YouTube Hapus 5 Channel di Bawah Kendali Junta Militer Myanmar

Kompas.com - 06/03/2021, 08:56 WIB
Para pengunjuk rasa memegang poster dengan gambar pemimpin sipil yang ditahan Aung San Suu Kyi, selama demonstrasi menentang kudeta militer di Naypyidaw, Myanmar, Minggu (28/2/2021). Sedikitnya 18 orang tewas dan 30 lainnya terluka dalam aksi demonstrasi di Myanmar pada 28 Februari, serta disebut sebagai hari paling berdarah dalam serentetan aksi protes menentang kudeta militer. AFP/STRPara pengunjuk rasa memegang poster dengan gambar pemimpin sipil yang ditahan Aung San Suu Kyi, selama demonstrasi menentang kudeta militer di Naypyidaw, Myanmar, Minggu (28/2/2021). Sedikitnya 18 orang tewas dan 30 lainnya terluka dalam aksi demonstrasi di Myanmar pada 28 Februari, serta disebut sebagai hari paling berdarah dalam serentetan aksi protes menentang kudeta militer.

NAYPIYDAW, KOMPAS.com - YouTube telah menghapus lima channel yang dijalankan oleh junta militer di tengah kekerasan yang sedang berlangsung setelah kudeta Myanmar pada 1 Februari 2021.

YouTube mengatakan pada Jumat (5/3/2021) bahwa mereka telah menghapus channel yang tidak sesuai dengan pedomannya, seperti yang dilansir dari BBC pada Sabtu (6/3/2021).

Myanmar dilanda protes massa yang menuntut berakhirnya peran militer dan dibebaskannya pemimpin terpilih, Aung San Suu Kyi.

Baca juga: Kekerasan Myanmar Makin Tinggi, AS Desak China Ikut Turun Tangan

Banyak pengunjuk rasa kemudian jadi sasaran tembak oleh aparat keamanan.

Hingga Jumat (5/3/2021), setidaknya 55 orang telah tewas akibat tindakan keras polisi di bawah komando junta militer yang berkuasa.

Beberapa channel dihapus oleh YouTube, termasuk jaringan negara MRTV (Myanmar Radio dan Televisi), serta Myawaddy Media milik militer, MWD Variety, dan MWD Myanmar.

Baca juga: Lewat TikTok, Tentara Myanmar Ancam Tembak Muka Para Demonstran

"Kami telah menghentikan sejumlah channel dan menghapus beberapa video dari YouTube sesuai dengan pedoman komunitas kami dan hukum yang berlaku," kata juru bicara YouTube, platform yang dimiliki oleh Alphabet, perusahaan induk Google.

Keputusan YouTube untuk menghapus channel militer muncul sepekan setelah Facebook melarang semua halaman yang dijalankan oleh angkatan bersenjata Myanmar.

Pada Desember, tak lama setelah pemilihan umum Myanmar, Google memblokir 34 saluran YouTube yang terkait dengan negara tersebut.

Baca juga: Militer Makin Keras, Myanmar Mati Listrik Nyaris Senegara

Sebuah tinjauan oleh kantor berita Reuters menemukan banyak puluhan channel yang mempromosikan informasi yang salah tentang pemilu sambil menyamar sebagai outlet berita atau program politik.

Halaman:

Sumber BBC
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menteri Kesehatan Austria Mengundurkan Diri karena Lelah Tangani Pandemi Covid-19

Menteri Kesehatan Austria Mengundurkan Diri karena Lelah Tangani Pandemi Covid-19

Global
Netizen Indonesia Disebut Tak Sopan se-Asia Tenggara, Ini 5 'Serangan' Mereka

Netizen Indonesia Disebut Tak Sopan se-Asia Tenggara, Ini 5 "Serangan" Mereka

Global
Jatuh Cinta, Seorang Pastor di Italia Mengundurkan Diri

Jatuh Cinta, Seorang Pastor di Italia Mengundurkan Diri

Global
Ramadhan 2021, KBRI Roma Adakan Beragam Acara Virtual, Ini Jadwalnya

Ramadhan 2021, KBRI Roma Adakan Beragam Acara Virtual, Ini Jadwalnya

Global
Pengantin Gay Thailand Tuntut Netizen Indonesia di Jalur Hukum Usai Diancam Mati

Pengantin Gay Thailand Tuntut Netizen Indonesia di Jalur Hukum Usai Diancam Mati

Global
Nasib Para Mantan Juara Tinju Kenya, Hidup dalam Kemiskinan dan Depresi

Nasib Para Mantan Juara Tinju Kenya, Hidup dalam Kemiskinan dan Depresi

Internasional
Inilah Para Korban Penembakan Maut Aparat Myanmar, dari Penyuka TikTok hingga Tukang Ojek

Inilah Para Korban Penembakan Maut Aparat Myanmar, dari Penyuka TikTok hingga Tukang Ojek

Global
Kelinci Terbesar di Dunia Hilang, Imbalan Rp 20 Juta bagi yang Menemukan

Kelinci Terbesar di Dunia Hilang, Imbalan Rp 20 Juta bagi yang Menemukan

Global
Duterte Siap Lepas Jatah Disuntik Vaksin Covid-19, Ini Alasannya...

Duterte Siap Lepas Jatah Disuntik Vaksin Covid-19, Ini Alasannya...

Global
Istri Kerja Diduga Selingkuh, Suami Membunuhnya di Tengah Jalan dan Dibiarkan Warga

Istri Kerja Diduga Selingkuh, Suami Membunuhnya di Tengah Jalan dan Dibiarkan Warga

Global
Ingin Cium Bau Sepatu Wanita, Pria Ini Nekat Lakukan Pencurian

Ingin Cium Bau Sepatu Wanita, Pria Ini Nekat Lakukan Pencurian

Global
Aligator 3,6 Meter Ini Ditangkap dan Dibedah, Misteri Selama 20 Tahun Terpecahkan

Aligator 3,6 Meter Ini Ditangkap dan Dibedah, Misteri Selama 20 Tahun Terpecahkan

Global
Kisah Perang Salib: Sejarah Perebutan Yerusalem oleh Byzantium Romawi dan Pasukan Muslim

Kisah Perang Salib: Sejarah Perebutan Yerusalem oleh Byzantium Romawi dan Pasukan Muslim

Internasional
Lingkungan Miskin di Brasil Terancam Krisis Kelaparan di Tengah Pandemi Covid-19

Lingkungan Miskin di Brasil Terancam Krisis Kelaparan di Tengah Pandemi Covid-19

Internasional
Dwayne “The Rock” Johnson Pertimbangkan Usulan Jadi Presiden AS, Ini Alasannya

Dwayne “The Rock” Johnson Pertimbangkan Usulan Jadi Presiden AS, Ini Alasannya

Global
komentar
Close Ads X