Obat Herbal Afrika Kini Boleh Diuji Klinis untuk Covid-19, WHO Rilis Protokolnya

Kompas.com - 20/09/2020, 17:12 WIB
Sampel Covid Organics atau CVO, dipajang di Antananarivo pada 20 April 2020. Covid Organics atau CVO diproduksi oleh Malagasy Institute of Applied Research (IMRA) yang dibuat dari Artemisia dan diduga membantu mencegah infeksi yang disebabkan oleh virus corona. AFP/RIJASOLOSampel Covid Organics atau CVO, dipajang di Antananarivo pada 20 April 2020. Covid Organics atau CVO diproduksi oleh Malagasy Institute of Applied Research (IMRA) yang dibuat dari Artemisia dan diduga membantu mencegah infeksi yang disebabkan oleh virus corona.

BRAZZAVILLE, KOMPAS.com - Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada Sabtu (19/9/2020) mengesahkan protokol untuk menguji obat-obatan herbal Afrika, sebagai pengobatan potensial untuk virus corona dan epidemi lainnya.

Selain vaksin, obat-obatan tradisional juga dilirik untuk mengobati Covid-19.

Kini dengan perilisan protokol dari WHO, obat-obatan herbal Afrika bisa diuji dengan kriteria serupa uji klinis vaksin di lab-lab Asia, Eropa, atau Amerika.

Baca juga: Butuh Waktu Sekitar 4 Tahun Menyediakan Vaksin Covid-19 untuk Semua Orang di Dunia

Keputusan ini diumumkan beberapa bulan setelah Presiden Madagaskar mempromosikan minuman herbal berbasis Artemisia. Tanaman itu terbukti berkasiat mengobati malaria, tapi usulannya disambut dengan cemoohan banyak orang.

Kemarin para ahli WHO dan kolega dari dua organisasi lain "mengesahkan protokol untuk uji klinis herbal Fase III untuk Covid-19 serta grafik dan kerangka acuan guna pembentukan data, dan dewan pemantauan keamanan untuk uji klinis obat herbal," kata WHO dalam pernyataan yang dikutip AFP.

"Uji klinis Fase III sangat penting dalam menilai sepenuhnya keamanan dan kemanjuran produk medis baru."

Baca juga: Madagaskar Klaim Temukan Jamu Obat Covid-19, WHO Minta Itu Diuji Dulu

"Jika suatu produk obat tradisional ditemukan aman, berkhasiat, dan terjamin kualitasnya, WHO akan merekomendasikan (itu) untuk manufaktur lokal skala besar yang dapat dilacak dengan cepat," ucap Prosper Tumusiime direktur regional WHO sebagaimana dikutip pernyataan itu.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang

Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X