Kompas.com - 24/05/2021, 22:07 WIB
Lebih dari 1.200 penyelamat dikerahkan untuk mencari pelari ultra maraton yanag terjebak cuaca ekstrem di Yellow River Stone Forest. [SS/YOUTUBE/AL JAZEER] SS/YOUTUBE/AL JAZEERLebih dari 1.200 penyelamat dikerahkan untuk mencari pelari ultra maraton yanag terjebak cuaca ekstrem di Yellow River Stone Forest. [SS/YOUTUBE/AL JAZEER]

 BAIYIN, KOMPAS.com - Ungkapan duka, kemarahan, hingga rasa penasaran menggelayuti netizen China menyikapi peristiwa tewasnya 21 pelari akibat cuaca ekstrem di ajang ultra maraton yang digelar di Provinsi Gansu, Sabtu (22/5/2021).

Kematian puluhan pelari ini, menurut anggapan para pengguna media sosial China, terjadi karena pihak penyelenggara tidak siap menghadapi cuaca ekstrem. Akibatnya, para pelari harus menghadapi hujan es dan angin kencang, yang akhirnya menewaskan mereka.

Baca juga: 21 Pelari Ultra Maraton di China Tewas Dihantam Cuaca Ekstrem

Ajang lari akhir-akhir ini memang jadi fenomena tersendiri di China. Banyaknya ajang lari jarak jauh lmembuat pengguna media sosial China khawatir akan kualitas dan pengorganisasiannya.

Ini juga ditambah banyaknya peserta ajang lari yang hanya bertujuan ingin membanggakan pencapaian lari mereka di media sosial.

Tak hanya itu, para peserta biasanya juga memakai legitimasi lomba lari saat melamar kerja untuk meningkatkan kesempatan diterima. Hanya sedikit pelari yang mengikuti ajang perlombaan murni untuk kebugaran.

Televisi China CCTV, dalam sebuah komentar daring pada Minggu (23/5/3/2021), menyatakan bahwa tragedi Gansu harusnya jadi sarana instrospeksi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Perencanaan rute, jaminan keamanan, persiapan medis, penyelamatan darurat, persediaan makanan dan lainnya, harus benar-benar diperhatikan. Ini mengingat antusiasme peserta ajang lomba lari yang semakin meningkat," tulis CCTV.

Ajang lari memang sedang populer di China. Mengutip Asosiasi Atletik China (CAA), "Negeri Panda" menggelar maraton 40 kali lebih banyak pada tahun 2018 dibanding 2014. Bahkan di tahun 2019, CAA melaporkan bahwa ada sekitar 1.900 lomba lari.

Acara terkenal seperti Shanghai Maraton, secara teratur menarik hingga 38 ribu pelari. Semakin bertambahnya tahun, popularitas olahraga lari lewat ajang-ajang yang digelar berbagai pihak tak pernah surut.

Inilah yang oleh media pemerintah China disebut "Demam Maraton", yang sayangnya tidak diikuti dengan hal positif. Banyak aksi kecurangan, ketidakprofesionalan penyelenggara, dan hal lain yang membuat citra ajang lari kian memburuk.

Karena itu, Badan Pengatur Olahraga China sering memberi tahu penyelanggara acara lari di seantero "Negeri Panda" untuk lebih meningkatkan keselamatan.

Singkatnya, antusiasme olahraga populer seperti lari memang harus diperhatikan, tapi tetap tidak boleh mengorbakan keselamatan.

Baca juga: China Selidiki Kematian 21 Pelari Ultra Maraton Akibat Cuaca Ekstrem


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kemenkes Malaysia Klaim Ikut Bantu Peraih Medali Emas Olimpiade Pertama Filipina

Kemenkes Malaysia Klaim Ikut Bantu Peraih Medali Emas Olimpiade Pertama Filipina

Global
Ibu Kota Jepang Catatkan 3.177 Kasus Covid-19 Baru, Rekor dalam 2 Hari Beruntun

Ibu Kota Jepang Catatkan 3.177 Kasus Covid-19 Baru, Rekor dalam 2 Hari Beruntun

Global
Selundupkan Batu Bara Korea Utara ke Indonesia, Pria Australia Ini Dipenjara

Selundupkan Batu Bara Korea Utara ke Indonesia, Pria Australia Ini Dipenjara

Global
Gangster yang Ditakuti Berjuluk 'Si Rambut' Ini Ditangkap dalam Baku Tembak

Gangster yang Ditakuti Berjuluk "Si Rambut" Ini Ditangkap dalam Baku Tembak

Global
Pakar: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir di Dunia yang Keluar dari Krisis Pandemi Covid-19

Pakar: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir di Dunia yang Keluar dari Krisis Pandemi Covid-19

Global
Guncang dan Tampar Keras Atlet Olimpiade, Pelatih Judo Jerman Disorot

Guncang dan Tampar Keras Atlet Olimpiade, Pelatih Judo Jerman Disorot

Global
Kepada China, Taliban Janji Afghanistan Takkan Jadi Sarang Separatis

Kepada China, Taliban Janji Afghanistan Takkan Jadi Sarang Separatis

Global
Kedutaan Kuba di Paris Diserang Bom Molotov, Pejabat Salahkan AS

Kedutaan Kuba di Paris Diserang Bom Molotov, Pejabat Salahkan AS

Global
Ibu Mereka Meninggal karena Covid-19, Keponakan Presiden Tajikistan Pukuli Menkes

Ibu Mereka Meninggal karena Covid-19, Keponakan Presiden Tajikistan Pukuli Menkes

Global
Kebakaran Besar di Oregon Hancurkan Lebih dari 400 Bangunan dan 340 Kendaraan

Kebakaran Besar di Oregon Hancurkan Lebih dari 400 Bangunan dan 340 Kendaraan

Global
Rusia Buat Dua “Pesawat Kiamat” Pusat Komando Udara saat Perang Nuklir

Rusia Buat Dua “Pesawat Kiamat” Pusat Komando Udara saat Perang Nuklir

Global
4 Tahun Setelah Perang di Raqqa, Anak-anak Tinggal di Tengah Kehancuran Kota

4 Tahun Setelah Perang di Raqqa, Anak-anak Tinggal di Tengah Kehancuran Kota

Global
Kakak Cristiano Ronaldo Dirawat karena Pneumonia dari Covid-19

Kakak Cristiano Ronaldo Dirawat karena Pneumonia dari Covid-19

Global
Pasca Presiden Ambil Alih Semua Pemerintahan, Rakyat Tunisia Khawatir Perang Saudara

Pasca Presiden Ambil Alih Semua Pemerintahan, Rakyat Tunisia Khawatir Perang Saudara

Global
Jerman Klaim Setengah Penduduk Negara Sudah Divaksin 2 Kali

Jerman Klaim Setengah Penduduk Negara Sudah Divaksin 2 Kali

Global
komentar
Close Ads X