Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gas Rusia Masih Mengalir ke Eropa Bahkan Capai Rekor Pengiriman Tertinggi

Kompas.com - 02/04/2022, 16:35 WIB
Bernadette Aderi Puspaningrum

Penulis

Sumber Sky News

MOSKWA, KOMPAS.com - Jumlah gas yang mengalir ke Eropa dari Rusia mencapai level tertinggi dalam empat bulan pada Jumat (1/4/2022).

Kremlin sebelumnya mengeluarkan ancaman untuk menghentikan semua pasokan ke negara-negara "tidak bersahabat", yang berpotensi mendatangkan malapetaka.

Baca juga: Putin ke Eropa: Bayar dengan Rubel Mulai 1 April atau Pasokan Gas Dihentikan

Namun ancaman itu tampaknya tak segera aktif pada Jumat (1/4/2022), yang menandai batas waktu bagi negara-negara di Uni Eropa dan di tempat lain untuk mulai membayar gas mereka dalam rubel.

Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya mengatakan Rusia bisa mematikan keran pasokan gas ke Eropa, dan memicu kekurangan energi yang meluas di benua biru itu, mengutip pelanggaran kontrak.

Putin menuntut agar importir gas Rusia di Eropa berhenti membayar dalam dollar dan euro. Sebaliknya, mereka harus membuka rekening rubel di bank-bank Rusia, untuk menopang mata uang negara yang sedang kesulitan akibat sanksi atas serangan Rusia ke Ukraina.

Akan tetapi, Kremlin tampaknya membiarkan pintu terbuka untuk kompromi terakhir, dengan mengatakan bahwa Rusia tidak akan menghentikan semua pasokan segera pada Jumat (1/4/2022). Sebab, pembayaran atas pengiriman yang jatuh tempo setelah 1 April tidak akan dilakukan hingga akhir Mei.

Baca juga: AS dan Uni Eropa Bentuk Gugus Tugas untuk Hentikan Ketergantungan Eropa dari Gas Rusia

Sekitar 60 persen dari impor gas ke Eropa saat ini dibayar dalam euro, dan sisanya dalam dollar.

Pakar energi meyakini kemungkinan Rusia dan Uni Eropa akan mencapai semacam kesepakatan, yang memungkinkan Klien di negara-negara seperti Perancis dan Jerman terus membayar gas Rusia dalam euro dan Gazprom mengubahnya menjadi rubel di Rusia.

"Kepentingan kedua belah pihak adalah untuk menghindari penghentian total aliran (gas Rusia)," kata Leon Izbicki, seorang analis gas alam di Energy Aspects dilansir dari Sky News.

"Eropa perlu menerapkan penjatahan gas, yang akan memiliki konsekuensi besar dan menyebabkan penutupan industri, sementara Rusia akan kehilangan aliran pendapatan lainnya."

Tetapi Gazprom bersikeras pada Jumat (1/4/2022) bahwa pihaknya akan melanjutkan langkah Kremlin tersebut, dan telah mulai mengirim permintaan pengalihan pembayaran ke rubel kepada kliennya.

Baca juga: Ukraina Terkini: Sistem Pertahanan Gagalkan Serangan Rudal Rusia di Odessa

Sementara itu, juru bicara Kremlin mengatakan bahwa perintah Putin untuk menerima pembayaran gas dalam rubel tidak dapat diubah.

“Risiko keseluruhan dari penutupan total lebih rendah menurut pendapat kami,” kata Izbicki, menunjuk pada pengumuman Rusia pada Kamis (31/3/2022) bahwa mereka akan menerima pembayaran dalam dollar atau euro ke rekening mata uang khusus di Gazprombank.

Sanksi Uni Eropa secara khusus mengecualikan Gazprombank, meninggalkan ruang untuk menemukan kompromi.

