New Normal Bukan Sekadar Membuka Ruang Publik, Begini Kata Ahli

Kompas.com - 29/05/2020, 11:00 WIB
Pembeli menggunakan masker saat belanja kebutuhan pokok di supermarket AEON Mal Serpong, Tangerang, Banten, Selasa (26/5/2020). Pemerintah Indonesia bersiap menerapkan tatanan baru (new normal) dalam waktu dekat. Salah satunya dengan mulai membuka pusat perbelanjaan secara bertahap di bulan Juni mendatang. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPembeli menggunakan masker saat belanja kebutuhan pokok di supermarket AEON Mal Serpong, Tangerang, Banten, Selasa (26/5/2020). Pemerintah Indonesia bersiap menerapkan tatanan baru (new normal) dalam waktu dekat. Salah satunya dengan mulai membuka pusat perbelanjaan secara bertahap di bulan Juni mendatang.

KOMPAS.com - New Normal atau kenormalan baru, ramai diperbincangkan sebagai rencana yang akan diambil setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB) dilonggarkan nantinya.

New normal juga identik dikaitkan dengan pembukaan sarana atau ruang publik, perkantoran, industri, sekolah, dan lain sebagainya. Hal ini agar masyarakat dapat beradaptasi dan beraktivitas seperti biasa meski pandemi Covid-19 belum usai.

Namun ternyata, pakar epidemiologi menegaskan bahwa new normal bukan sekadar skenario membuka ruang publik seperti yang kita bayangkan.

Baca juga: Siapkah Indonesia untuk New Normal?

Apa itu new normal?

Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengatakan, new normal lebih menekankan kepada kesiapan individu terhadap aktivitas di luar rumah meski virus corona SARS-CoV-2 - penyebab Covid-19 - belum lenyap sekali pun.

"Sebenarnya new normal adalah perilaku kita kalau nantinya aktivitas sudah berjalan seperti biasa," kata Pandu kepada Kompas.com, Rabu (27/5/2020).

Nantinya memang ruang publik seperti perkantoran, sekolah, industri, mal, dan lain sebagainya akan dibuka lagi.

Namun yang terpenting dari hal itu, kata Pandu, adalah bagaimana perilaku kita saat berada di ruang publik tersebut.

Setiap pemangku kebijakan dari berbagai sektor - entah sekolah, perkantoran, mal, industri, dll - harus menerapkan standar dan syarat yang harus dipatuhi ketika mulai membuka layanan. Standar dan syarat itu harus tetap mengikuti protokol pencegahan penularan Covid-19.

"Jadi nanti kalau kita mulai bekerja, kantornya seperti apa, penerapan atau aturan yang diberlakukan di kantor seperti apa, dan juga pegawainya harus bagaimana. Itu perlu diperhatikan di kondisi new normal nanti," ujar dia.

Lebih tepatnya, new normal merupakan cara mengatur situasi perilaku penduduk, baik itu masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan ragam sektor lainnya supaya menurunkan risiko terhadap kemungkinan penularan Covid-19, karena virus corona SARS-CoV-2 itu masih ada.

Kapan waktu tepat memulai new normal?

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X