[POPULER GLOBAL] 10 Orang Tewas dalam Penembakan Massal Colorado | Sanksi Bertubi-tubi Hujani Militer Myanmar

Kompas.com - 24/03/2021, 05:15 WIB
Polisi mendatangi lokasi kejadian setelah terjadi penembakan di toko kelontong King Sooper's, kota Boulder, negara bagian Colorado, Amerika Serikat, Senin (22/3/2021). Sebanyak 10 orang termasuk polisi tewas dalam insiden ini. GETTY IMAGES NORTH AMERICA.CHET STRANGE via AFPPolisi mendatangi lokasi kejadian setelah terjadi penembakan di toko kelontong King Sooper's, kota Boulder, negara bagian Colorado, Amerika Serikat, Senin (22/3/2021). Sebanyak 10 orang termasuk polisi tewas dalam insiden ini.

KOMPAS.com - Peristiwa penembakan massal yang terjadi di Colorado, Amerika Serikat (AS), menggegerkan publik AS dan menjadi berita terpopuler dari kanal Global.

Di belahan dunia lain, tepatnya di Myanmar, junta militer dijatuhi sanksi secara bertubi-tubi oleh sejumlah negara sejak mereka melakukan kudeta pada 1 Februari.

Berikut kami rangkumkan berita internasional terpopuler dari Kompas.com edisi Selasa (22/3/2021) hingga Rabu (23/3/2021).

Baca juga: [POPULER GLOBAL] 2 Pria Pemerkosa Dihukum Mati | Balas Dendam Militer Myanmar

1. Penembakan Massal Terjadi di Colorado AS, 10 Orang Tewas

Sepuluh orang, termasuk seorang petugas polisi, tewas dalam penembakan massal di sebuah supermarket di Boulder, Colorado, AS, pada Senin (22/3/2021).

Kepala Polisi Boulder Maris Herold menerangkan, aparat kepolisian menerima laporan telepon tentang letusan senjata dan seseorang dengan "senapan patroli" sekitar pukul 14.30 waktu setempat.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kepada CNN, salah satu sumber penegak hukum senior mengatakan senjata yang digunakan dalam penembakan itu adalah senapan jenis AR-15.

Bagaimana kronologi penembakan tersebut? Baca selengkapnya di sini.

Baca juga: Penembakan Massal Kembali Terjadi di Colorado AS, Setidaknya Sepuluh Orang Tewas

2. Sanksi Bertubi-tubi Hujani Militer Myanmar, dari AS, Uni Eropa, sampai Inggris

Militer Myanmar mendapat serangan sanksi bertubi-tubi dari penjuru dunia mulai dari AS, Uni Eropa, dan Inggris.

Terbaru, pada Senin, AS dan Uni Eropa sama-sama menjatuhkan sanksi ke militer atas kudeta Myanmar dan tindakan keras terhadap para demonstran.

Bahkan tak hanya militer, anak-anak para jenderal pun ikut kena dan polisi Myanmar tak luput dari sanksi.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lengserkan Rezim 12 Tahun, Ini Janji dan Tantangan PM Baru Israel Naftali Bennett

Lengserkan Rezim 12 Tahun, Ini Janji dan Tantangan PM Baru Israel Naftali Bennett

Global
Tahanan Tertua di Guantanamo Bebas Setelah Ditahan Ilegal 16 Tahun Lebih

Tahanan Tertua di Guantanamo Bebas Setelah Ditahan Ilegal 16 Tahun Lebih

Global
Warga Ibu Kota Rusia Akan Diberi Cuti Berbayar guna Redam Lonjakan Covid-19

Warga Ibu Kota Rusia Akan Diberi Cuti Berbayar guna Redam Lonjakan Covid-19

Global
Inilah Kota Paling Layak Huni 2021, Bukan di Eropa, Dekat Indonesia

Inilah Kota Paling Layak Huni 2021, Bukan di Eropa, Dekat Indonesia

Global
Virus Corona Terus Bermutasi, Akankah Muncul Varian Maha Kuat?

Virus Corona Terus Bermutasi, Akankah Muncul Varian Maha Kuat?

Global
China Dituduh Coba Menutupi Kebocoran Radiasi Pembangkit Nuklir Taishan

China Dituduh Coba Menutupi Kebocoran Radiasi Pembangkit Nuklir Taishan

Global
 Pemerintahan Baru Israel Dikhawatirkan Bisa Lebih Keras ke Palestina

Pemerintahan Baru Israel Dikhawatirkan Bisa Lebih Keras ke Palestina

Global
China Protes, Pernyataan G7 Singgung Uighur hingga Asal Usul Covid-19

China Protes, Pernyataan G7 Singgung Uighur hingga Asal Usul Covid-19

Global
Covid-19 di Taiwan Memburuk, Presiden Tsai Ing-wen Minta Maaf

Covid-19 di Taiwan Memburuk, Presiden Tsai Ing-wen Minta Maaf

Global
Penemu Bangkai Kapal Titanic Tawarkan Bantuan Cari MH370, tapi Ditolak

Penemu Bangkai Kapal Titanic Tawarkan Bantuan Cari MH370, tapi Ditolak

Global
Pawai Motor Tanpa Masker, Presiden Brasil Didenda Rp 1,6 Juta

Pawai Motor Tanpa Masker, Presiden Brasil Didenda Rp 1,6 Juta

Global
PM Israel Naftali Bennett Ahli Berbisnis, Pernah Tarik Investor Jutaan Dolar AS

PM Israel Naftali Bennett Ahli Berbisnis, Pernah Tarik Investor Jutaan Dolar AS

Global
Partai Islam Israel yang Menangkan Naftali Bennett Bersumpah Rebut Kembali Tanahnya

Partai Islam Israel yang Menangkan Naftali Bennett Bersumpah Rebut Kembali Tanahnya

Global
Marko Arnautovic dan Arti Selebrasi 'OK' yang Jadi Kontroversi

Marko Arnautovic dan Arti Selebrasi "OK" yang Jadi Kontroversi

Global
Minta Covid-19 Cepat Berakhir, Warga di India Berdoa kepada 'Dewi Corona'

Minta Covid-19 Cepat Berakhir, Warga di India Berdoa kepada "Dewi Corona"

Global
komentar
Close Ads X