Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 14/07/2020, 19:06 WIB

KOMPAS.com - Dunia kuliner Indonesia baru saja kehilangan sosok penjual gudeg terkenal dan digadang sebagai penjual gudeg tertua di Yogyakarta yakni Mbah Lindu.

Nama Mbah Lindu akrab di telinga masyarakat Yogyakarta bahkan masyarakat luar Kota Gudeg itu.

Baca juga: Mbah Lindu Meninggal, Netizen Mengenang Penjual Gudeg Legendaris Yogyakarta Ini

Mbah Lindu meninggal dunia pada Minggu (12/7/2020) sekitar pukul 18.00 WIB, ia meninggal dunia pada usia 100 tahun.

Di balik kenikmatan dari Gudek Mbah Lindu ada beberapa fakta menarik dari gudeg legendaris di Yogyakarta ini, berikut faktanya: 

1. Sudah ada Sejak Zaman Kolonial

Banyak pihak yang mengklaim jika Mbah Lindu adalah penjual gudeg tertua di Yogyakarta. Mbah Lindu bahkan tak ingat pasti sudah berapa lama ia berjualan gudeg.

Namun, Mbah Lindu ingat betul bahwa ia berjualan sebelum memiliki suami, saat zaman kolonial.

Tempatnya berjualan dari dulu hingga kini tak berubah yaitu di di Jalan Sosrowijayan, tepatnya di pos depan Hotel Grage Ramayana. Berjarak kira-kira 300 meter saja dari Jalan Malioboro.

Dulunya Mbah Lindu harus berjalan sepanjang lima kilometer agar bisa berjualan di sana. Ia harus berjalan kaki dari rumahnya di kawasan Klebengan menuju Sosrowijayan, tempat jualan gudeg, mulai pukul 04.00 WIB.

2. Pernah Masuk Netflix

Sosok Mbah Lindu sebagai pembuat gudeg yang legendaris pernah diangkat dalam saluran menonton berbayar Netflix.

Baca juga: Selain Mbah Lindu, Penjual Kuliner di Yogyakarta Ini Berusia Lanjut dan Semangat Jualan

Netflix mendokumentasikan perjalanan kuliner khas Yogyakarta, salah satunya Mbah Lindu pada 2019 dalam serial berjudul Street Food: Asia.

3. Gudeg dimasak dengan cara tradisional

Gudeg buatan Mbah Lindu masih dimasak menggunakan cara tradisional, peralatan masak yang tradisional, dan dapur yang sangat sederhana.

Dinding dapurnya masih terbuat dari anyaman bambu dan tiang-tiangnya terbuat dari kayu.

Baca juga: Dinding Anyaman Bambu dan Tungku Tanah Liat Jadi Saksi Bisu Gudeg Legendaris Buatan Mbah Lindu

Tungku untuk memasak gudeg terbuat dari tanah liat yang memanjang. Dalam satu tungku terdapat dua lubang yang berfungsi untuk memasak.

Walaupun sudah ada kompor gas, Mbah Lindu tetap menggunakan kayu bakar.

Sebab, menggunakan kayu bakar dengan gas mempunyai tingkat panas yang berbeda. Terlebih lagi, kayu bakar membuat masakan gudeg menjadi terasa istimewa.

Gudeg olahan Mbah Lindu, YogyakartaTribun Jogja/Hamim Thohari Gudeg olahan Mbah Lindu, Yogyakarta

4. Displin soal rasa

Gudeg legandaris dari Mbah Lindu diturunkan turun temurun ke keluarganya. Mbah Lindu dikenang sebagai sosok juru masak yang tak pelit bumbu.

"Ibu saya itu sangat mempertahankan rasa, kalau adik saya masak itu, (Mbah Lindu) tambah ini, tambah ini. Kurang apa itu pasti tahu," tegas anak kedua Mbah Lindu, Lahono (60) saat ditemui di rumah duka, Klebengan, Depok, Sleman, Senin (13/07/2020) dikutip dari salah satu artikel Kompas.com.

Baca juga: Gudeg Mbah Lindu dan Nostalgia Masa Lalu Kota Yogyakarta

Mbah Lindu sudah belajar membuat gudeg sejak kecil. Pengalammnya meracik gudeg dari usia dini itu lah yang membuat Mbah Lindu sudah hafal dengan takaran bumbu.

Bahkan, Mbah Lindu tidak mau kompromi ketika berurusan dengan rasa. Baginya, mempertahankan cita rasa gudeg menjadi hal yang penting.

5. Sudah tak ikut jualan sejak dua tahun lalu

Momen saat tangan keriput Mbah Lindu meracik gudeg dan menjajakan ke pelanggan sebenarnya sudah tak terlihat sejak dua tahun lalu.

Mbah Lindu mulai tidak ikut jualan di Jalan Sosrowijayan sejak dua tahun lalu karena sudah tua.

Baca juga: 8 Tempat Makan Gudeg di Yogyakarta, dari Mbah Lindu sampai Yu Djum

Namun peran Mbah Lindu tak hilang sepenuhnya, saat proses produksi gudeg di rumahnya ia masih terjun membantu proses memasak gudeg.

Mbah Lindu dahulu pernah berpesan ketika dirinya meninggal dunia agar anak cucunya meneruskan jualan gudeg.

Saat ini aktivitas memasak dan menjual gudeg diteruskan oleh anak ketiganya, Ratiyah.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+