Resmi, Pemerintah Nepal dan Pemberontak Komunis Akhirnya Berdamai

Kompas.com - 06/03/2021, 10:03 WIB
Perdana Menteri Nepal Khadga Prassad Oli (kiri) dan pemimpin kelompok Partai Komunis Nepal Netra Bikram Chand (kanan) mengangkat tangan saat penandatanganan perjanjian perdamaian di Kathmandu, Nepal, Jumat (5/3/2021). Chand, yang lebih dikenal dengan nama gerilyawannya Biplav, keluar dari persembunyiannya pada Jumat setelah pemerintah mencabut larangan terhadap kelompoknya sehingga dapat mengambil bagian dalam penandatanganan perjanjian perdamaian. Kelompok ini telah memisahkan diri dari Partai Komunis Maois, yang memerangi pasukan pemerintah antara tahun 1996 hingga 2006, ketika menghentikan pemberontakan bersenjatanya, menyetujui pembicaraan damai yang dipantau PBB dan bergabung dengan politik arus utama. AP PHOTO/NIRANJAN SHRESTHAPerdana Menteri Nepal Khadga Prassad Oli (kiri) dan pemimpin kelompok Partai Komunis Nepal Netra Bikram Chand (kanan) mengangkat tangan saat penandatanganan perjanjian perdamaian di Kathmandu, Nepal, Jumat (5/3/2021). Chand, yang lebih dikenal dengan nama gerilyawannya Biplav, keluar dari persembunyiannya pada Jumat setelah pemerintah mencabut larangan terhadap kelompoknya sehingga dapat mengambil bagian dalam penandatanganan perjanjian perdamaian. Kelompok ini telah memisahkan diri dari Partai Komunis Maois, yang memerangi pasukan pemerintah antara tahun 1996 hingga 2006, ketika menghentikan pemberontakan bersenjatanya, menyetujui pembicaraan damai yang dipantau PBB dan bergabung dengan politik arus utama.

KATHMANDU, KOMPAS.com – Pemerintah Nepal dan kelompok pemberontak komunis secara resmi menandatangani perjanjian damai pada Jumat (5/3/2021).

Perjanjian perdamaian tersebut menandai akhir dari serangan, kekerasan, pemerasan, dan pengeboman dari pemberontak.

Penandatanganan perjanjian damai tersebut ditandanganai oleh Perdana Menteri Nepal Khadga Prasad Oli dan pemimpin pemberontak yang menamakan diri sebagai Partai Komunis Nepal Netra Bikram Chand.

Baca juga: Berhasil Taklukkan Gunung K2 yang Mematikan, 10 Pendaki Nepal Disambut bak Pahlawan

Dilansir dari Associated Press, Jumat, Netra Bikram Chand memiliki nama gerilya Biplav.

Biplav muncul dari persembunyiannya setelah pemerintah Nepal mencabut larangan terhadap Partai Komunis Nepal.

“Nepal telah memasuki era damai. Tidak ada lagi kekerasan di Nepal atau konflik kekerasan yang tersisa di Nepal,” kata Oli dalam upacara tersebut.

Baca juga: 10 Pendaki Nepal Ukir Sejarah dengan Taklukkan Gunung Tertinggi Kedua di Dunia

Di bawah kesepakatan damai, pemerintah akan mencabut larangannya terhadap kelompok tersebut.

Selain itu, pemerintah Nepal juga akan membebaskan semua anggota partai serta pendukungnya dari penjara dan mencabut semua kasus hukum terhadap mereka.

Sebagai gantinya, kelompok pemberontak setuju menghentikan semua kekerasan dan menyelesaikan masalah apa pun melalui dialog damai.

Baca juga: Tanah Longsor Terjadi di Nepal, Tewaskan Sedikitnya 12 Orang

Partai Komunis Nepal merupakan sempalan dari Partai Komunis Maois yang memerangi pasukan pemerintah Nepal antara tahun 1996 hingga 2006.

