Diancam Kim Yo Jong, Korsel Janji Larang Propaganda Pembelot

Kompas.com - 05/06/2020, 14:54 WIB
Korea Selatan mengatakan pihaknya berencana untuk mendorong Undang-undang baru untuk melarang aktivis menerbangkan selebaran anti-Pyongyang di atas perbatasan setelah Korea Utara mengancam akan mengakhiri perjanjian militer antar-Korea yang dicapai pada 2018 jika Seoul gagal menindaklanjuti permasalahan tersebut. Foto diambil pada 29 Juli 2010, Aktivis konservatif Korea Selatan meluncurkan balon yang membawa selebaran yang mengecam pemimpin Korea Utara Kim Jong Il selama rapat umum di Hwacheon, Korea Selatan. AP/Ahn Young-joonKorea Selatan mengatakan pihaknya berencana untuk mendorong Undang-undang baru untuk melarang aktivis menerbangkan selebaran anti-Pyongyang di atas perbatasan setelah Korea Utara mengancam akan mengakhiri perjanjian militer antar-Korea yang dicapai pada 2018 jika Seoul gagal menindaklanjuti permasalahan tersebut. Foto diambil pada 29 Juli 2010, Aktivis konservatif Korea Selatan meluncurkan balon yang membawa selebaran yang mengecam pemimpin Korea Utara Kim Jong Il selama rapat umum di Hwacheon, Korea Selatan.

SEOUL, KOMPAS.com - Korea Selatan pada Kamis (4/6/2020) merencanakan akan membuat Undang-undang baru terkait larangan kepada aktivis pembelot Korea Utara yang kerap menerbangkan balon berisi selebaran anti-Pyongyang di perbatasan Korea Selatan dengan Korea Utara.

Dilansir The Associated Press, rencana itu datang setelah ancaman disampaikan oleh adik pemimpin tertinggi Kim Jong Un, Kim Yo Jong.

Wanita itu mengancam akan memutuskan perjanjian militer dengan Korsel begitu pun akan menutup kantor penghubung di perbatasan mereka jika Korsel gagal menghentikan para pemrotes yang menebar pesan anti-Pyongyang.

Baca juga: Kim Yo Jong, Adik Kim Jong Un, Ancam Batalkan Perjanjian Militer dengan Korsel

Para aktivis mengirim balon melintasi perbatasan adalah agenda umum bertahun-tahun. Namun, Korea Utara menganggap aksi itu sebagai serangan terhadap pemerintahan mereka.

Para pembelot dan aktivis dalam beberapa pekan terakhir menggunakan balon itu untuk menerbangkan selebaran yang mengkritik pemimpin otoriter Korea Utara, Kim Jong Un atas ambisi nuklirnya dan atas catatan pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan.

Meski pun Seoul terkadang mengirim petugas polisi untuk memblokir kegiatan semacam itu selama masa-masa sensitif, Seoul menolak seruan Korea Utara untuk melarang mereka sepenuhnya, dengan mengatakan para aktivis menjalankan kebebasan mereka.

Baca juga: Diancam Adik Kim Jong Un, Kim Yo Jong, Ini Sikap Korea Selatan

Dalam pernyataannya yang dirilis melalui media pemerintah, Kim Yo Jong menyebut para pembelot yang terlibat dalam peluncuran balon dengan sebutan 'sampah manusia' dan 'anjing mongrel' yang mengkhianati tanah air dan mengatakan bahwa sudah saatnya Korut membawa pertanggung jawaban pemilik mereka, yakni menuntut pemerintah Korsel.

Juru bciara Kementerian Unifikasi Korea Selatan, Yoh Sang Key mengatakan kampanye balon itu mengancam keselamatan penduduk yang tinggal di daerah perbatasan dan bahwa pemerintahnya akan mendorong perubahan hukum secara fundamental.

Ketika ditanya apakah Kementerian Unifikasi akan secara khusus menyatakan penyesalan terhadap ancaman Korea Utara yang membatalkan perjanjian internal Korsel-Korut, Yoh mengatakan, "Kami akan mengganti pernyataan evaluasi (Korut) kami dengan pengumuman posisi pemerintahan (akan masalah ini)."

Baca juga: Profil Kim Yo Jong, Calon Penerus Dinasti Kim jika Kim Jong Un Meninggal

Partai liberal Korea Selatan yang berkuasa dan partai satelitnya memiliki 180 kursi di 300 kursi Majelis Nasional setelah memenangkan pemilihan April, memberikannya mayoritas kuat untuk memenangkan persetujuan atas proposal di parlemen.

