Kompas.com - 18/09/2021, 15:02 WIB
Ilustrasi pembangunan berkelanjutan, ilustrasi sustainability shutterstock.comIlustrasi pembangunan berkelanjutan, ilustrasi sustainability

JAKARTA, KOMPAS.com - Dunia terancam hancur akibat perubahan iklim. Salah satu faktor yang memengaruhi yakni emisi gas pada bangunan yang tidak ramah lingkungan.

Salah satu langkah yang dinilai solutif untuk mengurangi emisi yaitu dengan melakukan investasi pada bangunan berkelanjutan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Melansir CNBC, perusahaan investasi Taronga Ventures menyampaikan, berdasarkan data PBB, saat ini bangunan mewakili 39 persen dari emisi gas rumah kaca global.

Rinciannya, 28 persen hasil dari emisi operasional bangunan, kemudian 11 persen dari bahan bangunan dan konstruksi.

Baca juga: Perluas Penggunaan Energi Surya, Masyarakat Berpenghasilan Rendah Harus Disubsidi

"Berinvestasi dalam bangunan berkelanjutan dapat menawarkan solusi nyata untuk mengurangi emisi di salah satu sektor paling berpolusi di dunia," kata Avi Naidu, alah satu pendiri dan direktur pelaksana Taronga Ventures.

Dia menambahkan, mungkin banyak orang berpikir bahwa transportasi, metana, serta makanan adalah faktor yang mendorong besar. Padahal sebenarnya lebih ke lingkungan binaan.

"Ini adalah fakta yang tidak diketahui secara luas (termasuk tentang data PBB)," ujar Naidu.

Menurut Naidu, kurangnya kesadaran terkait hal ini menjadi peluang besar bagi investor. Teknologi dan keinginan untuk menghadirkan solusi bangunan berkelanjutan sudah ada.

"Kami juga mulai melihat konsumen dan investor membayar premi untuk produk dan aset yang selaras dengan ESG (environmental, social and corporate governance) dan jauh lebih berkelanjutan," lanjutnya.

Investasi berbasis ESG yang artinya mengedepankan faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola sudah semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Terutama seiring pandemi Covid-19.

"Taronga Ventures berinvestasi dalam solusi bangunan hijau di seluruh rantai nilai. Termasuk desain, konstruksi, dan operasional," imbuhnya.

Saat membangun stok baru, mereka memiliki kesempatan untuk memikirkan bahan yang berbeda, jenis beton yang berbeda, metodologi berbeda yang membuat proses lebih aman, lebih cerdas dan jelas dari perspektif karbon.

Sementara itu, perusahaan bank investasi dan jasa keuangan multinasional asal Amerika Serikat yakni Goldman Sachs menyebut dekarbonisasi ekonomi bisa menjadi peluang pasar hingga 30 triliun dollar AS atau sekitar Rp 427.900 triliun dalam dua dekade mendatang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber CNBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.