Kompas.com - 03/03/2021, 22:02 WIB
Ilustrasi tangyuan. Dok. Shutterstock/Romix ImageIlustrasi tangyuan.


KOMPAS.com - Bentuk tangyuan menyerupai wedang ronde, sama-sama bulat dan bertekstur kenyal. 

Makanan ini merupakan makanan wajib disantap selama perayaan Cap Go Meh atau Festival Lentera di China.

Tangyuan juga merupakan sajian asli Tiongkok yang mempengaruhi terciptanya wedang ronde di Indonesia.

“Sejarah tangyuan sudah ada berabad-abad lalu, bahkan sudah ribuan tahun. Secara historis sajian tangyuan menjadi sebuah keharusan karena makna filosofis," jelas Hasan Karman selaku budayawan peranakan Singkawang sekaligus mantan Walikota Singkawang 2007-2012.

Baca juga: Sejarah Tangyuan, Makanan asal China Asal-usul Wedang Ronde

Hasan menjelaskan filosofi tangyuan erat kaitan dengan reuni atau berkumpul kembalinya Yuanxiao (tokoh yang dikaitkan dengan sejarah tangyuan) dengan orang tua dan keluarganya.

Hasan  menjelaskan perhial tangyuan dalam acara webinar yang diselenggarakan Aksara Pangan, Seri Gastronomi Indonesia Cang Nyiat Pan pada Rabu (24/2/2021).

“Signifikansi budayanya adalah keluarga yang merayakan (Cap Go Meh) biasanya menikmati tangyuan bersama keluarga," jelasnya.

"Bentuk bulat tangyuan dan mangkuk yang digunakan merupakan simbol kebersamaan keluarga,” tambah Hasan.

Baca juga: Sejarah Wedang Ronde di Indonesia, Asimilasi Budaya Tionghoa dengan Nusantara

Bentuk bulat dalam budaya Tionghoa dapat diartikan sebagai simbol tuanyuan atau berkumpul bersama dengan orang yang dikasihi atau reuni keluarga.

Ilustrasi tangyuan, kuliner tradisional khas China.SHUTTERSTOCK/BADBOYDT7 Ilustrasi tangyuan, kuliner tradisional khas China.

Lafal untuk tuanyuan ini juga sangat mirip dengan lafal tangyuan, sehingga menjadi sebuah simbol.

Sementara rasa manis dan isi tangyuan, melambangkan hal-hal yang baik, manis, dan saling terikat dalam makna tuanyuan.

“Hidangan asli Tionghoa memang penuh simbol dan filosofi yang dalam,” ujar Hasan.

Baca juga: Resep Wedang Ronde Ubi, Lebih Pulen dan Mudah Digigit

Orang China banyak datang ke Indonesia dengan membawa budaya hingga makanan khas dari negaranya. Sajian ini diserap olah masyarakat Indoneisa dan dimodifikasi menjadi wedang ronde.

“Bahwa wedang ronde tidak ada filosofi reuni keluarga. Ronde hanya menjadi semacam snacks. Tidak ada nilai simbolis lagi seperti tangyuan,” jelas Hasan.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X