Korea Selatan Minta Korea Utara Hentikan Rencana Kirim 12 Juta Selebaran Propaganda

Kompas.com - 23/06/2020, 15:13 WIB
Foto yang dirilis pada 20 Juni 2020, oleh pemerintah Korea Utara menunjukkan warga mempersiapkan selebaran anti-Korea Selatan. Korea Selatan meminta tetangganya itu untuk menghentikan rencana menyebarkan 12 juta selebaran propaganda, yang bisa menjadi aksi terbesar selama 70 tahun rivalitas dua Korea. Korean Central News Agency/Korea News Service via APFoto yang dirilis pada 20 Juni 2020, oleh pemerintah Korea Utara menunjukkan warga mempersiapkan selebaran anti-Korea Selatan. Korea Selatan meminta tetangganya itu untuk menghentikan rencana menyebarkan 12 juta selebaran propaganda, yang bisa menjadi aksi terbesar selama 70 tahun rivalitas dua Korea.

SEOUL, KOMPAS.com - Korea Selatan meminta kepada tetangganya, Korea Utara, untuk menghentikan upaya menyebarkan 12 juta selebaran berisi propaganda ke wilayahnya.

Tensi di Semenanjung Korea meningkat dalam beberapa pekan terakhir, dimulai dari penghancuran kantor perwakilan dua negara di Kaesong.

Kemudian Korea Utara mengancam bakal mengerahkan militer, dengan yang terakhir mereka menyatakan sudah mencetak 12 juta selebaran propaganda.

Baca juga: 12 Juta Selebaran Anti-Korsel Siap Disebar, Korut: Pembalasan Sudah Dekat

Berbagai ancaman itu terjadi buntut pembelot Korut yang sering mengirim propaganda melawan Kim Jong Un di perbatasan Korea Selatan.

Jika Pyongyang benar-benar menjatuhkan jutaan pamflet, itu akan menjadi aksi propaganda terbesar yang mereka lakukan kepada rivalnya tersebut.

Seoul pun bereaksi, di mana mereka meminta Korut untuk membatalkan rencana itu, di mana aksi tersebut "tidak akan memperbaiki relasi".

Namun Pyongyang tak peduli. Mereka bahkan sudah mengklaim bakal mengirim selebaran ke "wilayah musuh" menggunakan 3.000 balon.

Beberapa pakar memprediksi, Korut kemungkinan akan menggunakan drone, yang biasanya dibanggakan oleh Pyongyang, jika cuacanya tak mendukung.

Dalam editorial KCNA, keputusan mereka untuk menyebarkan selebaran merupakan bentuk "kemarahan yang tak terpadamkan dari rakyat".

"Waktu pembalasan sudah semakin dekat," koar media pemerintah tersebut sebagaimana diberitakan Sky News Senin (22/6/2020).

Baca juga: Korea Utara Mulai Pasang Lagi Pengeras Suara untuk Propaganda

Halaman:

Sumber Sky News
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wanita Ini Dipukul oleh 3 Pria karena Pakai Rok

Wanita Ini Dipukul oleh 3 Pria karena Pakai Rok

Global
Usai Kasus Li Wenliang, Beijing Buat UU Baru Khusus Nakes 'Whistleblower'

Usai Kasus Li Wenliang, Beijing Buat UU Baru Khusus Nakes "Whistleblower"

Global
Perang Azerbaijan-Armenia di Nagorny Karabakh Masuki Hari Kedua, 39 Orang Tewas

Perang Azerbaijan-Armenia di Nagorny Karabakh Masuki Hari Kedua, 39 Orang Tewas

Global
Diguncang Aksi Protes, Presiden Mesir Peringatkan Gangguan Stabilitas Nasional

Diguncang Aksi Protes, Presiden Mesir Peringatkan Gangguan Stabilitas Nasional

Global
KTT G20 Akan Digelar Virtual November, Arab Saudi Tuan Rumahnya

KTT G20 Akan Digelar Virtual November, Arab Saudi Tuan Rumahnya

Global
Perang Azerbaijan-Armenia, PM Nikol Pashinyan: Campur Tangan Turki Akan Ciptakan Ketidakstabilan

Perang Azerbaijan-Armenia, PM Nikol Pashinyan: Campur Tangan Turki Akan Ciptakan Ketidakstabilan

Global
Alasan Trump Masih 'Ngotot' Minta Biden Tes Narkoba Jelang Debat Capres Pertama

Alasan Trump Masih "Ngotot" Minta Biden Tes Narkoba Jelang Debat Capres Pertama

Global
Sebelum Dibunuh, Pejabat Korsel Coba Diselamatkan oleh Tentara Korut

Sebelum Dibunuh, Pejabat Korsel Coba Diselamatkan oleh Tentara Korut

Global
Pengangguran di Australia: 6.000 Orang Melamar Jadi Pencuci Piring

Pengangguran di Australia: 6.000 Orang Melamar Jadi Pencuci Piring

Global
Busana Indonesia Karya Maquinn Couture Pukau 170 Tamu Undangan Milan Fashion Week

Busana Indonesia Karya Maquinn Couture Pukau 170 Tamu Undangan Milan Fashion Week

Global
Dicalonkan Trump Jadi Hakim Agung, Siapa Amy Coney Barrett?

Dicalonkan Trump Jadi Hakim Agung, Siapa Amy Coney Barrett?

Global
Diserang Gorila, Pawang Kebun Binatang di Spanyol Terluka Parah

Diserang Gorila, Pawang Kebun Binatang di Spanyol Terluka Parah

Global
Presiden Azerbaijan: Armenia Menembaki Permukiman dan Pangkalan Militer Kami

Presiden Azerbaijan: Armenia Menembaki Permukiman dan Pangkalan Militer Kami

Global
Konflik Azerbaijan-Armenia, Negara di Timur Tengah dan Asia Suarakan Keprihatinan

Konflik Azerbaijan-Armenia, Negara di Timur Tengah dan Asia Suarakan Keprihatinan

Global
Dubes Lutfi Ajak Warga Indonesia di AS jadi Duta Bangsa

Dubes Lutfi Ajak Warga Indonesia di AS jadi Duta Bangsa

Global
komentar
Close Ads X