Kompas.com - 28/04/2021, 18:30 WIB
Kapal Selam TNI Angkatan Laut KRI Nanggala-402 berlayar di perairan Tuban, Jawa Timur, Indonesia, seperti terlihat pada foto udara yang diambil dari helikopter TNI AL Skuadron 400 Udara, pada foto Senin, 6 Oktober 2014 ini. APKapal Selam TNI Angkatan Laut KRI Nanggala-402 berlayar di perairan Tuban, Jawa Timur, Indonesia, seperti terlihat pada foto udara yang diambil dari helikopter TNI AL Skuadron 400 Udara, pada foto Senin, 6 Oktober 2014 ini.

KOMPAS.com - Kapal Selam KRI Nanggala-402 yang hilang kontak di perairan Bali, Rabu (21/4/2021) dini hari masih terus dilakukan upaya pencariannya.

Saat ini proses evakuasi tengah diupayakan oleh petugas berwenang dengan dengan maksimal. Apalagi, pemerintah telah mengumumkan adanya citra terbaru jika kapal tersebut terbelah menjadi tiga.

Menanggapi peristiwa ini, beberapa pakar bidang Teknik Kelautan dan Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) angkat bicara.

Dosen Teknik Kelautan ITS, Wisnu Wardhana menyebut kapal yang diproduksi di tahun 1980-an ini dirancang untuk bisa tenggelam pada kedalaman 300 meter.

Sementara di usia kapal yang memasuki 40 tahun ini, ia mengungkapkan bahwa kemampuan menyelam kapal diperkirakan berkurang hingga 200 meter.

Baca juga: Begini Skema Beasiswa bagi Anak Prajurit KRI Nanggala 402

“Pada titik ini, kemampuan hidrolastik yang tidak lebih dari 20 bar dipaksa menerima tekanan empat kali dari kemampuannya,” ujarnya dilansir dari laman resmi its.ac.id.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Secara teknis ia mengungkapkan, pressure hull atau daerah kedap di kapal selam merupakan area di mana tekanan bisa diatur, sehingga manusia dan berbagai alat teknis diletakkan di tempat tersebut.

Namun, ia mengatakan pada proses terjun hingga kedalaman 833 meter (tempat di mana ditemukan), pressure hull mungkin mengalami kerusakan hingga akhirnya pecah.

“Kondisi tersebut yang menyebabkan kapal selam mati, hingga akhirnya terjun dan menabrak,” ungkapnya.

Ia mengatakan, sistem keamanan dan penyelamatan adalah substansi utama yang harus ditindaklanjuti.

Baca juga: Kisah Sukses Gibran Budidaya Lele hingga Bangun Fishtech Terbesar Dunia

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X