Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 08/05/2020, 19:03 WIB

KOMPAS.com- Tim ilmuwan internasional telah menemukan bukti baru keberadaan sungai yang mengalir di permukaan Mars miliaran tahun yang lalu.

Temuan ini pun menambah lagi wawasan dalam pencarian kehidupan kuno di Planet Merah.

Melansir dari Science Alert, Jumat (8/5/2020), para ilmuwan berhasil mengungkap bukti tersebut setelah menganalisis citra baru beresolusi tinggi dari kamera HiRISE yang terdapat di wahana antariksa NASA, Mars Reconnaissance Orbiter.

Baca juga: NASA: Wahana Antarika Mars Deteksi Kehidupan Kuno di Australia, Kok Bisa?

Citra tersebut diubah menjadi peta topografi 3D dari Hellas Bassin, salah satu kawah terbesar di tata surya yang terdapat di Mars.

Tim kemudian menemukan endapan sedimen setinggi sekitar 200 meter dan lebar 1,5 kilometer.

Di Bumi, batuan sedimen telah digunakan oleh ahli geologi untuk mengetahui kondisi planet di masa lalu.

Gambaran Dataran Planet Marsrizky C Septania/Youtube Gambaran Dataran Planet Mars

Dengan bantuan teknologi, metodologi serupa ini lah yang diterapkan untuk menyelidiki kondisi Mars .

Dari Analisis, peneliti pun mengungkapkan untuk membentuk endapan setebal itu, butuh lingkungan yang mampu mempertahankan volume air mengalir yang signifikan.

Francesco Salese, penulis utama studi dari Universitas Utrecht mengungkapkan sungai-sungai yang membentuk sedimen ini terjadi selama puluhan hingga ratusan ribu tahun.

"Sayangnya kami tak memiliki kemampuan untuk melihat detilnya, tetapi kesamaan yang mencolok dengan batuan sedimen di Bumi menyisakan sedikit imajinasi," ungkap Salese. 

Baca juga: Pertama Kalinya, Ilmuwan Temukan Nitrogen Murni pada Meteorit dari Mars

Para peneliti berharap jika temuan yang telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Communication, itu dapat membantu studi-studi mengenai kehidupan kuno di Mars di masa mendatang.

"Ini adalah satu lagi potongan teka-teki dalam mencari kehidupan di Mars, memberikan wawasan baru tentang seberapa banyak air yang ada di lanskap kuno itu," tambah Joel Davis, peneliti lain yang terlibat dalam studi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+