Kompas.com - 06/10/2021, 14:43 WIB
Pembelajaran Tatap Muka di SD N Piyaman 2 Wonosari, Gunungkidul Rabu (15/9/2021) KOMPAS.COM/MARKUS YUWONOPembelajaran Tatap Muka di SD N Piyaman 2 Wonosari, Gunungkidul Rabu (15/9/2021)

KOMPAS.com - Direktur Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), Sri Wahyuningsih mengatakan berdasarkan hasil studi pembelajaran di kelas menghasilkan pencapaian akademik yang lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

"Studi menemukan bahwa pembelajaran di kelas menghasilkan pencapaian akademik yang lebih baik dibandingkan dengan PJJ," papar Sri dalam webinar strategi pembelajaran tatap muka terbatas di masa pandemi, Selasa (5/10/2021).

Ia menyebut, adanya perbedaan akses dan kualitas selama PJJ pada masa pandemi telah mengakibatkan kesenjangan capaian belajar, terutama untuk anak dari sosio-ekonomi yang berbeda.

Baca juga: Pendataan KJP Plus SD-SMA Tahap 2 Tahun 2021 Dibuka, Ini Tahapannya

"Kekerasan pada anak pun kerap terjadi selama PJJ, baik kekerasan di rumah tanpa terdeteksi oleh guru maupun cyberbullying. Belum lagi risiko eksternal terjadi ketika anak tidak lagi datang ke sekolah. Terdapat peningkatan risiko untuk pernikahan dini, eksploitasi anak terutama perempuan dan kehamilan remaja,” tambah Sri.

Berdasarkan hasil survei INOVASI dan Puslitjak Kemendikbud Ristek, jelas dia, terjadi penurunan 0,44 – 0,47 standar deviasi (senilai 5-6 bulan pembelajaran) per tahun.

Kedua, lanjut dia, antara 0,8-1,3 tahun compounded-learning-loss dengan gap antara siswa miskin dan kaya meningkat menjadi 10 persen, menurut analisa Bank Dunia.

Ketiga, tingkat putus sekolah sebanyak 1,12 persen dengan perbedaan antara barat dan timur yang signifikan. Dan angka ini 10 kali lipat dari angka putus sekolah di jenjang SD tahun 2019. Anak putus sekolah didominasi dari keluarga tidak mampu secara ekonomi.

“Kemudian yang keempat, ada sebanyak 118.000 anak usia SD tidak bersekolah, menurut perkiraan Bank Dunia, di mana angka ini 5 kali lipat dari jumlah anak putus sekolah jenjang SD tahun 2019. Dan yang terakhir adalah dampak pembelajaran saat pandemi sangat minimal atau tidak ada, karena kurangnya dukungan dan latar belakang pendidikan orang tua dalam pembelajaran,” paparnya.

Baca juga: Kemendikbud Ristek Buka Beasiswa Microcredential 2021 bagi Guru

Karena itu, imbuh dia, pemerintah terus mendorong untuk diselenggarakannya pembelajaran tatap muka terbatas sesuai dengan protokol kesehatan yang mengacu kepada SKB 4 Menteri.

Namun, ia mengingatkan kembali bahwa pembelajaran tatap muka terbatas harus dipersiapkan sedemikian tertib.

"Dan minimal harus kerja sama dengan Kemenkes dan Satgas Penanganan Covid-19 tingkat kabupaten/kota dan sekolah," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.