Putin Puji Keberanian PM Armenia yang Tandatangani Kesepakatan Damai Nagorno-Karabakh

Kompas.com - 02/12/2020, 21:01 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin sedang mendengarkan selama pertemuan di Kremlin, di Moskow, Rusia, Kamis, 19 November 2020. AP/Alexei NikolskyPresiden Rusia Vladimir Putin sedang mendengarkan selama pertemuan di Kremlin, di Moskow, Rusia, Kamis, 19 November 2020.

MOSKWA, KOMPAS.com - Presiden Rusia Vladimir Putin memuji keberanian Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan yang menandatangani kesepakatan Karabakh, lapor AFP, Rabu (2/12/2020).

Kesepakatan damai itu dilakukan atas sengketa Nagorno-Karabakh di mana persetujuan Pashinyan akan kesepakatan itu menuai reaksi serangan di dalam negerinya.

Armenia telah menandatangani perjanjian dengan lawannya, Azerbaijan yang diperantarai oleh Rusia pada 9 November setelah 6 pekan pertempuran sengit memperebutkan wilayah Nagorno-Karabakh, daerah kantung etnis yang memisahkan diri.

Baca juga: 3 Distrik di Nagorno-Karabakh Resmi Diambil Alih, Presiden Azerbaijan: Kemenangan yang Bersejarah

Berlandaskan kesepakatan itu, Armenia menyerahkan 3 distrik di sekitar daerah kantong etnis Armenia selain 4 distrik lain yang diklaim kembali oleh pasukan Azerbaijan selama pertempuran.

Melalui konferensi video, para pemimpin Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) yang dipimpin Moskwa, Putin menyebut keputusan Pashinyan di akhir konflik adalah perlu namun menyakitkan.

"Dibutuhkan banyak keberanian dari pribadi perdana menteri," kata Putin.

"Tugas kami sekarang adalah mendukung perdana menteri dan timnya untuk memastikan perdamaian," tambah presiden Rusia itu.

Baca juga: Erdogan ke Putin: Upaya Gencatan Senjata Nagorno-Karabakh Bisa Mencakup yang Lain

Putin memberikan dukungannya untuk Pashinyan ketika perdana menteri Armenia itu menghadapi tekanan di dalam negerinya.

Sejak pengumuman kesepakatan damai, yang membuat status politik masa depan Karabakh dalam ketidakpastian, pengunjuk rasa secara teratur turun ke jalan di ibu kota Armenia, Yerevan.

Para pengunjuk rasa melabel Pashinyan sebagai "pengkhianat" karena menyetujui kesepakatan itu dan menuntut pengunduran dirinya.

Pihak berwenang Armenia bulan lalu mengatakan mereka telah menggagalkan adanya rencana pembunuhan terhadap perdana menteri.

Baca juga: Armenia Kalah Perang dari Azerbaijan, Nagorno-Karabakh Masuki Babak Baru

Pashinyan, yang istri dan putranya berada di garis depan selama konflik, mengatakan kesepakatan damai adalah satu-satunya pilihan Armenia dan itu memastikan kelangsungan hidup Karabakh.

Meskipun kehilangan sebagian besar wilayah yang disengketakan, masa depannya akan dijamin oleh hampir 2.000 pasukan perdamaian Rusia yang akan dikerahkan untuk mandat 5 tahun yang dapat diperbarui.


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X