Para ahli mengatakan pembayaran gas Rusia dalam rubel dapat menopang mata uang Rusia yang goyah dan mendukung nilai tukar, sambil memungkinkan Rusia untuk lebih mudah menavigasi sanksi.

Namun, itu dinilai tidak mungkin mengubah situasi ekonomi negara yang mengerikan secara dramatis.

Aliran gas harian dari Rusia ke Eropa melalui Ukraina mencapai level tertinggi pada Jumat (1/4/2022) sejak November, menurut data Bloomberg.

Baca juga: Turunkan Ketegangan Nuklir dengan Rusia, AS Batalkan Uji Coba Rudal Balistik Antarbenua

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Serangan Ukraina di Belgorod Rusia, 9 Orang Terluka

Serangan Ukraina di Belgorod Rusia, 9 Orang Terluka

Global
Inggris Selidiki Klaim Hamas Terkait Seorang Sandera Terbunuh di Gaza

Inggris Selidiki Klaim Hamas Terkait Seorang Sandera Terbunuh di Gaza

Global
Serangan Drone Ukraina Sebabkan Kebakaran di Kilang Minyak Volgograd Rusia

Serangan Drone Ukraina Sebabkan Kebakaran di Kilang Minyak Volgograd Rusia

Global
PBB Serukan Gencatan Senjata di Gaza Segera, Perang Harus Dihentikan

PBB Serukan Gencatan Senjata di Gaza Segera, Perang Harus Dihentikan

Global
Pendaki Nepal, Kami Rita Sherpa, Klaim Rekor 29 Kali ke Puncak Everest

Pendaki Nepal, Kami Rita Sherpa, Klaim Rekor 29 Kali ke Puncak Everest

Global
4.073 Orang Dievakuasi dari Kharkiv Ukraina akibat Serangan Rusia

4.073 Orang Dievakuasi dari Kharkiv Ukraina akibat Serangan Rusia

Global
Macron Harap Kylian Mbappe Bisa Bela Perancis di Olimpiade 2024

Macron Harap Kylian Mbappe Bisa Bela Perancis di Olimpiade 2024

Global
Swiss Juara Kontes Lagu Eurovision 2024 di Tengah Demo Gaza

Swiss Juara Kontes Lagu Eurovision 2024 di Tengah Demo Gaza

Global
Korsel Sebut Peretas Korea Utara Curi Data Komputer Pengadilan Selama 2 Tahun

Korsel Sebut Peretas Korea Utara Curi Data Komputer Pengadilan Selama 2 Tahun

Global
Rangkuman Hari Ke-808 Serangan Rusia ke Ukraina: Bala Bantuan untuk Kharkiv | AS Prediksi Serangan Terbaru Rusia

Rangkuman Hari Ke-808 Serangan Rusia ke Ukraina: Bala Bantuan untuk Kharkiv | AS Prediksi Serangan Terbaru Rusia

Global
Biden: Gencatan Senjata dengan Israel Bisa Terjadi Secepatnya jika Hamas Bebaskan Sandera

Biden: Gencatan Senjata dengan Israel Bisa Terjadi Secepatnya jika Hamas Bebaskan Sandera

Global
Israel Dikhawatirkan Lakukan Serangan Darat Besar-besaran di Rafah

Israel Dikhawatirkan Lakukan Serangan Darat Besar-besaran di Rafah

Global
Wanita yang Dipenjara Setelah Laporkan Covid-19 di Wuhan pada 2020 Dibebaskan

Wanita yang Dipenjara Setelah Laporkan Covid-19 di Wuhan pada 2020 Dibebaskan

Global
Rusia Klaim Rebut 5 Desa dalam Pertempuran Sengit di Kharkiv

Rusia Klaim Rebut 5 Desa dalam Pertempuran Sengit di Kharkiv

Global
Di Balik Serangan Israel ke Rafah yang Bahkan Tak Bisa Dihalangi AS

Di Balik Serangan Israel ke Rafah yang Bahkan Tak Bisa Dihalangi AS

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com