Gelang Kaki Merpati yang Terbang Lintas Samudra Pasifik Palsu, Suntik Mati Ditangguhkan

Kompas.com - 15/01/2021, 22:17 WIB
Foto pada 13 Januari 2021 menunjukkan seekor merpati dengan gelang biru tengah bertengger di atap di Melbourne, Australia. Organisasi merpati balap Amerika Serikat menyebut hewan itu terdaftar berdasarkan gelang biru di kakinya. Hewan ini menjadi sorotan setelah pemerintah Australia berniat untuk membunuhnya. Channel 9 via APFoto pada 13 Januari 2021 menunjukkan seekor merpati dengan gelang biru tengah bertengger di atap di Melbourne, Australia. Organisasi merpati balap Amerika Serikat menyebut hewan itu terdaftar berdasarkan gelang biru di kakinya. Hewan ini menjadi sorotan setelah pemerintah Australia berniat untuk membunuhnya.

CANBERRA, KOMPAS.com - Seekor merpati balap yang diduga terbang melintasi Samudra Pasifik atau setara jarak Sabang-Merauke PP dan dinyatakan berisiko biosekuriti, menerima penangguhan hukuman setelah organisasi burung Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa gelang di kaki burung itu palsu.

Melansir Associated Press (AP) gelang pita berwarna biru itu mengindikasikan bahwa burung yang ditemukan di Melbourne pada 26 Desember lalu adalah merpati balap yang meninggalkan Negara Bagian Oregon, AS, 13.000 kilometer jauhnya, 2 bulan sebelumnya.

Akibatnya, Otoritas Australia pada Kamis (14/1/2021) menganggap burung itu berisiko membawa penyakit dan berencana menyuntik mati hewan tersebut.

Akan tetapi, Deone Roberts, manajer pengembangan olahraga untuk American Racing Pigeon Union yang berbasis di Oklahoma mengatakan bahwa gelang pita biru di kaki burung itu palsu.

"Gelang pita burung di Australia itu palsu dan tidak dapat dilacak," ujar Roberts, "Mereka tidak perlu membunuhnya."

Baca juga: Merpati Balap yang Terbang Setara Sabang-Merauke PP Bakal Dibunuh, Pria yang Merawatnya Bercerita

Departemen Pertanian Australia, yang bertanggung jawab atas biosekuriti, setuju bahwa merpati yang dijuluki Joe, mengacu pada nama Presiden AS terpilih Joe Biden, mengenakan gelang pita kaki tiruan alias palsu.

"Setelah penyelidikan, departemen tersebut menyimpulkan bahwa Joe si merpati sangat mungkin adalah binatang Australia dan tidak menimbulkan risiko biosekuriti," ungkap Departemen Pertanian Australia dalam sebuah pernyataan.

Departemen tersebut mengatakan tidak akan mengambil tindakan lebih lanjut.

Warga Melbourne, Kevin Celli-Bird, penemu burung merpati "Joe" merasa senang bahwa burung itu tidak jadi dibunuh.

Celli-Bird-lah yang telah menghubungi American Racing Pigeon Union untuk menemukan pemilik burung berdasarkan nomor di gelang pita kaki. 

Baca juga: Merpati yang Akan Dibunuh Australia Gelang Kakinya Palsu, Belum Pasti dari AS

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PM Muhyiddin Tatap Pemilu Dini untuk Akhiri Kemelut Politik Malaysia

PM Muhyiddin Tatap Pemilu Dini untuk Akhiri Kemelut Politik Malaysia

Global
Mengeluh Mainan Seks Miliknya Rusak, PNS Ukraina Ini Di-bully

Mengeluh Mainan Seks Miliknya Rusak, PNS Ukraina Ini Di-bully

Global
Paus Fransiskus Mengutuk Ekstremisme sebagai Pengkhianatan Terhadap Agama

Paus Fransiskus Mengutuk Ekstremisme sebagai Pengkhianatan Terhadap Agama

Global
Kejutkan Umatnya, Pastor Ini Putar Musik Rap Saat Pimpin Ibadat Online

Kejutkan Umatnya, Pastor Ini Putar Musik Rap Saat Pimpin Ibadat Online

Global
Berusia 95 Tahun, Mahathir Jadi Warga Tertua Malaysia yang Terima Vaksin Covid-19

Berusia 95 Tahun, Mahathir Jadi Warga Tertua Malaysia yang Terima Vaksin Covid-19

Internasional
India Klaim Banyak Warga Myanmar yang Antre di Perbatasan untuk Mengungsi

India Klaim Banyak Warga Myanmar yang Antre di Perbatasan untuk Mengungsi

Global
Militer Myanmar Menolak Jadi Boneka China, Justru Ingin Kerja Sama dengan Barat

Militer Myanmar Menolak Jadi Boneka China, Justru Ingin Kerja Sama dengan Barat

Global
Paus Fransiskus Tiba di Mosul, Kota yang Dihancurkan ISIS, Ini Doanya

Paus Fransiskus Tiba di Mosul, Kota yang Dihancurkan ISIS, Ini Doanya

Global
PM Malaysia Jadi Pemimpin Pertama di Dunia yang Umrah saat Pandemi Covid-19

PM Malaysia Jadi Pemimpin Pertama di Dunia yang Umrah saat Pandemi Covid-19

Global
Dalai Lama Terima Dosis Pertama Covid-19, Desak Semua Orang Divaksin

Dalai Lama Terima Dosis Pertama Covid-19, Desak Semua Orang Divaksin

Global
Demonstran di Negara Bagian AS Ini Bakar Masker: Hiruplah Kebebasan, Sayang!

Demonstran di Negara Bagian AS Ini Bakar Masker: Hiruplah Kebebasan, Sayang!

Global
5 Pesawat Era Perang Dingin yang Masih Andal untuk Bertempur

5 Pesawat Era Perang Dingin yang Masih Andal untuk Bertempur

Internasional
Makam Kyal Sin, Gadis 19 Tahun yang Ditembak Mati, Digali Aparat Myanmar

Makam Kyal Sin, Gadis 19 Tahun yang Ditembak Mati, Digali Aparat Myanmar

Global
Bermodal Rp 100.000, Bisa Jadi 'Jutawan' di Venezuela

Bermodal Rp 100.000, Bisa Jadi "Jutawan" di Venezuela

Global
Ketika Pakaian Dalam dan Rok Perempuan Jadi Senjata Melawan Militer Myanmar

Ketika Pakaian Dalam dan Rok Perempuan Jadi Senjata Melawan Militer Myanmar

Global
komentar
Close Ads X