Korban Meninggal Covid-19 di India Diduga 10 Kali Lipat Lebih Tinggi, Ini Alasannya...

Kompas.com - 23/04/2021, 11:32 WIB
Kerabat memakai alat pelindung diri (APD) saat menghadiri pemakaman seorang pria, yang meninggal akibat terinfeksi virus corona (COVID-19), di sebuah krematorium di New Delhi, India, Rabu (21/4/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/ADNAN ABIDIKerabat memakai alat pelindung diri (APD) saat menghadiri pemakaman seorang pria, yang meninggal akibat terinfeksi virus corona (COVID-19), di sebuah krematorium di New Delhi, India, Rabu (21/4/2021).

Angka itu didapat berdasarkan jumlah jenazah di krematorium yang dihitung. Adapun angka pemerintah setempat total hanya 228.

Di Jamnagar, merujuk pada analisis Financial Times, ada 100 korban Covid-19 yang dikremasi. Namun, hanya satu yang resmi dihitung.

Tantangan yang dihadapi begitu berat. Di ibu kota Delhi, kurang dari 100 ranjang tersedia bagi pasien yang butuh ventilator.

Rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta, meminta otoritas pusat untuk secepatnya menyediakan oksigen.

NDTV memberitakan, enam rumah sakit swasta kehabisan oksigen dan membuat Pengadilan Tinggi Delhi memerintahkan agar suplai segera dibuat.

Di RS Dharamveer Solanki, Dokter Pankaj Solanki harus memastikan 10 pasien di Ruang Perawatan Intensif (ICU) Covid-19 bisa bernapas.

Baca juga: Anggota Komisi IX Minta Pemerintah Perketat Kedatangan WN India ke Indonesia

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dia harus ke vendor oksigen untuk mendapatkan cadangan, dengan sopirnya juga diperintahkan berkeliling.

"Benar-benar melelahkan secara mental. Saya tak sanggup menahannya. Apa yang bakal terjadi dengan pasien?" keluhnya.

Di Patna, Pranay Punj mengungkapkan dia harus berkeliling dari apotek ke apotek guna mencari remdesivir bagi ibunya.

Salah satu apoteker kemudian menerangkan obat itu bisa didapat ke pasar gelap, dengan imbalan 100.000 rupee (Rp 19,3 juta).

Krisis ini tak pelak membuat pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi dikritik, yang sebelumnya mengizinkan festival keagamaan dan acara politik skala besar.

Menteri Perdagangan Piyush Goyal akhir pekan lalu menuding para dokter sudah memberikan "yang tidak perlu" kepada pasien.

Adapun Modi pada Selasa (20/4/2021) menyatakan pemerintahannya berjibaku sekeras mungkin mengalahkan Covid-19.

Baca juga: Varian Mutasi Ganda Picu Lonjakan Kasus Covid-19 India, Ini Kata Ahli

Halaman:
Baca tentang

Sumber Daily Mail
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X