Setelah itu, Partai Komunis Maois menghentikan pemberontakan bersenjatanya lalu menyetujui pembicaraan damai yang dipantau PBB.

Akhirnya, Partai Komunis Maois bergabung dengan politik arus utama.

Pemberontakan Partai Komunis Maois telah menyebabkan 17.000 orang tewas, ratusan orang hilang, dan banyak orang yang cacat.

Baca juga: Dampak Covid-19 Jadikan Eropa Seperti Negara Komunis dengan Ratusan Tunawisma

 


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jatuh Cinta, Seorang Pastor di Italia Mengundurkan Diri

Jatuh Cinta, Seorang Pastor di Italia Mengundurkan Diri

Global
Ramadhan 2021, KBRI Roma Adakan Beragam Acara Virtual, Ini Jadwalnya

Ramadhan 2021, KBRI Roma Adakan Beragam Acara Virtual, Ini Jadwalnya

Global
Pengantin Gay Thailand Tuntut Netizen Indonesia di Jalur Hukum Usai Diancam Mati

Pengantin Gay Thailand Tuntut Netizen Indonesia di Jalur Hukum Usai Diancam Mati

Global
Nasib Para Mantan Juara Tinju Kenya, Hidup dalam Kemiskinan dan Depresi

Nasib Para Mantan Juara Tinju Kenya, Hidup dalam Kemiskinan dan Depresi

Internasional
Inilah Para Korban Penembakan Maut Aparat Myanmar, dari Penyuka TikTok hingga Tukang Ojek

Inilah Para Korban Penembakan Maut Aparat Myanmar, dari Penyuka TikTok hingga Tukang Ojek

Global
Kelinci Terbesar di Dunia Hilang, Imbalan Rp 20 Juta bagi yang Menemukan

Kelinci Terbesar di Dunia Hilang, Imbalan Rp 20 Juta bagi yang Menemukan

Global
Duterte Siap Lepas Jatah Disuntik Vaksin Covid-19, Ini Alasannya...

Duterte Siap Lepas Jatah Disuntik Vaksin Covid-19, Ini Alasannya...

Global
Istri Kerja Diduga Selingkuh, Suami Membunuhnya di Tengah Jalan dan Dibiarkan Warga

Istri Kerja Diduga Selingkuh, Suami Membunuhnya di Tengah Jalan dan Dibiarkan Warga

Global
Ingin Cium Bau Sepatu Wanita, Pria Ini Nekat Lakukan Pencurian

Ingin Cium Bau Sepatu Wanita, Pria Ini Nekat Lakukan Pencurian

Global
Aligator 3,6 Meter Ini Ditangkap dan Dibedah, Misteri Selama 20 Tahun Terpecahkan

Aligator 3,6 Meter Ini Ditangkap dan Dibedah, Misteri Selama 20 Tahun Terpecahkan

Global
Kisah Perang Salib: Sejarah Perebutan Yerusalem oleh Byzantium Romawi dan Pasukan Muslim

Kisah Perang Salib: Sejarah Perebutan Yerusalem oleh Byzantium Romawi dan Pasukan Muslim

Internasional
Lingkungan Miskin di Brasil Terancam Krisis Kelaparan di Tengah Pandemi Covid-19

Lingkungan Miskin di Brasil Terancam Krisis Kelaparan di Tengah Pandemi Covid-19

Internasional
Dwayne “The Rock” Johnson Pertimbangkan Usulan Jadi Presiden AS, Ini Alasannya

Dwayne “The Rock” Johnson Pertimbangkan Usulan Jadi Presiden AS, Ini Alasannya

Global
China Kecam Rencana Jepang Buang 1,25 Juta Ton Limbah Nuklir ke Laut

China Kecam Rencana Jepang Buang 1,25 Juta Ton Limbah Nuklir ke Laut

Global
Jepang Akan Buang 1,25 Juta Ton Air Limbah Nuklir Fukushima ke Laut

Jepang Akan Buang 1,25 Juta Ton Air Limbah Nuklir Fukushima ke Laut

Global
komentar
Close Ads X