Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Majikan Kejam yang Siksa TKI di Singapura Dihukum 10,5 Bulan Penjara

Kompas.com - 21/11/2020, 11:34 WIB

SINGAPURA, KOMPAS.com – Nuur Audadi Yusoff dijatuhi hukuman penjara 10 bulan dan 2 minggu oleh Pengadilan Singapura setelah terbukti bersalah menyiksa berkali-kali pembantunya, seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) bernama Sulis Setyowati.

The Straits Times mengabarkan pertengahan pekan ini, Sulis bahkan harus diam-diam pada dini hari memanjat turun dari balkon apartemen lantai 15 di distrik Yishun, Singapura Utara, tempat dia bekerja untuk meloloskan diri dari kekejaman Nuur.

Kebrutalan si majikan akhirnya diketahui setelah Sulis melaporkannya ke Kepolisian Singapura.
Sulis nekat mengambil resiko tinggi setelah kerap disiksa ketika bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) dari kurun waktu Januari hingga April 2018.

Awal kekejaman Nuur dimulai dengan meludahi dan menampar wajah Sulis.

Baca juga: TKI Parti Kembali Gugat Jaksa yang Tuntut Dia Bersalah, Setelah Sempat Berniat Membatalkan

TKI berusia 24 tahun itu sempat mengajukan pengunduran diri yang ditolak oleh Nuur. Dia ketika itu berjanji tidak akan menganiaya Sulis lagi.

Sulis juga akhirnya memutuskan bertahan karena dia memerlukan gaji sebesar 580 dollar Singapura (Rp 6,1 juta) per bulan untuk menghidupi anaknya di Jawa Timur.

Namun Nuur mengingkari janjinya. Hanya berselang 10 hari, dia mendapati pembantunya itu mengunggah foto anak Nuur di Facebook.

Baca juga: Lari dari Majikan Kejam, TKI Sulis Nekat Turuni Balkon 15 Lantai

Berang, Nuur mendamprat wajah dan tangan TKI malang itu dengan ponsel dan kemudian melempar ponsel korban. Akibatnya, wajah Sulis bersimbah darah.

Setelah kejadian itu, kekejaman Nuur semakin menjadi-jadi. Dia menyita handphone Sulis dan terus menampar, menjambak rambut, menendang kepala dan memukul kepala korban dengan sapu dan payung.

Majikan berusia 31 tahun itu juga menyebut Sulis sebagai seorang pelacur dan menuduhnya telah menggoda suaminya.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Baca juga: Nasib Tragis Jutaan TKI Ilegal di Malaysia saat Pandemi, KBRI Kuala Lumpur Disorot

Hakim Ronald Gwee mengatakan hukuman ini layak dijatuhkan kepada Nuur sebagai peringatan bahwa kekejaman terhadap ART tidak akan ditolerir di Singapura. Apalagi Sulis harus mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan diri.

Nuur mengaku bersalah atas 6 pasal kriminal. Dia juga telah membayar lebih dari 7.000 dollar Singapura (Rp 74 juta) sebagai bentuk kompensasi terhadap Sulis.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Gempa Turkiye: Bapak Pegang Tangan Putrinya yang Tewas, Enggan Melepas meski Cuaca Dingin

Kisah Gempa Turkiye: Bapak Pegang Tangan Putrinya yang Tewas, Enggan Melepas meski Cuaca Dingin

Global
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky Tiba di Inggris, Kunjungan Pertama sejak Invasi Rusia

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky Tiba di Inggris, Kunjungan Pertama sejak Invasi Rusia

Global
Aktor Porno Veteran Ron Jeremy Masuk Rumah Sakit Jiwa

Aktor Porno Veteran Ron Jeremy Masuk Rumah Sakit Jiwa

Global
UPDATE Gempa Turkiye dan Suriah, Korban Tewas Jadi 11.236 Jiwa, 2 di Antaranya WNI

UPDATE Gempa Turkiye dan Suriah, Korban Tewas Jadi 11.236 Jiwa, 2 di Antaranya WNI

Global
Joe Biden Bersumpah Lindungi Kedaulatan AS dari Ancaman China

Joe Biden Bersumpah Lindungi Kedaulatan AS dari Ancaman China

Global
Komunitas Muslim Mindanao Dihancurkan oleh Perang Klan

Komunitas Muslim Mindanao Dihancurkan oleh Perang Klan

Global
Balon Mata-mata China Ternyata Beberapa Kali Lintasi Langit AS di Era Trump

Balon Mata-mata China Ternyata Beberapa Kali Lintasi Langit AS di Era Trump

Global
Microsoft Siap Kalahkan Google, Masukkan ChatGPT dalam Mesin Pencari

Microsoft Siap Kalahkan Google, Masukkan ChatGPT dalam Mesin Pencari

Global
Korban Gempa Turkiye dan Suriah Melewati 9.500, Terbesar dalam Satu Dekade

Korban Gempa Turkiye dan Suriah Melewati 9.500, Terbesar dalam Satu Dekade

Global
Rusia Alami 24 Jam Paling Mematikan Selama Perang, 1.030 Personel Tewas

Rusia Alami 24 Jam Paling Mematikan Selama Perang, 1.030 Personel Tewas

Global
3,2 Ton Kokain Mengambang di Laut, Cukup Banjiri Pasar Selandia Baru Selama 30 Tahun

3,2 Ton Kokain Mengambang di Laut, Cukup Banjiri Pasar Selandia Baru Selama 30 Tahun

Global
1 WNI Tewas Akibat Gempa Turkiye, 2 Masih Belum Bisa Dihubungi

1 WNI Tewas Akibat Gempa Turkiye, 2 Masih Belum Bisa Dihubungi

Global
Studi China Sebut Tidak Ada Varian Baru Covid-19 di Beijing

Studi China Sebut Tidak Ada Varian Baru Covid-19 di Beijing

Global
Pentagon: Beijing Tolak Telepon untuk Bahas Balon Mata-mata China

Pentagon: Beijing Tolak Telepon untuk Bahas Balon Mata-mata China

Global
Ketika Biden Diteriaki “Pembohong” oleh Anggota DPR Saat Pidato Kenegaraan…

Ketika Biden Diteriaki “Pembohong” oleh Anggota DPR Saat Pidato Kenegaraan…

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+