Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Siap-siap, Bangunan Liar di Puncak Bogor Bakal Digusur

Kompas.com - 22/04/2024, 19:00 WIB
Aisyah Sekar Ayu Maharani,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

BOGOR, KOMPAS.com - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) segera menertibkan bangunan liar rawan bencana yang ada di sepanjang jalur Puncak, Bogor.

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Menteri ATR/Kepala BPN Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam kunjungan kerjanya ke Desa Cibedug, Ciawi, Senin (22/4/2024).

"Ini akan terus kita pelajari akan kita cek dan kita akan lakukan penertiban seperlunya sesuai dengan yang seharusnya kita tata dengan baik," kata AHY.

AHY pun meminta bantuan dari Pemerintah Kabupaten Bogor untuk mengidentifikasi bangunan mana yang berada di kawasan rawan bencana longsor maupun gempa.

"Kita harus memberikan pemahaman sebelum kita lakukan penertiban," lanjut AHY.

Pada kesempatan tersebut, dirinya turut mengenang jalur Puncak yang menjadi akses utama menuju Bandung sebelum hadinya Jalan Tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang).

Baca juga: Mafia Tanah Rugikan Negara, Begini Janji AHY untuk Memberantasnya

"Jadi jangan sampai ada pembangunan yang bisa membahayakan karena bisa berdampak kepada masyarakat di sekitarnya," tutur AHY.

Sementara berdasarkan arsip Kompas.com, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bogor mencatat ada ratusan bangunan tanpa izin mendirikan bangunan (IMB) berbentuk lapak pedagang kaki lima atau warung prapat (warpat).

"Kurang lebih ada 503 bangunan dan di antara yang memiliki surat-surat kurang lebih 88 bangunan. Sisanya (415 bangunan) yang tidak atau masuknya bangunan liar," ujar Kepala Bidang Ketertiban Umum (Kabid Tibum) Satpol PP Kabupaten Bogor Rhama Khodara, Selasa (10/10/2023).

Bangunan liar tersebut kemudian dipindahkan atau direlokasi ke Rest Area Gunung Mas, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

Namun demikian, masih banyak dijumpai bangunan liar yang berdiri di sepanjang jalur Puncak dan dimanfaatkan sebagai kedai.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com