Kompas.com - 05/08/2021, 19:00 WIB
Ilustrasi remaja DOK. PIXABAYIlustrasi remaja

KOMPAS.com - Penurunan aktivitas fisik baik di dalam maupun di luar sekolah, gangguan pola makan, kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji dari luar rumah, dan buruknya keberagaman makanan, merupakan faktor yang berkontribusi pada tiga masalah gizi (triple burden of malnutrition) di kalangan remaja di Indonesia.

Ketiga masalah gizi tersebut adalah kekurangan gizi, kelebihan berat badan, dan kekurangan zat gizi mikro dengan anemia.

Jika tidak ditangani secara baik dan sesegera mungkin, permasalahan gizi remaja akan berkontribusi pada berbagai penyakit kronis di kemudian hari.

Kondisi tersebut dipaparkan dalam penelitian tentang gizi remaja di Indonesia hasil kolaborasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), UNICEF, Wageningen University & Research, dan Sight and Life.

Baca juga: 10 Pekerjaan yang Bakal Naik Daun di Indonesia 5 Tahun Mendatang

Gizi sebagai "modal" mencetak generasi emas

Prof Dwiana Ocviyanti, selaku Wakil Dekan bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan UI menyampaikan masalah gizi pada remaja merupakan langkah awal dan langkah penting untuk mendapatkan generasi emas.

Sebab menurutnya, masa remaja merupakan periode penting dalam membentuk perilaku yang berkaitan dengan kesehatan dan gizi.

"Remaja kita memiliki beban masalah gizi, selain anemia pada remaja putri, kurang energi kronik (KEK), dan juga obesitas. Tiga hal ini sama-sama tidak menguntungkan untuk generasi emas kita, karena (kelak) mereka akan menghasilkan bayi-bayi (keturunan) yang bermasalah," paparnya seperti dirangkum dari laman Universitas Indonesia, Kamis (5/8/2021).

Ia berharap, melalui pertemuan tersebut, FKUI dapat memberikan masukan, rencana intervensi, serta penelitian lanjutan, untuk melahirkan rekomendasi program yang efektif agar dapat memperbaiki masalah kesehatan dan gizi masyarakat Indonesia.

Baca juga: Ahli Gizi UGM: Pilihan Makanan untuk Tingkatkan Daya Tahan Tubuh

Sementara itu, hasil penelitian Rina Agustina, Ketua Klaster HNRC IMERI dan Staf Departemen Ilmu Gizi FKUI-RSCM, menyebutkan bahwa peningkatan masalah kegemukan atau obesitas pada remaja, saat ini berada pada titik yang mengkhawatirkan.

Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, tren prevalensi kegemukan dan obesitas pada remaja meningkat secara signifikan selama periode 2013 hingga 2018.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.