Mesir dan Sudan Khawatirkan Terjadi Kekurangan Air Akibat Pengisian Bendungan GERD

Kompas.com - 28/07/2020, 23:18 WIB
Foto tertanggal 26 Desember 2019 menunjukkan progres pembangunan Waduk Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD). Waduk ini membendung aliran Sungai Nil dan disengketakan oleh Ethiopia, Mesir, dan Sudan. AFP/EDUARDO SOTERASFoto tertanggal 26 Desember 2019 menunjukkan progres pembangunan Waduk Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD). Waduk ini membendung aliran Sungai Nil dan disengketakan oleh Ethiopia, Mesir, dan Sudan.


KAIRO, KOMPAS.com - Mesir dan Sudan mengkritik Ethiopia atas pengisian bendungan Nil Biru, Grand Ethiopia Renaissance Dam (GERD), secara sepihak pada Senin (27/7/2020), untuk mengatur aliran air dari proyek besar.

Sudan dan Mesir sama-sama khawatir bendungan pembangkit listrik tenaga air senilai 4 miliar dollar AS (Rp 58,3 triliun) di Nil Biru dapat menyebabkan kekurangan air di negara mereka.

 

Nil Biru adalah anak sungai Nil, yang mana 100 juta orang Mesir mendapatkan 90 persen pasokan air bersih dari sana.

Hampir satu dekade negosiasi panjang telah gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengatur bagaimana Ethiopia akan mengisi reservoir dan mengoperasikan bendungan dengan tetap melindungi persediaan air bersih di Mesir yang langka.

Baca juga: Ayah di Mesir Lempar 3 Anaknya di Kereta yang Tengah Melintas

Bendungan GERD sedang dibangun sekitar 15 kilometer dari perbatasan dengan Sudan.

Pekan lalu, Ethiopia mengatakan mereka membutuhkan bendungan untuk menghasilkan pembangkit listrik bagi rakyatnya dan saat ini telah mencapai target tahun pertama untuk mengisi reservoir, berkat musim hujan yang deras.

Kementerian Irigasi Mesir mengatakan, Mesir dan Sudan menyayangkan tentang "pengisian sepihak" bendungan Nil Biru, yang mereka katakan "membayangi pertemuan itu dan mengajukan banyak pertanyaan tentang kelayakan proses negosiasi yang terjadi untuk mencapai kesepakatan yang adil."

Sudan mengatakan tindakan Ethiopia adalah "preseden yang berbahaya dan mengganggu dalam proses kerja sama antara negara-negara yang bersangkutan", menurut sebuah pernyataan dari Kementerian Irigasi.

Baca juga: Sengketa Bendungan Sungai Nil antara Mesir, Ethiopia, dan Sudan

Sementara itu, tidak ada tanggapan langsung dari Ethiopia.

Di antara masalah yang diperdebatkan dalam diskusi, yang dimediasi oleh Uni Afrika, adalah bagaimana bendungan akan beroperasi selama "tahun-tahun kering" berkurangnya curah hujan, dan apakah perjanjian dan mekanisme untuk menyelesaikan sengketa harus mengikat secara hukum.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X