Kemendikbud Resmikan Politeknik Multimedia Nusantara, Ini Prodi yang Ditawarkan

Kompas.com - 27/09/2021, 14:57 WIB
Politeknik Multimedia Nusantara Dok. UMNPoliteknik Multimedia Nusantara

KOMPAS.com - Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), terus mendorong tercapainya visi nasional dalam mewujudkan SDM unggul searah dengan kebijakan Presiden RI Jokowi.

Upaya tersebut diwujudkan dengan meresmikan Pendidikan Tinggi Vokasi Multimedia Nusantara Polytechnic (MNP). Kehadiran MNP menjadi harapan baru dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran vokasi, khususnya di bidang industri kreatif.

“Bapak presiden Jokowi sempat menyatakan bahwa dalam satu kesempatan, industri kreatif merupakan industri masa depan yang berperan besar sekali dalam membangun ekonomi nasional. Saya yakin, MNP akan menjadi jawaban untuk kebutuhan kita memiliki pelaku industri kreatif yang tidak hanya terampil, tetapi punya memiliki kompetisi manajerial, kreatif, dan berani berinovasi,” ucap Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, seperti dilansir dari laman Kemendikbud Ristek, Senin (27/9/2021).

Baca juga: Beasiswa S1 Korea Selatan, Kuliah Gratis dan Tunjangan Rp 10 Juta Per Bulan

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi), Wikan Sakarinto memaparkan beberapa upaya meningkatkan mutu pembelajaran vokasi di bidang industri kreatif.

Pertama, jelas dia, ialah meningkatkan pemahaman konteks dengan lebih kuat. Kedua, terkait kebijakan link and match dan link and super match.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Terkait poin pertama, Dirjen Wikan menyampaikan bahwa MNP akan menciptakan dampak hebat bagi Indonesia yang menjadi salah satu kunci kekuatan bangsa di masa depan dan akan menjadi pusat inovasi atau teaching factory.

Lalu, poin kedua terkait kebijakan link and match 8+i, menurutnya kebijakan utama dalam menerjemahkan merdeka belajar adalah dengan mengakomodasi delapan poin minimum link atau link and match 8+i, serta lebih terang-terangan untuk vokasi.

“Link and match bukan barang baru, ini sudah lahir tahun 1980-an. Kalau kita perhatikan, indeks produktivitas SDM, kita bicara bonus demografi, membicarakan kekuatan Indonesia 2025 akan menjadi top five dengan PDB terbesar di dunia, itu benar adanya. Tetapi kita punya tugas yang besar yaitu meningkatkan produktivitas SDM. Jadi di sini terlihat, yang jadi masalah bukan pada hard skills, tetapi lebih pada komitmen, soft skills, dan karakter,” terangnya.

Baca juga: Beasiswa S1 Oxford-Cambridge 2022, Kuliah Gratis dan Tunjangan Hidup

4 keluhan industri terhadap lulusan vokasi

Wikan, masih terdapat empat keluhan industri terhadap lulusan vokasi. Pertama adalah kurangnya ketahanan dalam menghadapi tekanan dunia kerja. Kedua, kemampuan komunikasi lisan dan tulisan yang kurang baik. Ketiga, kurangnya kemampuan kerja sama dan keempat kurangnya inisiatif dan mudah bosan, itu terkait soft skills dan karakter.

“Link and match ini jangan hanya penandatanganan MoU saja, tetapi juga harus bisa menghasilkan sebuah produk yang bisa dihilir ke pasar industri dan masyarakat,” tegasnya lagi.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.