Seorang pejabat anonim dari kantor kepresidenan Seoul mengatakan peluncuran balon itu "membahayakan dan tidak baik" dan bahwa pemerintah akan "merespons dengan tegas" aktivitas yang mengancam keamanan.

Pada 2014, tentara saling tembak setelah aktivis Korea Selatan merilis balon propaganda di Zona Demiliterisasi, tetapi tidak ada korban yang dilaporkan.

Pengecaman terbaru Korea Utara atas protes balon itu menyusul berbulan-bulan kefrustrasian atas keengganan Korea Selatan untuk menentang sanksi internasional pimpinan-AS terhadap Korea Utara.

Baca juga: Korea Utara Bangun Fasilitas untuk Simpan Rudal Balistik

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sopir Balap Liar Tewas Tabrak Pohon, Ini Video Detik-detik Sebelum Kecelakaan

Sopir Balap Liar Tewas Tabrak Pohon, Ini Video Detik-detik Sebelum Kecelakaan

Global
Trump Mengonfirmasi AS Luncurkan Serangan Siber terhadap Rusia

Trump Mengonfirmasi AS Luncurkan Serangan Siber terhadap Rusia

Global
Dikunjungi Influencer, Wanita Paling Kesepian di Dunia Berisiko Tertular Covid-19

Dikunjungi Influencer, Wanita Paling Kesepian di Dunia Berisiko Tertular Covid-19

Global
Ingin Kurangi Tingkat Obesitas, PM Inggris Larang Promosi 'Buy 1 Get 1' untuk Produk Junk Food

Ingin Kurangi Tingkat Obesitas, PM Inggris Larang Promosi "Buy 1 Get 1" untuk Produk Junk Food

Global
Rusia Khawatir atas Sejumlah Tuduhan yang Dialamatkan AS kepada China

Rusia Khawatir atas Sejumlah Tuduhan yang Dialamatkan AS kepada China

Global
Hagia Sophia Resmi Jadi Masjid, Umat Islam Dipersilakan Beribadah

Hagia Sophia Resmi Jadi Masjid, Umat Islam Dipersilakan Beribadah

Global
Pengantin Wanita, Ibunya dan 22 Tamu Undangan Positif Covid-19, Kawasan Wisata Spanyol Banyak Ditutup

Pengantin Wanita, Ibunya dan 22 Tamu Undangan Positif Covid-19, Kawasan Wisata Spanyol Banyak Ditutup

Global
Adik Kim Jong Un: Korea Utara Belum akan Berhenti Bikin Senjata Nuklir

Adik Kim Jong Un: Korea Utara Belum akan Berhenti Bikin Senjata Nuklir

Global
Hagia Sophia Jadi Masjid Lagi, AS Kecewa Minta Tetap Jadi Museum

Hagia Sophia Jadi Masjid Lagi, AS Kecewa Minta Tetap Jadi Museum

Global
Karyawannya Diminta Hapus TikTok, Amazon Klarifikasi itu Kesalahan

Karyawannya Diminta Hapus TikTok, Amazon Klarifikasi itu Kesalahan

Global
Dibuka Kembali, Ibu Kota Brasil Langsung Alami Lonjakan Covid-19

Dibuka Kembali, Ibu Kota Brasil Langsung Alami Lonjakan Covid-19

Global
Kazakhstan Bantah Adanya Wabah 'Pneumonia Tak Dikenal'

Kazakhstan Bantah Adanya Wabah 'Pneumonia Tak Dikenal'

Global
30 Tahun Olah Raga Seperti Monyet, Pria Ini Klaim Kesehatannya Terjaga

30 Tahun Olah Raga Seperti Monyet, Pria Ini Klaim Kesehatannya Terjaga

Global
Dirawat Intensif, Sopir Bus yang Diserang Penumpang ini Akhirnya Tewas

Dirawat Intensif, Sopir Bus yang Diserang Penumpang ini Akhirnya Tewas

Global
Kasus Perkosaan Disebut Seks Kasar, Ini Kisah 2 Korban Serangan Seksual di Inggris

Kasus Perkosaan Disebut Seks Kasar, Ini Kisah 2 Korban Serangan Seksual di Inggris

Global
komentar
Close Ads X