pada bulan Oktober apabila kasus kematian akibat COVID-19 terus meningkat.


KOMPAS.com- Baru-baru ini, persentase angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia mengalami peningkatan. Data per 15 Mei 2021, menunjukkan angka kematian Covid-19 sebesar 2,76 persen.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo menegaskan kenaikan angka kematian ini harus dijadikan evaluasi penanganan kasus Covid-19 di tingkat nasional maupun daerah, seperti diberitakan Kompas.com, Minggu (16/5/2021).

"Persentase kematian kita mengalami peningkatan dalam beberapa minggu terakhir ini. Tolong setiap daerah mencermati kembali kemudian melakukan evaluasi dan mempelajari kenapa terjadi kenaikan kematian," kata Doni dalam rapat koordinasi penanganan Covid-19 yang digelar secara virtual.

Apabila dibandingkan dengan angka kematian pada 5 Februari lalu, persentase kematian Covid-19 di Indonesia mengalami kenaikan. Pada 5 Februari lalu persentase kematian akibat Covid-19 di Indonesia mencapai 2,75 persen.

Baca juga: Kematian Covid-19 Tertinggi Selama Pandemi, Rumah Sakit Penuh Berkontribusi

 

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Untuk mengetahui penyebab persentase angka kematian Covid-19 yang naik di Indonesia, Doni meminta agar setiap daerah merinci penyebab tingginya kasus kematian tersebut.

Menanggapi hal ini epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan bahwa angka kematian Covid-19 di Indonesia sejak awal sudah stabil tinggi.

"Kematian itu indikator telat, artinya sebetulnya kalau terjadi, ini berarti ada kebobolan di deteksinya, di sistem penemuan kasusnya," kata Dicky saat dihubungi Kompas.com, Senin (17/5/2021).

Dicky menjelaskan penemuan kasus positif Covid-19 tidak hanya melalui testing. Sebab, bisa juga dilakukan secara aktif, seperti dari rumah ke rumah.

Bahkan, tanpa testing atau pengujian, kalau cepat dilakukan, setelah ditemukan lalu segera isolasi dan karantina, maka hal ini dapat berperan dalam menurunkan potensi kematian akibat Covid-19.

"Tapi masalahnya, program deteksi dini cepat dan secara aktif di rumah-rumah (di Indonesia) masih rendah, belum efektif dilakukan," kata Dicky menjelaskan perihal salah satu penyebab meningkatnya persentase angka kematian akibat Covid-19.

Baca juga: Tsunami Covid-19 India Sebabkan 3.645 Kematian Sehari, Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X