Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Makna di Balik Lagu Pop Propaganda Korea Utara yang Ternyata banyak Disukai Pengguna TikTok

Kompas.com - 05/05/2024, 10:12 WIB
BBC News Indonesia,
Irawan Sapto Adhi

Tim Redaksi

Penulis: Frances Mao, BBC News melaporkan dari Singapura

PYONGYANG, KOMPAS.com - Ketika Kim Jong-un merilis lagu propaganda terbarunya dua pekan lalu, mungkin dia tidak menyangka bahwa lagu tersebut banyak disukai pengguna aplikasi media sosial TikTok.

Dengan irama synth-electro, lagu bertajuk "Friendly Father" menjadi viral di aplikasi media sosial yang banyak digunakan khalayak Gen Z.

Lagu itu memuji Kim Jong-un yang mengancam akan "memusnahkan" Amerika Serikat, melanggar sanksi PBB, dan meluncurkan berbagai rudal balistik.

Baca juga: Kim Jong Un Rilis Lagu, Lirik Sarat Pujian untuk Pemimpin Korea Utara

“Ayo nyanyikan Kim Jong-un, pemimpin hebat/Mari kita banggakan Kim Jong-un, ayah kita yang ramah,” demikian petikan lirik lagu tersebut.

Itu lagu yang sangat bagus, kata pengguna.

“Taylor Swift tidak menyangka akan langsung tersingkir setelah merilis album barunya,” tulis salah satu pengguna TikTok dengan nada bercanda.

“Lagu ini pantas mendapat Grammy. (Lagu) ini sangat distopia dalam cara yang paling menarik,” sebut beberapa komentar di bawah video TikTok tersebut.

Kebanyakan tidak menyadari makna liriknya. Padahal, di balik lagu pop yang ceria itu terdapat sesuatu yang tersembunyi dan lebih menyeramkan, kata para ahli.

Cara menciptakan propaganda yang banyak disukai

"Friendly Father" hanyalah satu dari berbagai lagu propaganda yang dihasilkan oleh para pembuat lagu pop Korea Utara dalam 50 tahun terakhir.

Lagunya ceria, dengan ketukan penuh semangat, dan gampang diingat. Irama dan hook-nya tidak jauh berbeda dengan lagu-lagu pop hits buatan Barat, meski punya ciri khas ala Soviet pada era tertentu.

“Lagu tersebut seperti ditulis oleh (kelompok musik) Abba. Lagunya ceria, gampang diingat, dan kaya rangkaian suara orkestra yang sangat menonjol,” kata Peter Moody, analis Korea Utara di Universitas Korea.

Baca juga: Rusia Dilaporkan Kirimkan Bahan Bakar ke Korea Utara Melebihi Batasan PBB

Namun ada aturan dasar ketika menulis lagu yang ditujukan untuk menembus pikiran, bukan hanya populer.

Kunci nada mayor? Kunci nada kecil? Komposer harus menulis di dalam ruang yang ditentukan, kata Alexandra Leonzini, seorang sarjana Universitas Cambridge yang meneliti sejarah musik Korea Utara.

Tidak ada ruang untuk lirik abstrak atau pengaturan waktu yang terlalu rumit. Melodi harus sederhana – sesuatu yang mudah dipahami orang.

Nadanya harus diatur dalam rentang vokal tertentu sehingga semua orang dapat menyanyikannya.

Tidak ada riff multi-oktaf meskipun Korea Utara mempunyai banyak penyanyi berbakat, kata Leonzini. Massa tidak bisa mengikuti olah vokal berlebihan sehingga yang rumit-rumit harus dihilangkan.

Kumpulan lagu propaganda jarang berisi lagu yang penuh emosi.

Halaman:

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com