Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Dr Marcel Petiot, Psikopat Sinting Pembantai Yahudi di Perancis

Kompas.com - 08/08/2021, 14:10 WIB
Tito Hilmawan Reditya

Penulis

Setelah perang berakhir, dia mengikuti program pendidikan akselerasi bagi veteran perang dan menyelesaikan sekolah kedokteran.

Pasca lulus, ia bekerja sebagai dokter magang di rumah sakit jiwa Evreux dan menerima gelar kedokterannya pada bulan Desember 1921. Dia lantas pindah ke Villeneuve-sur-Yonne.

Di sana, dia dikenal sebagai dokter yang diragukan kemampuannya. Beberapa kali, Marcel memasok obat-obatan narkotika dan melakukan aborsi ilegal.

Korban pertama Marcel adalah Louise Delaveau, putri seorang pasien lanjut usia. 

Marcel sempat mencalonkan diri sebagai wali kota dan berhasil, lalu kemudian dipecat, dan maju menjadi anggota DPRD. Kariernya di pemerintahan tak ada yang beres.

Baca juga: Kemenhan AS Akui Pernah Latih 7 Pembunuh Presiden Haiti Jovenel Moise

Di Paris, ia membuka praktik dokter dan tetap memiliki desas desus atas praktik aborsi ilegal dan penyalahgunaan obat-obatan.

Pada tahun 1936, ia diangkat menjadi médecin d'état-civil dengan wewenang untuk menulis sertifikat kematian.

Setelah pecahnya Perang Dunia II dan jatuhnya Perancis di tangan Jerman, Petiot mulai memberikan sertifikat medis palsu kepada warga negara Perancis yang direkrut untuk kerja paksa ke Jerman, dan merawat pekerja sakit yang telah kembali.

Penipuan terbesar Marcel adalah memberikan jasa perjalanan yang aman ke Argentina, AS, atau negara-negara Amerika Latin lainnya melalui Portugal.

Orang-orang yang meminta jasanya diharuskan untuk ke rumahnya terlebih dahulu. Di rumahnya, pembantaian pun terjadi.

Ia menyuntikan korban dengan sianida dan mengambil barang berharga korban lalu membuang mayat korban di Sungai Seine.

Kemudian, Marcel mengubah metode penghilangan mayat dengan cara membakarnya atau menenggelamkannya di dalam air kapur.

Baca juga: Fakta Pembunuh Presiden Haiti Mulai Terkuak, Ini Detilnya

Setelah proses panjang, pada 19 Maret 1946, Marcel divonis mati akibat 135 dakwaan pidana. Ia hanya mengakui membunuh 19 orang.

Akan tetapi, pengadilan memutuskan bahwa Marcel telah membunuh 27 orang. Polisi meyakini bahwa jumlah orang yang dibunuh Marcel lebih banyak.

Dr Petiot Marcel yang sinting akhirnya dipenggal pada 25 Mei 1946 menggunakan guillotine.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Hampir 100 Truk Bantuan Masuk Gaza lewat Dermaga AS

Hampir 100 Truk Bantuan Masuk Gaza lewat Dermaga AS

Global
Presiden Perancis dan Para Menteri Arab Bahas Pendirian Negara Palestina

Presiden Perancis dan Para Menteri Arab Bahas Pendirian Negara Palestina

Global
Usai Keputusan ICJ, Warga Palestina Ingin Tindakan, Bukan Kata-kata

Usai Keputusan ICJ, Warga Palestina Ingin Tindakan, Bukan Kata-kata

Global
[POPULER GLOBAL] Arab Saudi Setop Keluarkan Izin Umrah | Cerita Ayah Tak Mampu Beli iPhone bagi Putrinya

[POPULER GLOBAL] Arab Saudi Setop Keluarkan Izin Umrah | Cerita Ayah Tak Mampu Beli iPhone bagi Putrinya

Global
ICJ Perintahkan Israel Buka Penyeberangan Rafah di antara Mesir dan Gaza

ICJ Perintahkan Israel Buka Penyeberangan Rafah di antara Mesir dan Gaza

Global
Pria Ini Pesan Burger McDonald's dengan Menghapus Semua Unsur, Ini yang Didapat

Pria Ini Pesan Burger McDonald's dengan Menghapus Semua Unsur, Ini yang Didapat

Global
Surat Perintah Penangkapan Netanyahu Disebut Tak Berlaku di Hongaria

Surat Perintah Penangkapan Netanyahu Disebut Tak Berlaku di Hongaria

Global
Singapore Airlines Ubah Aturan Sabuk Pengaman dan Rute Setelah Turbulensi Fatal

Singapore Airlines Ubah Aturan Sabuk Pengaman dan Rute Setelah Turbulensi Fatal

Global
Singapore Airlines Minta Maaf Setelah Penumpang Terluka Keluhkan Diamnya Maskapai

Singapore Airlines Minta Maaf Setelah Penumpang Terluka Keluhkan Diamnya Maskapai

Global
Kepala CIA Bakal ke Paris, Bahas Lagi Gencatan Senjata di Gaza

Kepala CIA Bakal ke Paris, Bahas Lagi Gencatan Senjata di Gaza

Global
Beberapa Sumber: Putin Inginkan Gencatan Senjata di Ukraina Garis Depan

Beberapa Sumber: Putin Inginkan Gencatan Senjata di Ukraina Garis Depan

Global
Mampukah Taiwan Pertahankan Diri jika China Menyerang?

Mampukah Taiwan Pertahankan Diri jika China Menyerang?

Internasional
Kematian Presiden Raisi Membuat Warga Iran Terbagi Jadi Dua Kubu

Kematian Presiden Raisi Membuat Warga Iran Terbagi Jadi Dua Kubu

Internasional
China Uji Coba Rebut Taiwan dalam Lanjutan Latihan Perang

China Uji Coba Rebut Taiwan dalam Lanjutan Latihan Perang

Global
Tanah Longsor di Papua Nugini, Diyakini Lebih dari 100 Orang Tewas

Tanah Longsor di Papua Nugini, Diyakini Lebih dari 100 Orang Tewas

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com