Kompas.com - 25/06/2020, 11:28 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kanan) dan Presiden Korea Selatan Moon jae-in melambaikan tangan menyapa warga di Pyongyang Selasa (18/9/2018). Moon memulai kunjungan selama tiga hari dengan denuklirisasi menjadi agenda utama. AFP/Pyeongyang Press CorpsPemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kanan) dan Presiden Korea Selatan Moon jae-in melambaikan tangan menyapa warga di Pyongyang Selasa (18/9/2018). Moon memulai kunjungan selama tiga hari dengan denuklirisasi menjadi agenda utama.

SEOUL, KOMPAS.com - Korea Selatan dan Amerika Serikat pada Kamis (25/6/2020) mengafirmasi kembali komitmen mereka dalam mempertahankan "perdamaian yang diperjuangkan dengan keras" di Semenanjung Korea sekaligus menandai peringatan 70 tahun Perang Korea.

Komunis Korea Utara menyerbu Korea Selatan yang didukung AS pada 25 Juni 1950, memicu perang tiga tahun yang membunuh jutaan warga sipil.

Pertempuran itu berakhir dengan gencatan senjata yang sampai saat ini belum berubah menjadi perjanjian damai.

Baca juga: Korea Selatan Minta Korea Utara Hentikan Rencana Kirim 12 Juta Selebaran Propaganda

 

Membuat Semenanjung Korea terbagi dalam zona demiliterisasi dan kedua Korea masih dalam kondisi perang.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Pada hari ini, pada tahun 1950, aliansi militer AS-Republik Korea lahir dan bertempur habis-habisan," ujar Menteri Pertahanan AS Mark Esper dan mitranya dari Korea Selatan, Jeong Kyeong-doo dalam sebuah pernyataan bersama.

Baca juga: Korea Utara Mulai Pasang Lagi Pengeras Suara untuk Propaganda

"Baik militer AS mau pun Korsel telah melakukan pengorbanan, keberanian dan mewarisi kepada orang-orang yang mereka tinggalkan, sebuah negara bebas, demokratis dan makmur," ungkap Jeong Kyeong-doo.

Kementerian Pertahanan Seoul mengungkapnya angka korban jiwa dari konflik militer itu sebanyak 520.000 dari Korea Utara, 137.000 dari Korea Selatan dan 37.000 dari Amerika Serikat.

Hubungan Seoul dengan Washington sempat menegang beberapa tahun belakangan dengan pemerintahan Trump yang meminta agar Korea membayar lebih untuk biaya penjagaan 28.500 tentara AS di Semenanjung Korea yang melindungi Selatan dari tetangganya yang bersenjata nuklir.

Baca juga: Provokasi Korea Utara demi Memperkuat Status Adik Kim Jong Un

Meski begitu, AS tetap berkomitmen untuk mempertahankan perdamaian yang diperjuangkan dengan keras di Semenanjung Korea.

Peringatan 70 tahun ini dilakukan setelah ikatan antar-Korea masih membeku pasca pemulihan hubungan mereka pada 2018 yang membawa pada tiga pertemuan puncak antara pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in.

Sementara itu, pada Rabu kemarin, Kim Jong Un dikabarkan telah menunda aksi militernya terhadap Korea Selatan, buntut dari ketegangan keduanya setelah Korut meledakkan kantor penghubung yang melambangkan kerja sama antar-Korea di sisi perbatasan.

Baca juga: Militer Korea Utara Siap Beraksi Melawan Korea Selatan

Editorial JoongAng Daily Korea Selatan pada Kamis (25/6/2020) memperingatkan bahwa peristiwa baru-baru ini menunjukkan bahwa hubungan antar-Korea dapat berubah menjadi 'situasi yang tidak aman' kapan saja. 

Ada pun terhadap Pemerintah Korea Selatan, editorial JoongAng Daily mengatakan Pemerintah Korea Selatan 'secara terus-menerus menutup mata' terhadap provokasi Pyongyang dan menghasilkan terlambatnya rasa aman.

"Tidak ada yang gratis dalam menjaga perdamaian," editorial itu menambahkan, "Kami berharap pemerintah dan kementerian pertahanan merenungkan secara mendalam pelajaran 70 tahun yang lalu."


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Israel Makin Canggih, Kini Punya Laser untuk Tembak Jatuh Drone

Israel Makin Canggih, Kini Punya Laser untuk Tembak Jatuh Drone

Global
Puluhan Anjing Diselamatkan Aktivis Sebelum Jadi Hidangan di Festival Daging Anjing di China

Puluhan Anjing Diselamatkan Aktivis Sebelum Jadi Hidangan di Festival Daging Anjing di China

Global
Pemimpin Junta Militer Myanmar ke Luar Negeri untuk Kedua Kalinya Pasca-KTT

Pemimpin Junta Militer Myanmar ke Luar Negeri untuk Kedua Kalinya Pasca-KTT

Global
Terkait Nuklir, PM Baru Israel Sebut Presiden Baru Iran Algojo Brutal

Terkait Nuklir, PM Baru Israel Sebut Presiden Baru Iran Algojo Brutal

Global
Viral, Video Guru Telepon Satu-satu Muridnya karena Hanya 10 yang Masuk Kelas Online

Viral, Video Guru Telepon Satu-satu Muridnya karena Hanya 10 yang Masuk Kelas Online

Global
Sama-sama Disegani, Inilah Perbandingan Pasukan Khusus Iran dan Israel

Sama-sama Disegani, Inilah Perbandingan Pasukan Khusus Iran dan Israel

Global
Covid-19 Indonesia Tembus 2 Juta Kasus, Beritanya Populer di Media Asing

Covid-19 Indonesia Tembus 2 Juta Kasus, Beritanya Populer di Media Asing

Global
Gajah di Thailand Jebol Tembok Dapur Rumah Orang dan Curi Sekantong Beras

Gajah di Thailand Jebol Tembok Dapur Rumah Orang dan Curi Sekantong Beras

Global
Inspirasi Energi: Peluang dan Tantangan Menuju Nol Emisi Karbon

Inspirasi Energi: Peluang dan Tantangan Menuju Nol Emisi Karbon

Internasional
Parlemen Swedia Loloskan Mosi Tidak Percaya terhadap PM Stefan Lofven

Parlemen Swedia Loloskan Mosi Tidak Percaya terhadap PM Stefan Lofven

Global
Pacar Selingkuh dengan Kakek, Pria Ini Kaget Anaknya Ternyata adalah Pamannya

Pacar Selingkuh dengan Kakek, Pria Ini Kaget Anaknya Ternyata adalah Pamannya

Global
Angelina Jolie Kunjungi Pengungsi Korban Konflik Mali di Burkina Faso

Angelina Jolie Kunjungi Pengungsi Korban Konflik Mali di Burkina Faso

Global
China Klaim Sudah Beri Satu Miliar Dosis Vaksin Covid-19 pada Warganya

China Klaim Sudah Beri Satu Miliar Dosis Vaksin Covid-19 pada Warganya

Global
 Laboratorium Wuhan Jadi Kandidat Penghargaan Sains untuk Penelitian Covid-19

Laboratorium Wuhan Jadi Kandidat Penghargaan Sains untuk Penelitian Covid-19

Global
Asisten Profesor di Jerman Ditangkap, Diduga Jadi Mata-mata Rusia

Asisten Profesor di Jerman Ditangkap, Diduga Jadi Mata-mata Rusia

Global
komentar
Close Ads X